Belajar dari Kegagalan
Senin, 22 Juni 2020 | 10:45 WIB

A person who never made mistake never tried anything new” – Albert Einsten. Itulah motto hidup dari seorang Yenny Kumalasari Tedjopranoto sebagai salah satu wisudawan terbaik dari Program Studi Akuntansi Unika Soegijapranata dengan IPK 3,89 pada wisuda Periode II tahun 2020. Wanita kelahiran Semarang, 2 April 1998 mempunyai alasan tersendiri dalam memilih motto hidup tersebut. Menurutnya orang yang pernah mengalami kegagalan pasti sudah tahu akan sulitnya menghadapi masalah itu, maka Ia  belajar untuk tidak berbuat keselahan yang sama lagi dan memperbanyak pengalaman yang baru.

Yenny yang katanya  mempunyai hobi bermain game, menonton film dan menggambar, sebelum kuliah di Unika Soegijapranata, dia bersekolah di SMA Santa Maria Rembang. Ia juga bercerita tentang kesukaannya pada angka yang membuatnya masuk ke jurusan akuntansi. “Dari dulu saya suka pada angka, saya suka dengan hitungan, maka saya memilih akuntansi sebagai jurusan yang sesuai dengan minat saya.”

“Pengaruh Umur CEO, Struktur Dewan Komisaris, Frekuensi Rapat Komite Audit, Konsentrasi Kepemilikan, Dan Tenur Audit Terhadap Volatilitas Idiosinkratik” adalah judul skripsi dari Yenny. “Awalnya judul ini dari penelitian payung dosen pembimbing saya dan bersama partner saya Agatha. Dari penelitian payung itu saya mengembangkan skripsi saya dengan menambah variabel”, tuturnya.

Menurutnya, dalam mata kuliah yang berhubungan dengan investasi saya mempelajari bagaimana caranya untuk membentuk suatu portofolio saham. Dari situ saya tertarik untuk meneliti naik turunnya harga saham perusahaan dipengaruhi oleh apa saja. “Bukan cuma pengaruh eksternal saja yang bisa mempengaruhi naik turunnya harga saham tetapi juga keadaan internal perusahaan”, tambahnya. Menurutnya, kinerja perusahaan mempengaruhi harga saham. Apabila perusahaan memiliki pengawasan dan kinerja yang baik maka akan meningkatkan kepercayaan investor. Sehingga naik turunnya harga saham tidak terlalu tinggi atau volatilitasnya rendah.

Putri dari Soeharto Tedjopranoto dan Ma Lie Hwa ini diam-diam ternyata  pernah ikut dalam panitia ecofest 2019, panitia PTMB 2019, panitia SSC 2019, dan jadi pengurus UKM Paraga 2017/2018. Menurutnya yang didapat dari mengikuti kepanitiaan adalah pengalaman baru, teman-teman yang baru, dan kita dapat mengetahui cara untuk dapat menghadapi masalah, dan mampu memprioritaskan kegiatan mana yang lebih penting.

Anak ketiga dari tiga bersaudara tersebut sempat mengalami hambatan ketika pertama masuk kuliah yakni mengenai adaptasi di lingkungan Unika. “Susahnya dalam hal pergaulan karena lingkungan baru jadi teman-teman yang baru”, tuturnya.

Memang kegiatan yang dimiliki oleh Yenny amat banyak. Namun Ia juga mempunyai cara untuk membagi waktu. “Tahu saat kapan belajar dan saat berorganisasi”, jawabnya. Menurutnya, kalau ada tugas kuliah biasanya lebih mudah dikerjakan dengan cara dicicil terlebih dahulu. Ia pun berpesan supaya adik-adik tingkatnya dapat belajar dengan rajin dan jangan lupa pintar-pintar membagi waktu. (Thobie)

Kategori: ,