Tim Pengabdian Unika, Dampingi UMKM Makanan Berbasis Hasil Laut
Jumat, 2 Agustus 2019 | 11:30 WIB

image

Wilayah pesisir utara pulau Jawa, khususnya Semarang dikenal sebagai kota pantai dengan aneka kuliner dan makanan olahan berbasis hasil laut. Ada banyak jenis makanan olahan hasil laut seperti ikan asap, bandeng presto, nugget udang, terasi, hingga kerupuk udang yang menjadi ikon makanan kota tersebut selain lunpia.

Namun disatu sisi, makanan berbasis hasil laut tersebut masih diolah secara tradisional, sehingga hasil yang diperoleh belum maksimal. Hal tersebut mendorong Tim Pengabdian Program Kemitraan Masyarakat Unika Soegijapranata Semarang, melakukan pendampingan dan pembinaan pada UMKM makanan berbasis hasil laut dan KUB (Kelompok Usaha Bersama) Minakarya.

“Pembinaan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, sekaligus nilai jual makanan yang dihasilkan. Pendampingan, pembinaan dan pelatihan kepada UMKM makanan ini merupakan salah satu program dari kegiatan pengabdian Program Kemitraan Masyarakat,” papar dosen Unika Soegijapranata, sekaligus Ketua Tim Pengabdian Christiana Retnaningsih, kemarin.

Dipaparkan, dalam pertemuan kedua yang digelar pada 29 Juli lalu, dibahas tentang kajian kandungan gizi pada ikan asap dan nugget udang, serta mengajak peserta melalukan pencatatan usaha. Sedangkan pertemuan sebelumnya dilakukan pada tanggal 28 April dengan topik sanitasi, higien, dan keamanan pangan.

“Hasil penelitian dari ikan asap komersial yang didapat dari mitra dampingan yakni ibu Sukarti, secara umum masih tinggi kandungan airnya dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pada ikan asap yang diperoleh dari mitra memiliki kadar air sebesar 73% sedangkan persyaratan SNI maksimal adalah 60%,” lanjutnya.

Dengan demikian proses pengasapan perlu dilakukan lebih lama supaya kadar air bisa lebih turun, kontaminan mikroorganisme seperti Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus juga dapat diminimalkan dan mungkin bisa menjadi nol.

“Sementara, kandungan gizi pada nugget udang yang diproduksi oleh ibu Sittatun secara umum sudah memenuhi persyaratan SNI. Seperti, kadar air kurang dari 60%, dan kadar lemaknya kurang 15%, namun kadar protein lebih tinggi daripada yang disyaratkan oleh SNI yaitu mencapai 15% dari
ketentuan SNI kurang 6%,” terang Christiana lebih lanjut.

Kepada pelaku usaha juga diajarkan untuk cara membuat pencatatan sederhana, dari kegiatan usahanya. Diharapkan, nantinya mereka bisa mengetahui omzet usahanya, tingkat keuntungannya, dan seberapa banyak jumlah uang yang bisa digunakan untuk keperluan keluarga agar tidak menggerus modal.

“Umumnya mereka belum melakukan pencatatan usaha, karena merasa sudah bisa menghitung keuntungan usahanya. Namun bila ditanya secara pasti omzet usaha, biaya produksi, pendapatan yang diperoleh umumnya sulit menjawab. Disarankan uang usaha dipisahkan dengan uang keluarga,” pungkasnya.

►Wawasan 2 Agustus 2019 halaman 3

Kategori: