Ini Penyebab dan Pencegahan Henti Jantung Mendadak
Rabu, 31 Juli 2019 | 13:18 WIB

dr Andreas Arie Setiawan SpPD K-KV saat memaparkan materinya dalam talkshow

Sebuah kegiatan talkshow dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-37 Unika Soegijapranata telah dilaksanakan pada hari Selasa (30/7) bertempat di ruang Teater gedung Thomas Aquinas, yang  membahas tentang topik “Pertolongan Awal Serangan Jantung” yang disampaikan oleh dr Andreas Arie Setiawan SpPD K-KV. Kemudian pada sesi kedua Dr V Kristina Ananingsih ST MSc memberikan paparan tentang “Tanaman Obat”.

Dalam wawancara singkat dengan dr Arie terungkap bahwa serangan jantung itu 30% dari populasi orang dengan penyakit jantung koroner. Artinya, orang dengan jantung koroner itu 1/3-nya bisa mengalami cardiac arrest atau henti jantung mendadak.

“Penyebab timbulnya cardiac arrest atau henti jantung mendadak adalah adanya proses atherosclerosis atau proses terbentuknya sumbatan di pembuluh darah jantung. Sedangkan proses terbentuknya sumbatan di jantung itu faktor resikonya macam-macam, antara lain usia lanjut, perempuan yang sudah tidak menstruasi, diabetes, hipertensi, kurang olah raga, stress dan merokok,” ucap dr Arie.

“ Intinya adalah timbulnya sindrom metabolik yaitu beberapa kondisi seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan gula darah, kelebihan lemak dalam tubuh di sekitar pinggang, dan peningkatan kadar kolesterol yang tidak biasa secara bersamaan,” lanjut dr Arie.

“Langkah pencegahannya tentu saja akan lebih baik untuk menghindari terjadinya cardiac arrest atau henti jantung mendadak, yaitu dengan rajin berolah raga, menjaga asupan makanan yang seimbang, kemudian jangan lupa untuk check up, karena kadang-kadang penyakit itu tidak muncul dengan gejala maka perlu check up untuk mendeteksi penyakit.”

“Untuk penanganan darurat yang bisa dilakukan saat mengalami henti jantung mendadak adalah dengan memeriksa nadi, apabila tidak ada denyut nadi maka bisa dilakukan pijat jantung,” tandasnya.

Sedang Dr V Kristina Ananingsih dalam paparannya mencoba menjelaskan tentang tanaman obat yang bisa banyak dijumpai di lingkungan sekitar kita, bahkan jika dimungkinkan untuk menanam tanaman obat di halaman rumah untuk kesehatan keluarga kita.

“Hal tanaman obat, khasiat dan keamanan berdasarkan pengalaman turun temurun dan telah digunakan di masyarakat melewati tiga generasi (180 tahun),”terang Dr Kristina.

“Tanaman obat yang tumbuh di sekitar kita mempunyai banyak manfaat kesehatan dari komponen bioaktif yang dikandungnya,” papar Dr kristina.

“Namun demikian perlu juga dipahami resiko konsumsi tanaman obat. Jika kita ingin menggunakan obat herbal sebagai metode pengobatan, kita sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu,” pungkasnya. (fas)

Kategori: ,