Eli, Eli, Lama Sabachthani! Renungan Jumat Agung 2020
Sabtu, 11 April 2020 | 8:09 WIB

Oleh: Aloys Budi Purnomo
Kepala Campus Ministry dan mahasiwa Program Doktor Ilmu Lingkungan
Unika Soegijapranata Semarang

“Eli, Eli, Lama Sabachthani!.”

Kalimat dalam Bahasa Ibrani ini dalam Bahasa Indonesia berarti, “Allahku, ya Allahku, mengapa Kau tinggalkan Aku?” (Matius 27:46).

Kalimat ini menjadi salah satu dari tujuh sabda kunci yang diucapkan Yesus ketika disalibkan di Golgota.

Sabda itu menjadi sangat relevan dan signifikan direnungkan hari-hari ini, ketika manusia di seluruh dunia tersiksa dan terluka akibat pandemi virus corona.

Wabah yang awalnya menjadi ancaman bagi kesehatan manusia itu, kini telah mengubah wajah dunia secara global dengan segala dimensinya.

Konteks sabda

Sabda Yesus berada dalam konteks dilematis kala itu.

Di satu pihak, tak ada kesalahan sebagai alasan bahwa Ia harus mengalami hukuman dan penderitaan secara manusiawi itu.

Di lain pihak, kesetiaan Yesus kepada kehendak Bapa demi keselamatan manusia membawa konsekuensi tragis, yakni penderitaan penyaliban.

Dalam kondisi dilematis itu, Yesus dicekam disolasi mendalam, yakni merasa terpisah dari dan ditinggalkan Allah.

Dalam konteks itu, kalimat itu menjadi kalimat abadi justru karena diserukan dengan segenap perasaan hancur oleh Yesus.

Kalimat itu diteriakkan oleh Yesus saat Ia tergantung pada kayu salib di Puncak Kalvari atau sering disebut juga Golgota.

Matius mencatat dan mewartakan seruan, jeritan, dan teriakan itu kepada kita.

Jeritan itu tidak pernah dihapus dari Injil, tak juga disembunyikan, atau ditutup-tutupi.

Jeritan dalam kehancuran oleh Yesus itu menjadi penggenapan nubuat dari Kitab Mazmur 22:2.

Jeritan dalam penderitaan dan kehancuran itu sesungguhnya adalah doa.

Jeritan doa itu diserukan Yesus, saat Ia membawa pengalaman kehancuran ekstrem dalam doa-Nya kepada Allah, yang disebut dan diperkenalkan kepada kita sebagai Bapa semua orang yang tanpa diskriminasi.

Fakta salib adalah kehancuran, pengkhianatan, pengabaian dan penolakan.

Pada zaman itu, salib adalah kebodohan bagi orang bukan Yahudi dan bagi orang Yahudi suatu batu sandungan (1Korintus 1:23).

Namun, kebodohan dan batu sandungan itu oleh kehancuran yang dialami Yesus diubah menjadi tanda kemenangan dan keselamatan (1Korintus 1:18).

Dalam konteks itulah, maka, seruan, “Eli, Eli, lama Sabachthani!” tidak disembunyikan dan dihapus meski diteriakkan oleh Yesus dalam kehancuran dan penderitaan-Nya di kayu salib.

Mengapa?

Sebab, Yesus melakukan-Nya demi keselamatan kita, demi keselamatan umat manusia yang tidak akan pernah bisa lepas dari masalah, penderitaan, dan kehancuran.

Semua itu terjadi demi kita manusia, demi kasih Allah dan untuk melayani kita.

Meminjam permenungan Paus Fransiskus dalam homilinya Minggu Palma (4/4/2020), Yesus mengalami pengabaian total dalam suatu situasi yang belum pernah Ia alami sebelumnya untuk menjadi satu dengan kita dalam segala hal.

Dia melakukannya untuk saya, untuk Anda, untuk meneguhkan pengharapan kita, di saat kita pun merasa ditinggalkan Allah ketika sedang mengalami berbagai macam penderitaan, kehancuran, bahkan dalam arti tertentu kematian yang tak lagi sanggup kita tanggung.

Tetap Berpengharapan

Maka, jeritan doa itu bukan jeritan keraguan, keputusasaan, atau ketidakpercayaan akan kehadiran Allah dalam penderitaan, kehancuran, dan kematian.

Sebaliknya, jeritan doa itu menjadi jeritan pengharapan, pembelajaran, bahkan peneguhan terhadap kita di saat kita harus mengalami kesulitan, kehancuran, kengerian hidup, dan kematian yang sama.

Maknanya, ketika kita menghadapi jalan buntu; saat kita berada dalam kegelapan tanpa cahaya dan seolah-olah tidak ada jalan keluar; kita harus tetap mengingat, tetap berharap, dan percaya bahwa Allah tidak meninggalkan kita sendirian.

Di tengah pandemi Covid-19 yang menyesakkan ini, Yesus mengajak kita untuk tetap memiliki pengharapan yang kuat bahwa penderitaan ini pasti berlalu.

Maka, jeritan “Eli, Eli, lama Sabachthani!” juga memiliki arti positif.

Dengan jeritan itu, Yesus ingin memberi tahu kita, bahwa ketika kita berada dalam kehancuran, dan merasa ditinggalkan dalam kesengsaraan, kita tidak perlu takut. Kita tidak sendirian.

Yesus telah mengalami semua kesedihan, kehancuran dan penderitaanmu.

Ia selalu dekat dengan kita. Jangan takut!

Sejarah penyaliban Yesus membuktikan kebenaran harapan itu.

Yesus turun ke dalam penderitaan manusia yang paling pahit, yang memuncak dalam pengkhianatan dan penolakan.

Dia memberikan hidup-Nya sebagai pengampunan atas dosa-dosa kita melalui solidaritas-Nya dengan penderitaan dan kematian kita.

Semua hal buruk bukanlah akhir dari segalanya.

Setelah penderitaan, kehancuran dan kematian selalu ada kebahagiaan, pemulihan, dan kehidupan baru.

Hari-hari ini, dalam tragedi pandemi Covid-19 ini, di hadapan banyak keamanan palsu yang kini telah runtuh, di hadapan begitu banyak harapan yang dikhianati, dalam arti perasaan ditinggalkan yang membebani hati kita, Yesus berkata kepada kita masing-masing: “Jangan takut! Buka hatimu untuk cinta-Ku.

Anda akan merasakan penghiburan dari Allah yang menopangmu sebab Allah tak pernah berhenti mengasihimu!”

—–

https://jateng.tribunnews.com/amp/2020/04/10/eli-eli-lama-sabachthani-renungan-jumat-agung-2020?page=all

Kategori: ,