Kapankah Wabah Covid-19 Berakhir?
Selasa, 14 April 2020 | 8:15 WIB

SM 14_04_2020 Kapankan Wabah Covid-19 Berakhir

Oleh Jessica Christanti

WABAH virus korona atau Coronavirus disease 2019 (Covid- 19) yang melanda hampir seluruh dunia telah menyebabkan banyak kerugian baik dari sisi material maupun nonmaterial. Aktivitas kehidupan menjadi terbatas, karena salah satu tindakan preventif yang dilakukan untuk memerangi Covid- 19 adalah dengan physical distancing( jarak fisik).

Kegiatan-kegiatan yang menyebabkan keramaian untuk sementara sangat dihindari untuk mencegah penyebaran Covid-19. Aktivitas ibadah keagamaan mulai dilakukan secara sendiri atau melalui online. Aktivitas kerja dan belajar sebisa mungkin dilakukan secara online atau work from home (WFH). Aktivitas perekonomian menjadi terhambat. Ancaman tidak dapat mudik Lebaran pada tahun ini semakin nyata, sehingga banyak keluh kesah masyarakat mengenai kapan wabah ini dapat berakhir?

Jawaban atas pertanyaan: kapankah wabah Covid-19 berakhir? Dapat dijelaskan dengan teori enam fase perjalanan wabah penyakit menurut World Health Organiztion (WHO). Pada 2009, saat itu beberapa wilayah di dunia mengalami wabah virus flu burung atau H1N1. WHO melihat proses perjalanan wabah saat itu pada fase satu sampai tiga meliputi fase di mana virus mengalami mutasi pada hewan hingga mulai menginfeksi manusia. Kemudian fase empat adalah virus mulai dapat menular antarmanusia, namun masih dalam satu wilayah. Berikutnya, fase lima sudah terdapat minimal dua negara yang terkana wabah virus. Adapun fase enam, sudah ada penyebaran antarnegara yang berbeda dengan negara asal wabah tersebut.

Menurut WHO, fase satu sampai tiga wabah korona sudah dimulai sejak 1960, saat itu virus korona kali pertama diketemukan. Saat itu virus korona hanya menginfeksi pada binatang peliharaan unggas. Virus digambarkan sebagai protein asam amino yang dapat berkembang biak dalam sel tertentu pada makhluk hidup. Saat itu virus dengan bentuk seperti mahkota ini belum dapat hidup pada sel manusia. Seiring dengan perjalanan waktu, virus ini bermutasi dan dapat hidup pada sel manusia.

Pada 2002, virus korona bermutasi dan menyebabkan suatu penyakit Severe acute respiratory syndrome (SARS), dan tahun 2012 bermutasi kembali menyebabkan Middle eastern respiratory syndrome (MERS). Kedua penyakit ini menginfeksi pada saluran nafas dengan gejala ringan sampai berat yang menyebabkan sesak bernafas.

Adapun fase empat dimulai pada Desember 2019, virus korona diduga berubah bentuk atau bermutasi lagi menjadi virus Covid-19 di Wuhan, Tiongkok. Saat itu social distancing (jarak sosial) secara massal terjadi mulai dari Januari 2020 hingga saat ini. Pada Februari 2020, penyebaran wabah ini mulai menjalar ke berbagai negara di Asia yang menandakan fase lima dimulai.

Status Pandemi

Pada pertengahan Maret 2020, WHO mengumumkan status pandemi wabah Covid-19. Status pandemi berarti sudah banyak negara yang mengalami wabah Covid-19 atau dengan kata lain pada Maret 2020 sudah memasuki fase enam. Fase enam ini disebut juga sebagai fase pandemi. Seluruh negara saat ini mulai bekerja sama dalam menghadapi suatu musuh yang sama dan tidak kasat mata ini. Pihak-pihak yang sedang berselisih untuk sementara melakukan gencatan karena wabah Covid-19.

Pada fase enam atau fase pandemi ini, oleh penulis digambarkan dengan istilah infinity wars (perang tanpa batas), yang diambil dari salah satu film Marvel Cinematic Universe berjudul Avenger: Infinity Wars yang disutradarai oleh Russo bersaudara. Film Marvel ini terdiri atas berbagai fase yang dimulai dari perkenalan para superhero hingga akhirnya bersatu dalam film Avengers. Pada film Infinity Wars, para superhero baik yang ada di bumi maupun luar angkasa berperang menghadapi satu musuh yang sama yakni Thanos (The Mad Titan) yang akhirnya berhasil menghilangkan setengah populasi makhluk hidup di alam semesta. Hal ini sama juga yang terjadi pada wabah Covid-19 saat ini, meskipun jumlah kematian tidak sebanyak dalam film Infinity Wars, di mana menurut WHO sekitar 2%.

Tingkat mortalitas ini sangat bergantung dari upaya tindakan preventif, antara lain physical distancing, hand hygiene, etika batuk, dan pemakaian alat pelindung diri (APD). Kemudian promotif atau sosialisasi ke masyarakat, kuratif (kecepatan dan ketepatan diagnosis dan pemberian terapi), serta rehabilitatif.

Setelah fase pandemi, akan muncul suatu fase lagi yang disebut fase post peak. Fase post peak ini ditandai dengan mulai berkurangnya jumlah insiden kasus Covid-19 secara global. Berbagai berita yang menyenangkan mengenai turunnya kasus Covid-19 inilah yang sebenarnya perlu kita waspadai bersama. Pada akhir Maret 2020, insiden Covid-19 mengalami penurunan jumlah kasus secara global, namun hal ini masih berbeda dari kondisi di beberapa wilayah yang masih menunjukkan tren peningkatan kasus, termasuk di Indonesia.

Pada fase post peak ini ditandai dengan populasi masyarakat yang selamat dari fase pandemi sudah memiliki kekebalan tubuh atau antibody terhadap Covid-19. Namun perlu diingat pada beberapa wilayah, wabah Covid-19 masih sangat tinggi. Sehingga, bila populasi yang sehat ini masih kontak dan terinfeksi oleh populasi yang masih mengalami wabah Covid-19, akan terjadi suatu penyakit infeksi Covid-19 untuk kali kedua atau secondary infection. Secondary infection ini yang banyak ditakutkan sebab belum dapat diramalkan secara pasti apa yang akan terjadi pada fase ini. Bisa jadi antibody yang muncul menyebabkan infeksi menjadi lebih ringan atau sama dengan infeksi pertama, bahkan lebih berat.

Pemecahan masalah untuk kasus pada fase post peak adalah dengan vaksinasi. Namun vaskinasi masih sulit karena virus korona ini mudah sekali mengalami mutasi. Pada tahap ini selain tindakan preventif masih tetap harus dilakukan, perlu juga ditambah dengan pembatasan perpindahan masyarakat antarwilayah atau domestic travel restriction. Bila hanya mengandalkan antibody yang ada dalam tubuh tanpa melakukan tindakan preventif dan domestic travel restriction, maka tingkat kematian pada fase ini dapat semakin meningkat dibandingkan fase sebelumnya.

Fase second wave atau gelombang kedua ini diistilahkan oleh penulis sebagai the endgame dalam serial Marvel. Pada serial ini dr Strange sebagai salah satu karakter superhero hanya dapat memprediksi presentase kemenangan. Pada film ini juga diceritakan perlu adanya pengorbanan dalam memenangkan perang melawan Thanos atau The Mad Titan.

Adapun saat ini, wabah Covid- 19 secara global memasuki antara fase enam (pandemi) dan fase post peak. Fase ini ditandai dengan kabar menggembirakan yaitu penurunan kasus baru, namun tidak menutup kemungkinan terjadinya fase gelombang kedua yang belum dapat dipastikan. (46)

dr Jessica Christanti MKes, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Soegijapranata

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/225872-kapankah-wabah-covid-19-berakhir

Suara Merdeka 14 April 2020 hal. 4

Kategori: , ,