Bumi Masih Tersenyum?
Jumat, 24 April 2020 | 7:54 WIB

SM 24_04_2020 Bumi Masih Tersenyum

Oleh Benny D Setianto

"Memperbanyak insentif untuk tindakan yang menyelamatkan lingkungan perlu diperbanyak dibandingkan dengan disinsentif untuk mereka yang merusak lingkungan. Melakukan sesuatu karena cinta diyakini lebih baik daripada didasarkan pada rasa takut."

PADA tanggal 22 April 1970 hampir sepuluh persen penduduk Amerika Serikat pada tahun itu melakukan banyak pawai dan memenuhi jalan-jalan, untuk melakukan protes ketidakpedulian negara terhadap perusakan lingkungan.

Mereka menuntut perlunya cara baru untuk membuat bumi ini bisa tetap layak untuk dihuni. Sedikit banyak tindakan ini memicu munculnya Konvensi Tingkat Tinggi pertama kali yang diselenggarakan di Stockholm, Swedia pada tanggal 5-16 Juni 1972.

Gerakan protes besar itu sekarang diperingati oleh masyarakat internasional sebagai Hari Bumi. Tahun ini, ketika pandemik Covid 19 merebak di seantero dunia, hari bumi diperingati dengan tema perubahan iklim. Tema yang ditetapkan sejak setahun lalu dengan tidak mengetahui bahwa pada saat itu diperingati tahun ini, dunia sedang berduka.

Harus diakui kesadaran untuk memperhatikan lingkungan dan ajakan untuk mengubah perilaku manusia terhadap lingkungan, termasuk yang dilakukan 50 tahun yang lalu dengan gerakan Hari Bumi, disandarkan kepada strategi untuk menakut-nakuti manusia jika perubahan tidak segera dilakukan.

Kesepakatan di Stockholm tahun 1972 yang melahirkan Deklarasi Stockholm setidaknya mengingatkan lingkungan dan manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan sehingga harus dilakukan gerakan bersama untuk saling menjaga kehidupan ini.

Hal itu kemudian diperkuat oleh Club of Rome yang diinisiasi oleh industrialis Italia dan ilmuwan Inggris untuk mencari model terbaik bagi penyelamatan masa depan manusia.

Melalui model matematika yang dibuat profesor di MIT Amerika Serikat, muncul laporan mereka untuk membatasi pertumbuhan sebagai satu-satunya alternatif untuk menyelamatkan masa depan manusia.

Bahkan kemudian dibentuklah Komisi Dunia tentang Lingkungan dan Pembangunan pada tahun 1987 yang menghasilkan laporan ìMasa Depan Bersama (Our Common Future) yang juga dikenal sebagai laporan dari Komisi Brundtland, karena dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Norwegia Gro Harlem Brundtland.

Ada tiga sendi utama yang harus diperhatikan agar masa depan bersama umat manusia menjadi lebih baik tetapi sekaligus menikmati lingkungan yang terjaga yaitu pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial.

Tiga aspek ini yang nantinya dikembangkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang menggantikan Millenium Development Goals, pada tahun 2015.

Kesepakatan Global
Gerakan kesepakatan global itu tidak pernah berhenti untuk menjangkau segala sendi kehidupan manusia. Topik perubahan iklim yang dipakai sebagai tema Hari Bumi tahun 2020 ini juga bukan hal yang baru.

Dalam konferensi di Stockholm sudah muncul kesepakatan untuk memperhatikan perubahan atmosphere sehingga kerja sama dengan Organisasi Meteorologi Dunia (World Metereological Organization) menjadi keharusan.

Ketika kemudian kesepakatan yang lebih detail tentang bagaimana perubahan iklim itu harus disepakati dengan munculnya kesepakatan Tokyo dan yang terakhir Persetujuan Paris yang menuntut negara-negara memberikan komitmen nasionalnya masing-masing atas kontribusinya untuk menurunkan emisi gas yang berpotensi menimbulkan rumah kaca, ternyata komitmen itu selalu tidak konsisten.

Hal itu terjadi seringkali ketika ada perubahan kepemimpinan nasional di negara tersebut. Terlepas dari kurangnya komitmen kepala negara untuk menjalankan kesepakatan- kesepakatan global tersebut, bisa dikatakan bahwa semua kesepakatan global tersebut disandarkan pada gambaran masa depan manusia yang akan hancur jika manusia tidak melakukan perubahan kegiatan.

Hal itu yang seringkali disebut sebagai ekologi kehancuran (Apocalypse ecology). Harapannya dengan model membuat ancaman maka manusia akan berubah. Maka bertebaranlah data yang menunjukkan hutan sebagai paru-paru bumi berkurang, pencemaran meningkat, suhu bumi makin panas dan skenario-skenario serupa.

Sayangnya ancaman-ancaman yang bersifat global itu seringkali tidak terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Sama seperti nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan yang ditanamkan di sekolah-sekolah Indonesia, tidak disertai dengan berkembangnya kultur kepedulian itu sendiri.

Terutama karena dampak perkara lingkungan tidak langsung dirasakan secara langsung ketika pelaku perusakan lingkungan melakukan tindakannya. Misalnya, anjuran dan bahkan larangan untuk membuang sampah sembarangan yang seringkali dikaitkan dengan akan terjadinya banjir.

Dampak mereka yang membuang bungkus permen di jalan misalnya, tidak serta merta dirasakan pembuang bungkus permen tersebut, tetapi menunggu beberapa saat dan bahkan mungkin dia sendiri secara personel tidak merasakannya. Akibatnya, ancaman-ancaman yang mengerikan itu tidak digubris. Hal itu yang membuat kemudian muncullah gerakan baru dalam langkah kepedulian terhadap lingkungan.

Ekologi Kebahagiaan (The ecology of happiness) menggunakan strategi yang berbeda, kegiatan untuk melakukan tindakan yang lebih peduli terhadap lingkungan bukan disandarkan pada ketakutan terhadap masa depan tetapi diubah sebagai sesuatu yang menimbulkan rasa bahagia karena bangga, merasa memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan sejenisnya.

Kebahagiaan akan kebanggaan inilah yang dianggap mendasari tindakan manusia dengan lebih baik. Secara kebijakan maka memperbanyak insentif untuk tindakan yang menyelamatkan lingkungan diperbanyak dibandingkan dengan disinsentif untuk mereka yang merusak lingkungan. Melakukan sesuatu karena cinta diyakini lebih baik daripada didasarkan pada rasa takut.

Covid-19
Setelah tepat 50 tahun gerakan Hari Bumi Internasional diperingati, para pemimpin negara belum juga secara serius menegakkan kebijakan yang disandarkan pada kesepakatankesepakatan internasional. Ancaman-ancaman yang diceritakan oleh para ilmuwan dan data yang disajikan tampaknya belum membuat para pemimpin gentar.

Ternyata para pemimpin membutuhkan ancaman yang lebih serius, yaitu ketika itu mengganggu secara langsung kesehatan mereka. Pandemik Covid 19 telah memaksa kebijakan-kebijakan yang seringkali tidak mereka lakukan karena mengganggu perekonomian negara, sekarang ini health (kesehatan) lebih penting daripada wealth (kesejahteraan).

Menariknya, masyarakat juga kemudian menjadi tersentak dan memunculkan self regulation (pengaturan dirinya sendiri) dan uniknya kesadaran bersama untuk saling membantu menjadi muncul. Dunia memang terjungkir balik karenanya, tetapi bumi tampaknya tersenyum karena pemulihan alam semesta dan terutama bumi menjadi berjalan.

Pertanyaannya kemudian, apakah manusia memang masih membutuhkan strategi kehancuran untuk mengubah perilaku? Atau ini menjadi saat yang tepat untuk menyesuaikan kegiatan dunia dengan kepentingan bumi, sehingga dunia menjadi sejahtera sementara bumi tetap tersenyum. Lagu yang pernah dikumandangkan teman-teman perempuan desa menjadi tergiang.. “ibu bumi dilaraniÖ ibu bumi sing ngadili”. (34)

Benny D Setianto, buruh pengajar FHK dan PMLP Unika Soegijapranata.

►Suara Merdeka 24 April 2020 hal. 4
https://www.suaramerdeka.com/news/opini/226988-bumi-masih-tersenyum

Kategori: , ,