Gangguan Psikologis Covid-19
Rabu, 29 April 2020 | 8:42 WIB

SM 29_04_2020 Gangguan Psikologis Covid-19

Oleh Augustina Sulastri

TRANSMISI lokal Covid-19 masih terus terjadi di berbagai belahan dunia. Kasus baru pasien terinfeksi yang paling merepotkan adalah transmisi lokal karena adanya karier asimtomatik atau yang disebut orang tanpa gejala (OTG). Peneliti Tiongkok, Feng Ye dkk (2020), menyatakan bahwa fokus saat ini mestinya adalah pada antisipasi kemungkinan OTG yang dapat menjadi penyebab munculnya kasus baru.

Teror penyebaran virus Covid-19 dan faktor risiko penyebab gangguan psikologis tampaknya memiliki sifat yang sama. Keduanya tidak terlihat sedang ada di mana atau berpotensi akan menjangkiti siapa.

Menghadapi musuh virus tidak kasat mata yang bisa berada di manapun disertai ancaman agresivitas penularannya (highly contagious) diyakini dapat memicu munculnya berbagai gangguan psikologis. Gangguan stres, anxiety (kecemasan), curiga berlebihan sebagai simtom awal gangguan paranoia dan bahkan sebagian simtom patologi sosial (Diagnostic Statistical Manual/DSM 5) mulai terdeteksi muncul di masyarakat, termasuk di Jawa Tengah. Simtom dari patologi sosial yang mulai muncul adalah rendahnya rasa tanggung jawab, pengabaian keselamatan orang lain, tidak memiliki rasa bersalah dan impulsif.

Deteksi dini dan antisipasi terhadap kemungkinan gangguan psikologis pada masa pandemi Covid-19 menolong pemulihan individu dan masyarakat yang lebih komprehensif, melengkapi pemulihan dari sisi kesehatan dan ekonomi.

Zona Psikologis

Annastasia Ediati (2020) mengadaptasi zona-zona psikologis sebagai acuan deteksi kondisi psikologis pada masa pandemi. Zona ini terbagi tiga, yaitu zona takut (fear zone), zona belajar (learning zone) dan zona bertumbuh (growing zone).

Individu berada di zona takut apabila mudah marah, sering mengeluh (bosan karena lebih banyak berada di rumah), merasa curiga atau takut terhadap orang lain, membeli barang secara berlebihan/panic buying (seperti vitamin atau obatobatan) dan lain sebagainya.

Individu bergerak menuju zona belajar jika mulai mampu mengendalikan diri dan mengenali emosi sehingga merasa tenang, mampu menyeleksi berita-berita terkait Covid-19 yang penting bagi diri sendiri, tidak lagi belanja berlebihan, serta mulai menerima kenyataan hidup yang berbeda pada masa pandemi.

Zona bertumbuh ditandai dengan kemampuan diri untuk mulai memikirkan orang lain dan menyumbangkan kemampuan, berbelas kasih pada yang membutuhkan, tetap merasa bahagia dan optimistis, serta mulai fokus di saat ini (here and now) bahkan membuat rencana untuk masa depan.

Seperti halnya penyebaran virus Covid-19 yang mengenal first wave, second wave dan mungkin bergelombang seterusnya mengingat beragamnya masyarakat Indonesia dari sisi sosiologis dan demografis, dinamika zona psikologis individu dan masyarakat juga erat terkait dengan gelombang penyebaran dan, terutama, penanganan Covid-19.

Secara umum, pola awal yang dapat dideteksi adalah perbedaan dinamika perkembangan zona psikologis yang terjadi di kota besar, terutama episenter Jakarta, dan kota kecil atau pedesaan.

Gelombang pertama simtom zona takut lebih dulu menjangkiti masyarakat di kota besar. Panic buying, cemas, curiga dan takut hingga terjadinya penolakan pada perawat telah dilalui oleh masyarakat kota besar, terutama Jakarta, pada masa awal penyebaran. Saat ini sebagian besar anggota masyarakat di kota besar terlihat telah bergerak dari zona takut menuju zona belajar bahkan bertumbuh. Ditandai dengan munculnya gerakan filantropik mandiri membantu kebutuhan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan ataupun membantu masyarakat yang kurang mampu.

Gelombang kedua kemunculan simtom zona takut yang terjadi pada masyarakat di daerah (luar Jakarta) adalah saat mulai munculnya kasus baru akibat transmisi lokal (klaster Bogor dan Bandung), diikuti dengan serangkaian transmisi lokal lain.

Oleh karena potensi penyebaran yang luas dan masif ini akhirnya pemerintah pusat menetapkan secara serentak pemberlakuan kebijakan pemutusan mata rantai penyebaran berupa kebijakan bekerja dan belajar dari rumah serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan jaga jarak sosial (social distancing).

Untuk kondisi sekarang ini sejalan dengan semakin sulitnya memprediksi penyebaran virus Covid-19 ada di mana dan sedang menjangkiti siapa, demikian pula bahaya laten gangguan psikologis.

Kepastian Pengendalian

Telah lebih dari satu bulan diberlakukannya kebijakan social/physical distancing dengan bekerja dan belajar dari rumah. Pada awal masa pemberlakuan ada harapan besar dari masyarakat bahwa penyebaran akan lebih terkendali, namun yang terjadi justru sebaliknya. Berita-berita negatif Covid- 19 justru membanjiri masyarakat.

Penyebaran yang semakin masif dan meluas, lambatnya prosedur dan pelaksanaan pengetesan, tumbangnya dokter-dokter dan perawat serta terus meningkatnya angka orang yang terinfeksi dan meninggal. Di sisi lain, perlambatan ekonomi telah mulai nyata dan menambah beban stres dan kecemasan masyarakat.

Pertanyaan besar kapan pandemik akan berakhir, atau minimal terkendali, potensial menjadi sumber kognisi dan emosi negatif yang baru pada saat ini. Selain kembali munculnya rasa cemas dan takut, sebagian masyarakat di daerah justru tampak mulai apatis sehingga tidak peduli dengan anjuran social distancing atau pun bekerja dari rumah.

Produk kebijakan terbaru di Jawa Tengah, Jogo Tonggo, dapat berdampak positif jika dibarengi dengan penguatan kemampuan utama pemerintah dalam pengendalian penyebaran Covid-19: detect, contact-trace, test, dan isolate. Pemerintah provinsi bekerja sama dengan pemerintah daerah perlu sesegera mungkin membuat serial informasi edukasi yang wajib disebarkan oleh para ketua RW/RT terkait SOPEarly Detectiondan self-reporting yang terstruktur disertai dukungan penguatan tenaga kesehatan dan fasyankes hingga tingkat desa.

Survei yang dilakukan Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (APKI) terhadap 213 tenaga kesehatan di Jawa Tengah menunjukkan bahwa hal yang paling berguna saat ini adalah adanya koordinasi antarlembaga pemerintah yang lebih baik, penyebaran informasi kesehatan yang jelas dari pemerintah, serta gerakan positif mendukung nakes. Jangan lagi buangbuang waktu percuma, fokus kesehatan tetap menjadi yang utama (health before wealth). Jika transmisi lokal terkendali, maka kemunculan gangguan psikologis akibat Covid-19 yang menyertai perlahan akan tereliminasi, selanjutnya, roda ekonomi dapat bergulir kembali.(34)

Dr Augustina Sulastri Psi, dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata; anggota Tim Kajian Tanggapan Cepat Covid-19 Jawa Tengah.

►Suara Merdeka 29 April 2020 hal. 4

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/227458-gangguan-psikologis-covid-19

Kategori: , ,