Melayani Masyarakat dengan Rendah Hati
Rabu, 8 Juli 2020 | 11:51 WIB

TRB 8_07_2020 Melayani Masyarakat dengan Rendah Hati

Oleh: Aloys Budi Purnomo, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata

SEPENDAPAT dengan refleksi Iswidodo (Focus Tribun Jateng, 6/7), ijzinkan saya menggarisbawahi bahwa memasuki era kenormalan baru di tengah wabah Covid-19, kita berada dalam paradoks antara nyawa dan asa. Maka, baiklah kita semua tidak sembrana [baca: sembrono, bahasa Jawa).

Iswidodo benar, "New Normal atau tatanan kenormalan baru bukan bermakna kondisi sudah kembali normal seperti sediakala sebelum pandemi," melainkan "harus dipahami bahwa kebiasaan terdahulu diubah dan menyesuaikan protokol kesehatan," sebab "ancaman virus corona masih ada, dan belum ditemukan antivirusnya" (Tribun Jateng, 6/7, h. 2).

Sikap setuju ini terhubung dengan rasa syukur atas karunia tahbisan imamat, yakni ketika 24 tahun silam kami ditahbiskan menjadi pastor dalam tradisi Gereja Katolik. Sejak lulus SMP dan masuk Seminari Mertoyudan, Magelang tahun 1984 hingga ditahbiskan, 8 Juli 1996, kami digembleng untuk mengutamakan keselamatan jiwa (cura animarum). Iswidodo menggunakan kalimat serupa, dan itu tepat benar: salus populi suprema lex est, keselamatan masyarakat adalah yang utama. Bagaimana mewujudkannya?

Semangat pelayanan
Prinsip cura animarum tidak mengedepankan kekuasaan melainkan semangat pelayanan. Semangat serupa mestinya dihayati siapa pun dalam memasuki masa kenormalan baru. Terutama, para pemimpin kita, baiklah mengedepankan semangat pelayanan kepada masyarakat, bukan demi keuntungan pribadi. Apalagi tega mengorupsi dana bansos bencana pandemi. Korupsi dana bansos itu haram, berlawanan dengan semangat pelayanan.

Lalu, bagi kita, warga masyarakat, mari kita ambil contoh paling sederhana. Meski tampaknya sepele, disiplin mengenakan masker saat kita meninggalkan rumah, ruangan kerja, berjumpa dengan orang lain, atau saat beribadah; itulah wujud sederhana semangat pelayanan kepada sesama.

Saat bersecara faktual, mengenakan masker menjadi semangat pelayanan untuk keselamatan nyawa sendiri dan sesama warga masyarakat. Karenanya, balk sekali bila, misalnya, rumah-rumah ibadah menyediakan masker bagi jemaah yang tidak bermasker.

Faktanya, virus corona menyebar menular melalui mulut, hidung, dan mata. Perjumpaan kita dengan seseorang yang sedang -disadari entah tidak – terjangkit virus corona menjadi cara paling gampang penularan dan penyebaran virus itu. Maka, pentinglah mengenakan masker.

Perlu kita sadari bersama, secara matematis, perjumpaan dua orang tanpa masker, bila salah satunya menjadi pembawa virus corona, mengandung risiko penularan 100 persen. Kalau kita berjumpa dengan seseorang yang menjadi pembawa virus corona yang tanpa mengenakan masker, meski kita sendiri sudah mengenakannya, risiko penularan masih 70 persen. Sementara perjumpaan dengan pembawa virus korona yang sudah mengenakan masker dengan seseorang yang tanpa masker, risikonya mengecil menjadi 5 persen. Sedangkan bila dua orang mengenakan masker, yang satu pembawa virus corona yang lain sehat, risikonya hanya 1,5 persen (rsmitrap-lumbon.com, 20/4).

Karenanya, memakai, masker amat penting bukan hanya untuk kesehatan diri sendiri, tetapi juga terutama keselamatan sesama kita. Persis di sinilah, secara eco-spiritual, mengenakan masker menjadi bagian dari semangat pelayanan dan keselamatan nyawa diri sendiri dan sesama. Memakai masker di era kenormalan baru menjadi vital sebab menyelamatkan keterhubungan kita dengan sesama, wujud pelayanan bagi sesama!

Kerendahan hati
Menyelamatkan nyawa dan membangun asa kehidupan bersama yang sehat dan bertanggung jawab membutuhkan pula kerendahan hati. Mungkin terdengar aneh, namun ini sungguh nyata. Sikap sembrana berlawanan dengan kerendahan hati. Rendah hati itu ekologis!

Kerendahan hati bersifat universal, tanpa pandang agama dan kepercayaan, berlaku untuk semua orang dalam membangun kehidupan bersama yang saling menghargai. Itulah sebabnya, kerendahan hati disebut sumber segala keutamaan dalam kehidupan kita.

Kata kerendahan hati secara etimologis diterjemahkan dari bahasa Latin, humus-humilis yang berarti tanah subur. Kita semua mengenal dan faham dengan humus dalam bahasa Indonesia yang juga berarti tanah subur. Setiap benih yang ditaburkan di atas tanah yang subur akan bertumbuh dengan baik pula, dan menghasilkan buah yang balk juga.

Karenanya, kerendahan hati akan menghasilkan banyak ragam kebaikan dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun bersama. Secara ekologis, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk merawat tanah dengan baik, bukan merusaknya. Ketika kesuburan tanah tetap terjaga, para petani dapat menaburkan benih-benih yang baik yang menghasilkan panenan dan menyediakan bahan pangan kepada umat manusia.

Di sinilah, kerendahan hati merawat tanah dan bumi menjadi kunci pula bagi keselamatan nyawa dan menjaga asa kehidupan bersama. Karenanya, hentikan aroganst merusak dan menambang bumi, yang pada gilirannya akan merusak tanah, air, udara, dan mengancam keselamatan manusia sendiri.

Mari kita memasuki era kenormalan baru ini dengan semangat melayani masyarakat dalam kerendahan hati. Asa mewujudkan keselamatan nyawa kita sendiri dan sesama pun dihadirkan ber-sama-sama.

►Tribun Jateng 8 Juli 2020 hal. 2

Kategori: ,