Tertarik Studi Gender, Richard, Tunanetra Lulusan Unika Bikin Buku Reproduksi dengan Rahim Pengganti
Senin, 1 Juli 2019 | 9:00 WIB

image

Tak perlu meremehkan orang-orang dengan keterbatasan fisik. Mereka, dengan ketelatenan dan upaya yang keras, juga bisa menelurkan karya bernilai tinggi.

Salah satunya dilakukan Richard Kennedy, lulusan Fakultas Hukum Unika Soegijapranata. Meski tunanetra, ia mampu membuat sebuah buku tentang proses reproduksi menggunakan rahim dari perempuan lain.

Ditemui di Kampus Unika Soegijapranata, Kamis (27/6/2019), Richard menuturkan buku itu berisi tentang kajian terkait proses reproduksi menggunakan rahim orang lain tersebut.

"Jadi bukunya tentang ibu pengganti. Lebih pada proses kehamilan, tapi menggunakan rahim perempuan lain," paparnya.

Proses itu menurutnya membutuhkan 3 orang. Dua orang merupakan pasangan suami istri, dengan sel sperma dan sel telurnya.

Sel sperma dan sel telur itu kemudian dititipkan kepada 1 perempuan lain, hingga proses kehamilan terjadi.

Dalam buku tersebut, Richard menggunakan pendekatan dari segi otonomi perempuan atas hak tubuhnya.

"Kajian yang saya tuliskan adalah dari segi itu. Perempuan harus tahu bagian dari tubuhnya, dan hak atas tubuh tersebut," paparnya.

Menurut Richard hingga saat ini belum ada payung hukum yang tegas dan jelas terkait proses reproduksi menggunakan rahim orang lain. Padahal, hal tersebut di beberapa negara di dunia bukan lagi menjadi hal yang tabu.

Misalkan, ada seorang istri yang memiliki penyakit tertentu sehingga beresiko besar apabila mengandung.

Maka, sebagai salah satu solusinya, menitipkan sel sperma dan sel telur di tubuh orang lain dilakukan.

"Karena ini tak ada aturannya. Sifatnya tidak dilarang pun tidak, dilarang juga tidak."

"Ada di titik abu-abu dan kita inginnya segera ada kepastian," imbuhnya.

Richard yang lulus dari FH Unika Soegijapranata April 2019 kemarin pun menilai, perempuan memiliki hal untuk menerima ataupun menolak apabila ada pasangan yang ingin menitipkan sel sperma dan sel telurnya di rahim perempuan tersebut.

Hal ini, menurutnya berbeda dari buku-buku yang menulis isu serupa, yang lebih menekankan pada hukum legalitas perjanjian dan sebagainya.

"Saya memakai pendekatan otonomi perempuan atas hak tubuhnya. Pada dasarnya perempuan berhak menolak dan menerima," ungkap dia.

"Ia harus juga tahu apa akibat yang akan ia terima jika mengiyakan hal tersebut."

Perihal penulisan buku tersebut, Richard mengaku awalnya tertarik dengan studi terkait hak asasi manusia. Lalu ia tertarik dengan ilmu turunannya, yakni tentang studi gender.

"Laki-laki maupun perempuan memiliki hak atas tubuhnya. Ia boleh ditato, ditindik, berambut gondrong, dan lain-lain selama tak merugikan orang lain," ujarnya.

Adapun untuk risetnya, dimulai pada 2017. Ia mengambil sampel sejumlah perempuan yang mengaku menjadi tempat penitipan sel sperma dan telur di Jateng dan Jogja.

Studi itu juga mengambil sampel sejumlah pasangan suami istri terkait apa pandangan mereka soal sistem reproduksi dengan rahim pengganti.

"Riset sampelnya ada beberapa. Secara umum, mereka mengaku tahu dan setuju terkait reproduksi seperti itu," papar dia.

"Meski ada juga yang menolak atas berbagai alasan," jelas dia.

Hasil riset itu kemudian ia tulis hingga Maret 2019. Pengurusan percetakan buku selesai pada April 2019. Saat ini buku berjudul Ibu Pengganti dijual secara online seharga Rp50 ribu.

"Harapannya, mampu membuat ruang diskusi baru karena saya mewacanakan isu baru. Agar publik terbuka tentang reproduksi dengan rahim orang lain," terang dia.

Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata mengaku bangga dengan prestasi mahasiswa dan para lulusannya. Ia berharap buku yang ditulis Richard bisa memberikan warna dan perspektif baru tentang dunia tersebut.

"Kami memberikan tempat bagi para lulusan yang memiliki ide seperti Richard untuk mengembangkan potensinya," katanya.

Tribunjateng.com

Kategori: