Dosen FTP Unika Bahas Mikroplastik dalam Forum Internasional di Italia
Senin, 29 Juli 2019 | 13:03 WIB

Sampah plastik di tepi pantai

Kontaminasi mikroplastik dalam bahan pangan terutama seafood menjadi salah satu permasalahan keamanan pangan. Hal inilah yang menjadi perhatian salah satu dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata, Inneke Hantoro STP MSc, dalam fokus penelitian doktoralnya di Open University Belanda.

Beberapa waktu yang lalu, pada 13-14 Mei 2019, Inneke menjadi salah satu narasumber dalam workshop yang diselenggarakan oleh European Commission Joint Research Centre (ECJRC) di Italia bersama dengan 36 ahli lain dari berbagai negara Eropa yang melakukan penelitian terkait mikroplastik. ECJRC merupakan sebuah lembaga penelitian di bawah Komisi Eropa yang bertugas untuk menyediakan suatu masukan sebagai dasar pengambilan kebijakan terkait mikro dan nanoplastik.

Saat ini permasalahan mikroplastik sudah menjadi perhatian banyak kalangan. Mulai dari pengambil kebijakan atau pemerintah hingga masyarakat umum. Akan tetapi masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Pada tataran pengambil kebijakan misalnya, pengambilan kebijakan masih mengalami kendala karena dasar tentang mikro dan nanoplastik yang dijadikan sebagai acuan belum disertai dengan bukti yang kuat.

Dalam workshop ECJRC yang bertema ”State of the Art of Analytical Methods for Reliable Detection for Micro and Nanoplastic”, para ahli yang hadir mencoba memberikan masukan terhadap pengukuran mikro dan nano plastik di alam maupun dalam bahan pangan sehingga diharapkan dapat menghasilkan suatu pengukuran yang reliabel.

“Saya bersama Profesor Budi Widianarko dari FTP Unika dan beberapa rekan dari Open University Belanda menulis review jurnal berjudul “Microplastic in Coastal Areas and Seafood: Implications for Food Safety” yang dipublikasikan dalam jurnal Food Aditives and Contaminants: Part A. Awalnya pihak ECJRC menghubungi saya beberapa hari sebelum review jurnal tersebut terbit. Mereka tertarik pada isi review tersebut karena memiliki keterkaitan dengan tema workshop yang mereka selenggarakan. Dari review ini, mereka ingin mengetahui apa saja yang menjadi persoalan pada pengukuran mikroplastik,” terang Inneke.

Dalam jurnalnya, Inneke melakukan review terhadap keragaman penelitian mikroplastik yang sudah ada hingga saat ini. “Dalam workshop ECJRC, saya menyampaikan bahwa saat ini masih terdapat beragam cara untuk melakukan jaminan kualitas terhadap hasil pengukuran mikroplastik,” ungkap Inneke.

Validitas Keragaman Metode Pengukuran Mikroplastik

Mikro dan nano plastik berukuran sangat kecil, mulai dari yang terlihat hingga yang tidak nampak secara visual. Metode pengukuran yang digunakan dari berbagai penelitian juga bervariasi. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu standarisasi metode untuk menentukan apakah data yang didapatkan tersebut bersifat reliabel dan valid. Namun hingga saat ini belum ada harmonisasi dari beragam metode pengukuran mikroplastik.

Salah satu metode pengukuran mikroplastik adalah melalui deteksi visual FTIR (Fourier Tarnsform Infra Red) yang digunakan di FTP Unika. Selain itu, masih terdapat beberapa teknologi lain yang mungkin memiliki akurasi lebih baik untuk melihat partikel kecil. Bagaimanapun juga, setiap metode deteksi memiliki keterbatasannya masing-masing.

Dalam workshop ini, salah satu topik diskusi utamanya membahas mengenai permasalahan validitas pengukuran mikroplastik. “Melalui sharing dan pemaparan dari beberapa narasumber selama workshop, kita ingin mengetahui teknologi atau metode apa yang bisa digunakan untuk mengukur mikroplastik dengan akurat,” ungkap Inneke.

Permasalahan validitas pengukuran mikroplastik contohnya muncul saat melakukan destruksi sampel. “Mikro dan nanoplastik terdapat sangat banyak di lingkungan bahkan di udara sekalipun. Dengan demikian, peluang kontaminasi saat melakukan analisis mikroplastik masih tinggi. Meskipun sudah ada banyak tindakan pencegahan, misalnya dengan menggunakan aliran udara (air-flow), tetapi beragam metode pencegahan tersebut belum diharmonisasikan,” terang Inneke.

Tantangan lain juga terdapat dalam cara mendestruksi sampel mikroplastik.  Ada banyak cara destruksi sampel untuk mengambil mikroplastik, misalnya dengan menggunakan larutan asam, basa, atau agen pengoksidasi yang sangat beragam.

Melalui workshop ECJRC ini, diharapkan adanya suatu reference material dari mikro dan nano plastik untuk melakukan proficiency test supaya dihasilkan suatu pengukuran yang reliabel. Selain itu, diharapkan juga dihasilkannya panduan untuk quality assurance dalam pengukuran mikroplastik.

“Jika kita melihat apa yang sudah dilakukan ECJRC di Eropa, sebenarnya kita sudah berada di jalur yang tepat. FTP Unika Soegijapranata juga memiliki perhatian terhadap mikroplastik dan saat ini kita juga sedang melakukan standarisasi untuk analisis mikroplastik,” terang Inneke.

Pada tanggal 27-28 Desember 2018, Inneke Hantoro juga sempat menjadi salah satu narasumber dalam workshop yang dilaksanakan di Amsterdam, Belanda. Workshop yang dihadiri kalangan peneliti dari wilayah Eropa, Amerika, dan Asia tersebut membahas mengenai tantangan dalam melakukan analisis mikroplastik.

“Dalam workshop di Asterdam, kami membahas permasalahan yang dihadapi dalam melakukan analisis mikroplastik karena setiap laboratorium memiliki metode berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu dicari suatu solusi yang menyatakan apakah suatu metode dapat diakui atau tidak,” ungkap Inneke.

Tergabung dalam Jaringan Internasional

Saat ini FTP Unika Soegijapranata juga bergabung dengan jaringan QUASIMEME. QUASIMEME adalah jaringan yang bekerja sama dengan NIVA (Norwegian Institute for Water Research) yang merupakan institusi atau lembaga penelitian tentang air.

NIVA membuat suatu reference material mikroplastik yang didapatkan dari lingkungan dengan cara melakukan pengumpulan limbah, karakterisasi, pengukuran dan penentuan jumlah, serta pencampuran dengan pengikat berbentuk pil.

Dari reference material tersebut, setiap institusi yang tergabung dalam jaringan QUASIMEME dapat melakukan uji menggunakan metode yang dipakai di laboratorium masing-masing. Di FTP Unika sendiri digunakan alat pendeteksi FTIR yang juga sudah banyak dipakai dalam skripsi oleh mahasiswa.

“Hasil dari pengujian sampel tersebut akan dikirim kembali ke QUASIMEME dan mereka akan melakukan pengolahan data dari hasil pengujian yang sudah terkumpul. Tujuannya adalah untuk melihat metode mana yang cukup reliabel dalam mengukur mikroplastik,” terang Inneke.

Ke depannya, Inneke berharap agar FTP Unika Soegijapranata dapat berkontribusi dalam menghasilkan suatu protokol pengujian mikroplastik yang reliabel untuk publikasi dan penelitian selanjutnya. (B.Agth)

Kategori: ,