Lebih Bijak Gunakan Energi Kita
Senin, 22 Juni 2020 | 10:51 WIB

Work smarter”. Itulah motto hidup Savitri Prasetyaningrum, sebagai salah seorang wisudawan terbaik dari dari Program Studi Magister Profesi Psikologi Unika Soegijapranata dengan IPK 3,60. Wanita kelahiran Surakarta, 31 Oktober 1991 ini mengambil motto hidupnya tersebut karena menurutnya dengan work smart kita lebih bijak untuk menggunakan energi kita.

Savi, yang mempunyai hobi travelling, gaming, nonton film ini ternyata sebelumnya adalah alumni dari Unika Soegijapranata.

“Pengasuhan Sebagai Mediator Resiliensi pada Ibu Dalam Memengaruhi Kemandirian Anak dengan Down Syndrome” adalah judul tesis yang dipilihnya. “Berawal saat PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi), saya mengambil anak down syndrome sebagai subjek kasus kelompok saya”, jelasnya. Menurutnya, yang Ia temukan adalah bahwa meskipun ada karakteristik pada anak-anak down syndrome yang sangat khas tetapi ada hal-hal yang sangat mempengaruhi perkembangan mereka, hingga pada akhirnya memiliki kemampuan yang berbeda pada setiap aspek perkembangan anak-anak down syndrome tersebut.

Putri dari pasangan dr Idong Setyo Husodo SpAn dan dr Endang Kartini Purwaningsih diam-diam ternyata sedang dalam proses melamar ke Perusahaan Cudy. Perusahaan Cudy sendiri adalah perusahaan asal Singapura yang baru mulai masuk ke Indonesia.

Anak ketiga dari 3 bersaudara tersebut juga aktif dalam berbagai kegiatan. Selama S2 Ia pernah bergabung dengan PPT Soegijapranata sebagai asisten psikolog, Ia beberapa kali freelance sebagai asisten psikotes atau tester rekruitmen perusahaan, Ia juga menjadi volunteer konselor online di Tanya Psikolog.

Dari seluruh kegiatan yang banyak itu Ia mempunyai cara tersendiri untuk membagi waktunya. “Semester awal S2 tidak ada kendala sama sekali untuk membagi waktu. Tetapi sejak PKPP saya harus mencari strategi untuk membagi waktu”, tuturnya. Sebab menurutnya, PKPP pada saat itu, mahasiswa mencari lokasi atau subjek sendiri untuk melakukan praktek, merancang dan melakukan asesmen, merancang modul intervensi sampai memberikan intervensi psikologi hingga terjadi perubahan yang signifikan pada subjek dan tentunya bimbingan dengan dosen.

“Di pertengahan PKPP, setelah tugas turun ke lapangan selesai dan tinggal mengerjakan laporan, saya bergabung dengan PPT Soegijapranata menjadi asisten psikolog,”ungkapnya. Menurutnya, asisten S2 saat itu tidak hanya membantu asesmen dan intervensi klien, tetapi juga membuat laporan hasil klien. Hal ini juga membuat saya harus pandai membagi waktu.

Untuk mencapai sebuah kesuksesan tentunya pasti ada upaya yang dilakukan sekaligus hambatan yang dihadapi. Ia pun bercerita bahwa salah satu hambatan yang dirasa paling berat adalah ketika PKPP. Menurutnya selama PKPP terjadi banyak perubahan kebijakan sehingga ada beberapa hal yang istilahnya menjadi dua kali kerja. Ia pun juga merasa down, stress, dan tidak semangat.

Untuk mengatasinya Ia mengambil jeda 1-2 hari untuk istirahat atau refreshing agar lebih sehat juga secara mental. Ia juga sharing kepada teman satu perjuangan, curhat dengan sahabat atau pasangan atau orangtuanya.

Ia pun berpesan kepada adik tingkat agar terus semangat dan jangan berhenti. “When you feel like quitting, think about why you started and just slow your speed.” Lalu bagi yang ingin melanjutkan studi profesi psikologi, bukan hanya intelektual yang perlu dipersiapkan tetapi juga mental, pungkasnya. (Thobie)

Kategori: ,