Implikasi Jalan Tol bagi Petani
Senin, 5 Agustus 2019 | 8:37 WIB

image

Oleh: Budi Widianarko

“Dengan mendekatkan hasil pertanian pada pengguna jalan tol sebagai pelancong dan pembeli potensial maka para petani dapat ikut merasakan ‘kue’ manfaat jalan tol”

JALAN tol Trans-Jawa masih saja menyisakan kisah-kisah ”heroik”. Tuturan seperti cukup tiga jam untuk tiba di Surabaya atau lima jam untuk sampai Jakarta dari Semarang masih acap menyembul dalam perbincangan warga. Jalan tol memang telah memberikan banyak manfaat bagi banyak kalangan, termasuk pelaku usaha, aparat negara dan warga kebanyakan – pengguna transportasi darat. Warga yang punya mobil pribadi bisa berkendara demi kenikmatan (joyride) di jalan mulus yang nyaris tanpa hambatan itu. Bahkan jalan tol tidak jarang menjadi ajang uji dan adu kecepatan mobil seperti layaknya lintasan balap mobil formula.

Kehadiran jalan tol juga memicu perkembangan suatu kawasan. Sebut saja kawasan Bawen, the U-S-A golden triangle (segitiga emas Ungaran-Salatiga-Ambarawa), yang belakangan menjadi kawasan wisata yang lengkap – menyajikan rangkaian obJek wisata lama dan baru. Berkat pintu keluar jalan tol, Bawen telah menjadi salah satu simpul (hub) wisata yang penting di Jawa Tengah dan bahkan untuk keseluruhan Pulau Jawa. Dan sudah barang tentu ada masalah ikutan yang muncul adalah peningkatan kepadatan lalu lintas di kawasan itu, yang berpuncak pada kemacetan yang hebat pada hari-hari libur.

Selain memberikan dua manfaat di atas, kehadiran jalan tol Trans-Jawa juga meningkatkan kelancaran dan intensitas sektor pengangkutan yang sangat mendukung pengembangan perdagangan dan industri. Di balik manfaat dan kenikmatan yang diberikan oleh jalan tol ada satu hal yang sangat layak dipertanyakan. Apakah manfaat jalan tol bersifat inklusif – merengkuh semua pihak – atau hanya terbatas untuk satu dua kelompok masyarakat. Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang inklusif adalah sebuah tantangan yang sahih. Perlu dipastikan bahwa tidak ada satu pihakpun tertinggal dalam mendapatkan ”kue” infrastruktur yang ada; atau meminjam semboyan Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs): tidak (boleh) ada satu pihak pun yang tertinggal (leaving no one behind).

Di tengah kabar gembira tentang jalan tol, sebenarnya ada pihak yang justru mendapatkan kesulitan ”baru”- yaitu para petani. Sayangnya, perbincangan tentang pihak yang tertinggal dalam merasakan ”kue” infrastruktur ini cenderung senyap. Hal ini tentu tidak terlalu mengherankan, karena memang
secara laten segala wacana seputar pertanian selalu dihinggapi bias perkotaan (urban bias).

Petani
Sejumlah media – baik arus utama maupun daring – memberitakan bahwa alih-alih mendapatkan manfaat jalan tol, petani justru mendapatkan masalah. Sejak tahap pembangunan, jalan tol sudah memunculkan tantangan untuk para petani. Salah satunya adalah terdampaknya saluran irigasi oleh pembangunan jalan tol seperti dikeluhkan petani di wilayah Ngemplak, Boyolali (Suara Merdeka, 9 April 2018).

Masalah juga muncul saat proyek jalan tol telah rampung. Misalnya, sawah petani Dusun Kedunggabus, Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo yang terletak di pinggir jalan tol Solo-Kertosono terendam air karena saluran air yang tidak berfungsi dengan baik. Selain persoalan genangan air saat hujan,
keberadaan jalan tol juga berpengaruh pada akses jalan petani untuk menuju ke sawah dan mengangkut hasil panen. Petani di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun mengeluh harus mengeluarkan ongkos tiga kali lipat saat mengangkut hasil panen, karena mereka harus jalan memutar menggunakan kendaraan roda empat.

Pemihakan oleh segenap pemangku kepentingan sangat diharapkan agar proyek infrastruktur itu tidak kehilangan sifat inklusifnya. Kesadaran untuk tidak ”mengucilkan” petani dalam pembagian ”kue” manfaat proyek infrastruktur, seperti jalan tol, tampaknya baru mulai dikenali.

Sebagian pemangku kepentingan sudah mulai menyadari urgensi pemihakan pada petani. Salah satunya, rancangan jalan tol Solo Kulonprogo ternyata dilengkapi dengan 25 jalan layang – demi memberi akses kepada petani untuk menuju ke lahan mereka. Jalan layang sebanyak itu harus dibangun karena jalan tol itu melewati sejumlah areal pertanian. Namun, sekadar membangun jalan layang yang menghubungkan persawahan atau jalan desa ke jalan tol tidaklah akan memberi manfaat yang optimal. Kasus jalan layang yang terlalu tinggi di Sawahan, Madiun patut menjadi bahan pelajaran.

Untunglah, pidato ”Visi Indonesia” Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sentul International Convention Center (14/7/2019) menghembuskan sedikit angin segar. Untuk misinya ”Pembangunan yang merata dan berkeadilan” Presiden Jokowi merumuskan program aksi untuk menghubungkan infrastruktur besar dengan industri kecil, kawasan ekonomi khusus, pariwisata, persawahan, perkebunan dan tambak. Semoga program aksi ini nantinya benar-benar dijalankan tidak mengambang sebagai retorika belaka. Jika program integrasi jaringan jalan tersebut dijalankan dengan baik akan memberi manfaat yang besar.

Pengalaman Program Pengurangan Kemiskinan 8-7 (The 8-7 National Poverty Reduction Program) Tiongkok yang bertujuan menangani 80 juta orang dari kemiskinan dalam kurun waktu 7 tahun (1994-2000) seperti dilaporkan oleh Yan dan Huan (2004) membuktikan bahwa integrasi antara jalan raya dengan jalan-jalan pedesaan berperan penting dalam peningkatan perekonomian dan penanganan kemiskinan pedesaan.

Asumsi bahwa penguatan ekonomi petani bisa diwujudkan melalui integrasi jaringan jalan raya dan jalan pedesaan – seperti terbukti di Tiongkok – masih harus dibuktikan ”keampuhannya” di Jawa. Yang menjadi pembeda adalah skala produksi. Di Tiongkok sengaja diciptakan skala produksi hortikultura
yang besar melalui aglomerasi usaha tani, sedangkan di Jawa usaha tani masih bersifat perorangan dalam lahan sempit sehingga skala produksinya kecil atau bahkan sangat kecil.

Jawa memiliki banyak petani hortikultura subsisten yang hanya mengandalkan hasil pekarangan dan tegalan dalam luasan terbatas. Hasil panen yang tidak seberapa nantinya itu dibawa ke pasar untuk dijual, baik langsung maupun ke para bakul – yang kebanyakan perempuan.

Salah satu siasat yang mungkin layak ditempuh adalah pembangunan pasar-pasar yang menampung hasil panen petani sekitaran (lokal) di dekat pintu-pintu tol. Pasar-pasar itu harus dirancang dengan rapi dan  artistik sehingga bukan saja menjadi gerai penjualan hasil pertanian dan olahannya – tetapi sekaligus menjadi titik kunjungan wisata. Dengan mendekatkan hasil pertanian pada pengguna jalan tol sebagai pelancong dan pembeli potensial maka para petani dapat ikut merasakan ”kue” manfaat jalan tol. Sudah selayaknya, niat luhur ”gawe gumuyining wong cilik” selalu menjiwai setiap prakarsa pembangunan infrastruktur.

 

___________________
Budi Widianarko
, guru besar Fakultas Teknologi Pertanian UNIKA Soegijapranata dan Anggota Dewan Riset Daerah Jawa Tengah

Suara Merdeka 3 Agustus 2019 hal. 6, https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/192418/implikasi-jalan-tol-bagi-petani

Kategori: ,