Covid-19 dan Keamanan Pangan
Kamis, 30 April 2020 | 8:12 WIB

SM 30_04_2020 Covid-19 dan Keamanan Pangan

Oleh Budi Widianarko

PENGALAMAN bermukim di Taiwan dua tahun lalu sempat memberi “pelajaran” baru kepada penulis tentang perilaku keseharian yang terkait dengan kesehatan. Salah satu yang paling mengesankan adalah perilaku bersin atau batuk. Jangan sekali-sekali kita batuk atau bersin di ruang publik, apalagi di dalam kendaraan umum seperti bus dan kereta api.

Rasanya seperti sebuah aib yang berat disangga ketika kita terpaksa bersin atau batuk di dalam ruang kantor, kafe, restoran, pasar swalayan, atau mal dan bahkan saat kita mengenakan masker sekalipun.

Jika ada seseorang yang batuk di dalam bus, misalnya, bisa dipastikan semua kepala akan menoleh padanya. Memang tidak akan ada yang menegur, tetapi “hujan” tatapan mata sudah cukup untuk menghakimi sosok yang batuk.

Setiap hari baik di jalan menuju kampus, di dalam kampus, di taman-taman atau di kawasan pusat bisnis, hampir bisa dipastikan penulis berjumpa dengan orang yang mengenakan masker. Jangan dibayangkan mereka sedang hidup dalam suasana pandemi. Mengenakan masker saat merasa kurang enak badan atau ada gejala flu adalah hal yang biasa.

Perilaku lain yang juga mengesankan penulis adalah kesadaran tentang physical distancing (penjarakan fisik) yang sudah berjalan otomatis dan spontan saat warga berada dalam antrean. Saat kita antre untuk membayar belanjaan kita di kasir pasar swalayan, misalnya, jangan harap akan ada pembeli lain yang “ndhesel” atau sekadar berdiri dalam jarak yang dekat dengan kita.

Semula penulis sempat beranggapan banyak warga Taiwan yang “lebai” (over-protecting) dalam menggunakan masker. Begitu pula penulis mengandaikan bahwa penjarakan fisik ini terkait dengan penghargaan terhadap ruang aman pribadi (privacy).

Namun dari perbincangan dengan sejumlah kolega dosen di sana terungkap bahwa perilaku protektif itu merupakan bagian dari prinsip kehatihatian (precautionary principle) dan yang berhasil dibiasakan sejak negeri itu diterpa epidemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) oleh virus SARS CoV-1 pada tahun 2002-2004 yang lalu.

Mungkin perilaku hati-hati yang telah terbiasakan inilah yang mampu menempatkan Taiwan sebagai salah satu negara yang paling berhasil dalam menghadapi serangan virus SARS CoV-2 saat ini. Bagaimana dengan manfaat pembiasaan perilaku sehat yang dialami penduduk Indonesia saat Covid-19 ini berlangsung?

Budaya Keamanan Pangan
Belajar dari pengalaman Taiwan yang sesuai dengan ungkapan ialah bisa karena biasa itu, akan sangat bagus jika masyarakat kita juga akan mengalami perubahan perilaku yang permanen akibat pembiasaan perilaku hidup sehat selama masa pembatasan di tengah wabah Covid-19.

Mudah-mudahan kebiasaan mengenakan masker, cuci tangan, penggunaan hand sanitizer, dan penjarakan fisik tidak ‘menguap’ begitu saja saat badai Covid-19 sudah berlalu. Kebiasaan ‘baru’ ini diharapkan tertancap dalam ruang ingat dan mudah mewujud dalam perilaku naluriah (instinct) sebagian besar orang – manakala situasi dan kondisi membutuhkannya.

Sebagai pengajar dan peneliti keamanan pangan, penulis punya harapan besar untuk terbentuknya perubahan permanen itu. Pangan yang aman adalah pangan yang bebas dari risiko gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh pencemar fisik, kimia, dan biologi.

Risiko kesehatan oleh agen biologis seringkali bersifat akut dan bisa mematikan, seperti pada kasus virus flu burung H5N1 atau bakteri Escherichia coli O157:H7 yang dapat menimbulkan kram perut, diare berdarah, hingga gagal ginjal. Pada taraf yang lebih ringan, penyediaan makanan yang tidak higienis dapat berisiko menularkan virus hepatitis A yang mengakibatkan antara lain demam, mual dan diare.

Beberapa tahun yang lalu sejumlah mahasiswa di beberapa kampus di Pulau Jawa terinfeksi virus hepatitis A. Infeksi ini diduga terjadi karena praktek cuci piring yang tidak benar dan seperti menggunakan air yang tidak mengalir yang bahkan digunakan untuk mencuci berulang-ulang. Kemungkinan virus hepatitis A berpindah melalui air liur yang masih menempel di alat makan dan minum yang tidak tercuci dengan baik.

Frank Yiannas penulis buku Food Safety Culture (2009) menekankan bahwa penentu utama keamanan pangan adalah perilaku manusia. Menurut Yiannas, budaya keamanan pangan perlu dibentuk dan dijalankan oleh semua pelaku dalam sebuah industri pangan dan mulai dari pimpinan hingga pekerja paling bawah.

Dalam hal ini, budaya keamanan pangan menyangkut pemikiran dan perilaku atau praktik keamanan pangan yang telah dipelajari dan dijalankan dalam kurun waktu yang panjang oleh para anggota suatu organisasi (industri) pangan.

Semua orang dalam industri pangan harus belajar dan menjalankan perilaku untuk mewujudkan keamanan pangan. Program pelatihan keamanan pangan yang dilaksanakan oleh organisasi diarahkan pada penanaman pola pikir dan perilaku.

Pelatihan untuk membentuk pola pikir dan perilaku yang berorientasi pada keamanan pangan memang merupakan syarat terpenting dalam penjaminan keamanan pangan.

Atau dalam ungkapan Guy Kurkjian, Presiden Organisasi Keamanan Dunia (sejak 1995), pelatihan jauh lebih penting dari “sekedar” stempel jaminan mutu: “Food safety is more about training workers thoroughly in all aspects of food handling, than having a brand that carries a quality seal”.

Perilaku sehat yang telah dilakukan oleh warga di masa wabah Covid-19 mudah-mudahan akan melahirkan kebiasaan baru yang bisa mengarah ke budaya hidup sehat.

Jika ini benar-benar terjadi, maka industri pangan akan “ketiban rezeki nomplok” (windfall profit) dan karena nanti akan lebih mudah mewujudkan budaya keamanan pangan di dalam organisasi masing-masing. Pada gilirannya produk pangan yang dihasilkan oleh industri pangan, mulai dari skala rumah tangga, UMKM, maupun hingga skala besar.

Budi Widianarko, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegijapranata, pernah mengajar di Providence University Taiwan.

►Suara Merdeka 30 April 2020 hal. 4,

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/227580-covid-19-dan-keamanan-pangan

Kategori: , ,