FTP Unika Adakan Seminar Online “Nutrisi Ala Milenial”
Rabu, 29 April 2020 | 13:53 WIB

Dua narasumber dan moderator webinar “Nutrisi Ala Milenial”, (sebelah kiri sebagai  narasumber) Meiliana, S.Gz, MS, (tengah sebagai moderator) Mellia Harumi, M.Sc. (sebelah kanan sebagai narasumber ) Dea N. Hendryanti, S.TP, MS

Pada Selasa (28/4), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata telah menyelenggarakan seminar “Nutrisi Ala Milenial” secara online yang pertama kali melalui platfrom e-learning.unika.ac.id dan diikuti oleh 106 peserta yang berasal dari berbagai kalangan dari mahasiswa Unika, siswa SMA, dosen, pekerja, hingga peneliti. Dalam seminar tersebut hadir dua narasumber dari FTP Unika yakni Meiliana, S.Gz, MS dan Dea N. Hendryanti, S.TP, MS.

Generasi milenial (kelahiran 1980-1995) dan generasi Z (kelahiran tahun 1995-2010) adalah generasi yang dituntut untuk bisa bekerja secara multi-tasking. Tidak jarang generasi milenial mengalami stres saat bekerja. Padahal, kondisi stres dapat berpengaruh terhadap menurunnya sistem imunitas tubuh. Oleh sebab itu, generasi milenial perlu memperhatikan kecukupan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi untuk menjaga dan meningkatkan sistem imunitas tubuh. Sehingga cara penyajian makanan pun harus disesuaikan dengan gaya milenial.

Salah satu panduan makan yang baik tertera dalam Pedoman Gizi Seimbang. Pedoman Gizi Seimbang tahun 2014 merupakan panduan makan yang baik supaya bisa tetap sehat bagi masyarakat Indonesia. Beberapa di antaranya adalah mengonsumsi beraneka ragam makanan, mensyukuri dan menikmati keanekaragaman makanan, makan dengan porsi yang cukup dan pola waktu makan yang teratur, menambah asupan sayur dan buah, serta mengurangi asupan gula tambahan, garam dan lemak.

“Selain itu, hal lain yang juga bisa dilakukan adalah dengan menerapkan mindful eating, yaitu menyadari dan menikmati apa yang kita makan. Dengan mengontrol pola pikir, suasana hati dan menikmati makanan yang kita makan, itu akan membantu membangun imunitas kita. Tentunya juga ditunjang dengan kegiatan lain seperti berolahraga, mengobrol dengan teman melalui berbagai aplikasi digital yang ada saat ini, tidur yang cukup, bermeditasi, dan melakukan kegiatan yang membuat kita bahagia,” ungkap Meiliana dalam sesi seminar.

Namun seringkali yang menjadi kendala bagi generasi milenial dalam menyiapkan makanan adalah waktu. Mereka perlu makanan yang bervariasi sementara tugas dan pekerjaan menunggu. Terkadang rasa malas untuk memasak muncul karena membutuhkan waktu yang lama.

Sebenarnya hal ini dapat diatasi dengan cara membuat perencanaan daftar bahan makanan yang dibutuhkan untuk satu minggu ke depan. Kita bisa menyiapkan terlebih dahulu bahan-bahan yang dibutuhkan saat weekend, mengolahnya, memotong-motong bahan pangan dan menyimpannya di kulkas. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk memasak nantinya bisa menjadi lebih cepat.

“Makanan instan sebenarnya juga membantu kita karena mudah dimasak dan dimakan. Yang kurang tepat adalah apabila kita makan makanan instan saja. Sehingga, kita bisa memodifikasi dengan membuat produk tersebut menjadi lebih berwarna. Misalnya, membuat mie instan yang ditambah sayur, tomat, telur, atau daging ayam. Atau omelet telur dengan isian macam-macam jamur dan sayur. Makanan lainnya yang digemari generasi milenial adalah cream soup yang bisa ditambahkan jagung. Atau membuat roti yang disajikan dengan sayur, tomat, dan keju. Ada banyak makanan yang mudah cara membuatnya,” papar Meiliana.

Sementara itu, Dea N. Hendryanti dalam sesinya menyampaikan mengenai pentingnya nutrisi bagi imunitas tubuh dan manajemen stres. “Banyak dari kita yang mengalami stres atau tegang saat bekerja, bahkan tak jarang menjadi sulit tidur, khususnya menghadapi situasi saat ini. Nutrisi dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi bisa membantu meredakan gejala stres dan susah tidur. Salah satunya adalah dengan banyak mengonsumsi buah dan sayur, dan makanan seimbang,” ungkap Dea.

Makanan yang tinggi mineral seng, magnesium dan tinggi vitamin C dapat menurunkan hormon kortisol yang menyebabkan stres. Mengonsumsi jus jeruk bisa menurunkan hormon stres karena kandungan vitamin C di dalamnya. Atau bisa juga dengan mengonsumsi buah pisang yang dapat menurunkan hormon kortisol atau stress hormone, serta memproduksi serotonin yang membuat rasa bahagia.

Kita juga bisa mengonsumsi probiotik yaitu makanan yang mengandung bakteri baik yang tumbuh di saluran pencernaan manusia. Sumber makanannya seperti kimchi, yogurt, kefir, dan produk susu fermentasi lainnya. Probiotik ini dapat membantu menjaga sistem kekebalan tubuh.

Green tea dapat menurunkan ketegangan, baik untuk dikonsumsi saat pagi karena mengandung kafein sehingga bisa membuat tubuh kita menjadi lebih rilkes, tidak tegang dan tetap bisa bekerja karena tidak mengantuk. Sementara untuk malam hari, kita bisa menikmati chamomile tea yang dapat meningkatkan hormon serotonin dan melatonin. Ketika malam hari, hormon serotonin dapat berubah menjadi melatonin dan membantu tidur nyenyak.

Dea berharap semoga apa yang disampaikan dalam seminar online ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pada kondisi saat ini di mana nutrisi dalam asupan sehari-hari memegang peranan penting dalam membantu menjaga imunitas tubuh. Ia berharap akan adanya seri selanjutnya untuk kuliah umum online ini.

(B. Agatha)

Kategori: ,