Urban Farming: Tren atau Kebutuhan?
Senin, 6 Juli 2020 | 11:18 WIB

TRB 6_07_2020 Urban Farming - Tren atau Kebutuhan

Oleh: Elisa Rinihapsari, M.Si.Med, Kandidat Doktor Pada Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata, ,Staf Pengajar Di Politeknik Katolik Mangunwijaya

URBAN farming menjadi satu istilah yang banyak mengemuka akhir-akhir ini. Berbagai seminar dan pelatihan online maupun offline menjamur di mana-mana. Bibit tanaman sayuran dan buah dalam pot laris manis, out of stock di toko pertanian maupun supermarket. Banyak orang mulai aktif bertanam di halaman rumah masing-masing. Gejala apakah ini? Sekedar ikut-ikutan agar kelihatan cinta lingkungan, atau sebenarnya merupakan kebutuhan dasar yang sudah saatnya diperhatikan?

Urban farming atau pertanian kota, adalah konsep mengubah lahan yang terbatas di perkotaan (pekarangan, balkon, atap, dinding, bahkan area di dalam rumah) menjadi tempat berkebun yang produktif. Umumnya, yang ditanam adalah sayuran, buah-buahan, umbi-umbian ataupun tanaman rempah aromatik yang bisa dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari, namun tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan budidaya peternakan yang tidak membutuhkan lahan besar, seperti ikan atau ayam. Ada begitu banyak metode yang tersedia untuk digunakan bagi yang ingin memulai urban farming, namun semua memiliki tujuan yang jelas, yaitu berkebun di rumah sendiri dengan memanfaatkan sarana apapun yang dimiliki. Urban farming umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri; namun mulai banyak yang membagikannya ke sekitar karena produksinya yang berlebihan. Dan bahkan tidak sedikit yang mulai melakukannya untuk alasan komersial.

Urban farming dan Ketahanan Pangan
Situasi pandemi menyadarkan kita, bahwa pemenuhan kebutuhan manusia ternyata sangat tergantung pada jalur distribusi. Ketakukan untuk keluar rumah, membuat banyak orang mengalami kesulitan mendapatkan akses pada produk-produk makanan, khususnya sayur-sayuran segar. Pembatasan jalur transportasi antarkota atau antarnegara, ternyata juga berperan besar dalam sulitnya memperoleh beberapa bahan makanan segar. Sempat terjadi kelangkaan beberapa jenis buah-buahan yang merupakan produk impor. Urban farming nampaknya dapat menjadi solusi dari permasalahan transportasi distribusi hasil pertanian. Jika setiap rumah tangga dapat memenuhi kebutuhannya sendiri akan sayur-sayuran dan produk segar lainnya, maka kita tidak terlalu tergantung pada petani yang nun jauh di sana, pun tak perlu tergantung pada panjangnya rantai distribusi, yang kadang berakibat pada tingginya harga produk di pasaran. Keluarga dan komunitas yang dapat memproduksi tanaman pangan sendiri, lebih terjamin dan mandiri dalam penyediaan sumber bahan pangan untuk kehidupannya sehari-hari.

Urban farming dan Kelestarian Lingkungan
Tanaman diketahui memiliki kemampuan menyerap karbondioksida di lingkungan, yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku fotosintesis, dengan produknya berupa oksigen dan karbohidrat. Urban farming berperan besar menyerap cemaran karbondioksida, sekaligus menyediakan suplai oksigen di udara. Akibatnya, semakin besar area yang ditumbuhi tanaman di perkotaan, akan semakin besar kemungkinan terciptanya udara perkotaan yang lebih bersih dan segar. Konsep urban farming dengan menerapkan zero waste agriculture juga dapat dipilih, sebagai salah satu solusi dari terus meningkatnya produksi sampah organik rumah tangga yang tidak terolah. Sisa sayuran dan buah-buahan yang tidak dikonsumsi, dapat dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik untuk tanaman yang dibudidayakan. Penggunaan metode zero waste agriculture memberikan banyak keuntungan, antara lain: dapat mengoptimalkan produksi makanan dengan cara yang ramah lingkungan, mengurangi konsumsi air dan penguapan, membatasi penggunaan pestisida melalui pertanian yang menerapkan keanekaragaman hayati, mendaur ulang energi dari pertanian, sehingga siklus energi dan hara dapat dipertahankan dalam satu sistem pertanian sederhana.

Urban farming dan Kesehatan
Bercocok tanam merupakan salah satu bentuk dari ekoterapi, yaitu istilah yang diberikan untuk berbagai program perawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan fisik melalui aktivitas luar ruangan di alam (Smith, 2015). Berada di luar ruangan dan berinteraksi dengan alam, memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Bukti menunjukkan bahwa interaksi dengan alam tidak hanya memengaruhi kesejahteraan sesaat, tetapi juga kesehatan sepanjang hidup. Interaksi dengan alam secara mental akan meningkatkan perasaan persahabatan, kasih sayang, dan sukacita, dan mengurangi emosi negatif, seperti kemarahan dankecemasan, mengurangi stres, mendorong pemulihan emosional,meningkatkan harga diri dan meringankan trauma. Terkait dengan alam menyebabkan peningkatan produksi serotonin, hormon kebahagiaan. Interaksi dengan alam akan menurunkan kadar protein C-reaktif dan kortisol dalam darah. Turunnya kadar protein C-reaktif dan hormon kortisol merupakan tanda bahwa tubuh menjadi lebih sehat dan bahagia.

Penggunaan pupuk dan pestisida sintetik dalam urban fanning bisa dikendalikan sendiri, sehingga makanan yang terhidang di meja makan kita, adalah makanan yang bebas residu bahan kimia. Mengonsumsi makanan yang bebas dari cemaran, jelas lebih menguntungkan dan memberi banyak manfaat bagi kesehatan.

Mencermati urban farming dari tiga sisi yang berbeda, nampaknya cukup membangkitkan kesadaran, bahwa setiap orang memiliki kebutuhan sekaligus kesempatan untuk terlibat dalam menjaga dan merawat bumi beserta isinya. Memulai menanam tanaman produksi di rumah sendiri, berarti berperan dalam menjamin ketahanan pangan di komunitas tempat kita berada; membantu kelestarian bumi yang harus kita jaga; namun juga dapat menjadi usaha untuk mempertahankan kesehatan diri dan keluarga.

►Tribun Jateng, 6 Juli 2020 kal. 2

Kategori: ,