Praksis Merawat Bumi
Jumat, 2 Agustus 2019 | 9:13 WIB

SM 02_08_2019 Praksis Merawat Bumi

Oleh Aloys Budi Purnomo Pr

“Mari membangun secara beradab sebagai bentuk pertobatan dan praksis ekologis demi merawat bumi kita agar tidak kian hancur”

TULISAN ini merupakan refleksi setelah melewati awal proses ilmiah dalam rangka menempuh studi pada Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata. Tantangan untuk meneliti pentingnya praksis peradaban kasih ekologis ekumenisinterreligius sebagai buah pertobatan ekologis sebagaimana diserukan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’, Mi’ Signore: On Care for Our Common Home (LS, Fransiskus, 2015) mengusik nalar saya. PDIL menjadi ruang ilmiah untuk mengolahnya secara akademik berbasis realitas pedih yang terus menimpa bumi, rumah kita bersama.

Pada mulanya adalah minat ekologis. Maksudnya, suatu minat yang tertuju pada gerakan pelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan. Selama kurang lebih sebelas tahun dalam mengemban tugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) periode Maret 2008 hingga Maret 2019, minat itu terhayati melalui praksis merawat bumi kita.

Selama melayani di Komisi HAK KAS, salah satu perhatian dalam rangka gerakan membangun kerukunan dan persaudaraan adalah melalui gerakan ekologis bersama warga masyarakat, apa pun agama dan kepercayaannya. Perhatian itu menjadi komitmen ekologis demi menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Pada tahun 2009, sesudah perjumpaan dengan mendiang Jean-Louis Kardinal Touran, Ketua Komisi HAK Dewan Kepausan yang berkunjung ke Yogyakarta, perhatian dan komitmen ekologis itu mendapat ruang melalui seruan Hari Minggu HAK KAS yang saya sampaikan pada Januari 2010. Salah satu isi pelaksanaan hari Minggu HAK adalah bekerja sama dengan umat beragama apa pun demi menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. Caranya; pada Hari Minggu HAK KAS, saya menyerukan dan mengajak umat se-KAS (meliputi sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan seluruh DIY) untuk bekerja bakti menata lingkungan sekitar gereja. Dalam kerja bakti itu bisa dilakukan tindakan ekologis menanam pohon, pembuatan lubang-lubang resapan biopori dan membuat ruang penataan sampah.

Di Tanah Mas Semarang (2007-2012) salah satu yang bisa dinikmati hasilnya adalah di sekitar Gereja Hati Kudus hingga Masjid Al Hidayah dekat folder pompa air jalan arteri Tanah Mas. Kita serukan gerakan 1.000 pohon. Mulailah ditanam banyak pohon peneduh yang juga berfungsi untuk menahan tanah agar tidak longsor atau ambles.

Praksis ekologis
Itulah sekadar menyebut beberapa contoh pergerakan ekologis yang bertumbuh dari minat menjadi komitmen. Komitmen itu berkembang menjadi praksis ekologis yang lebih luas untuk masa depan yang tanpa batas.

Begitulah minat, perhatian dan komitmen itu ditopang melalui praksis ekologis. Tak lagi sekadar menanam pohon dan memilah sampah, walau semua itu penting dan harus terus dilakukan, melainkan berkembang menjadi perjuangan menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. Perjuangan itu laksana "tumbu oleh tutup" saat berkenalan dengan Gunretno, Hartati, Gunarti, almarhumah Yu Padmi dan warga masyarakat Kawasan Pegunungan Kendeng.

Perjumpaan dan persahabatan dengan Gunretno dan warga masyarakat Kendeng berubah menjadi perjuangan dalam spirit praksis ekologis. Intinya adalah menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Bumi kita laksana seorang Ibu yang sedang disakiti oleh sikap tamak dan tunaadab ekologis. Hanya demi kepentingan segelintir orang dan atas nama keuntungan sesaat, bumi dirusak dan hancur.

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Kawasan Gunung Ungaran Kabupaten Semarang akan kian menambah duka lara bumi kita. Apalagi itu akan berdampak bagi Kawasan Cagar Budaya Candi Gedongsongo pula!

Mari membangun secara beradab sebagai bentuk pertobatan dan praksis ekologis demi merawat bumi kita agar tidak kian hancur oleh sikap tamak, serakah dan tak peduli pada jeritannya karena kian terluka.

 
Aloys Budi Purnomo Pr, rohaniawan, pastor Kepala Campus Ministry dan Mahasiswa PDIL Unika Soegijapranata.

► Suara Merdeka 2 Agustus 2019 hal. 6

Kategori: ,