Bambu Jadi Topik Bahasan Seminar Nasional Prodi Arsitektur
Jumat, 26 Juli 2019 | 12:42 WIB

Effan Adhiwira ST dari Arsitek Prinsipal EFFStudio, saat memaparkan materi di acara seminar nasional Bamboo FAD Unika

Salah satu misi Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata yaitu menyelenggarakan pendidikan Arsitektur yang kreatif dan inovatif, tanggap lingkungan dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan, telah menjadi pijakan dalam penyelenggaraan seminar nasional arsitektur yang berfokus pada bahan alam Indonesia yaitu bambu.

Acara seminar yang diselenggarakan di ruang B.1.3 Gedung Henricus Constance ini, dihadiri oleh para mahasiswa arsitektur Unika sendiri sebagai tuan rumah, dan juga para akademisi dan praktisi dari luar Unika serta beberapa mahasiswa asing yang turut hadir, karena penyelenggaraan seminar nasional ini merupakan kerjasama dengan Architecture Sans Frontières Indonesia  (ASF-ID).

Hadir pula sebagai narasumber dalam seminar nasional yaitu dua narasumber yang mewakili praktisi dan akademisi yang memiliki keahlian (expert) di bidang bambu. Narasumber pertama adalah Effan Adhiwira ST dari Arsitek Prinsipal EFFStudio, dan narasumber kedua Dr –Ing Andry Widyowijatnoko MT seorang dosen pengajar ITB.

Sekretaris Prodi Arsitektur Unika Maria Damiana Nestri Kiswari ST MSc dalam penjelasannya mengemukakan bahwa kegiatan seminar nasional ini adalah salah satu acara yang digagas akan diselenggarakan secara berurutan dengan acara workshop yang juga akan mengangkat isu bambu sebagai bahan alami untuk shelter pemukiman sementara apabila terjadi bencana alam.

“Tanggal 24 dan 25 Juli 2019 ini, prodi Arsitektur berkolaborasi dengan ASF Indonesia dan Internasional, telah menyelenggarakan seminar nasional dan international workshop tentang bambu,“ jelas Nestri.

“Adapun tujuannya adalah membangun shelter bencana. Karena Indonesia termasuk daerah rawan bencana berdasarkan letak geografis, iklim, dan kontur tanahnya, sehingga ini merupakan hal yang urgent untuk dilakukan. Sebab dengan shelter sendiri yang memiliki kriteria cepat dibangun dan materialnya ada disekitar bencana serta bisa melibatkan orang banyak bisa menjadi alternatif pilihan untuk menanggulangi permasalahan bencana,” sambungnya.

“Sedangkan desain-desain dari bahan bambu juga menambah wawasan dan pengetahuan dosen serta mahasiswa Arsitektur Unika, bahwa bambu juga bisa digunakan untuk membangun sebuah bangunan yang secara kualitas nilainya ternyata bisa tinggi dan kekuatannya bisa bertahan lama seperti jembatan, restaurant di tepi pantai dan sebagainya,” ucap Nestri.

Hal serupa diungkapkan pula oleh salah satu narasumber praktisi yaitu Effan Adhiwira yang membuka studio sendiri (EFFStudio) yang berbasis di Bali.

“Para mahasiswa arsitektur selain mengenal material fabrikasi yang ada di manufaktur, hendaknya juga jangan melupakan material yang berasal dari alam sekitar atau material lokal yang mudah dijumpai di Indonesia seperti halnya bambu. Bahwa imagenya adalah bangunan murah dan segala macam, ya tugas kita untuk merubah itu,” tutur Effan.

“Saya dan pak Andry sudah mencoba merubah image itu, dan tentunya tidak hanya berhenti di situ. Para mahasiswa arsitektur juga bisa mengeksplorasi bambu, karena para mahasiswa lebih kreatif dan tanpa batasan budget segala macam.”

“Memasukkan elemen bambu dalam tugas-tugas mahasiswa pastinya juga akan lebih menarik. Kontemporer atau menggunakan bahan-bahan masa kini boleh, tapi jangan melupakan milik kita sendiri yang ada di alam sekitar,” tandas Effan.

“Keunggulan bambu sebagai material konstruksi antara lain dari sisi biaya lebih murah, lebih efektif, efisien dan eksplorasi desainnya bisa macam-macam.” (fas)

Kategori: ,