Webinar FTP Ulas COVID-19 dan Budaya Keamanan Pangan
Jumat, 29 Mei 2020 | 22:01 WIB

Kiri ke kanan: Inneke Hantoro, STP, M.Sc (moderator), Mellia Harumi, S.Si, M.Sc (narasumber), dan Prof. Budi Widianarko (narasumber) dalam Webinar COVID-19 dan Budaya Keamanan Pangan

Sebuah serial webinar ke-4 telah diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata pada Kamis (28/6). Masih dalam rangkaian tema “Menyemai Harapan di Tengah Pandemi”, webinar kali ini mengangkat topik perbincangan mengenai COVID-19 dan Budaya Keamanan Pangan.

Hadir dalam webinar kali ini dua narasumber Prof. Dr. Ir. Budi Widianarko, M.Sc (dosen FTP Unika) yang memaparkan COVID-19 dan Penguatan Budaya Keamanan Pangan serta Mellia Harumi, S.Si, M.Sc (dosen FTP Unika) yang membahas Sanitizer dan Desinfektan.

Webinar yang diselenggarakan melalui platform e-learning Unika ini dihadiri oleh 187 peserta yang berasal dari dosen dan mahasiswa Unika, peserta dari luar Unika, serta siswa SMA.

Dalam pemaparannya, Prof. Budi Widianarko menyampaikan bahwa dalam masa pandemi COVID-19 ini dapat diamati munculnya trisula perilaku yang diterapkan oleh masyarakat yaitu mencuci tangan, penggunaan masker, dan melakukan physical distancing. Ketiga perilaku ini punya implikasi yang luar biasa untuk keamanan pangan. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan.

Karena adanya pembiasaan trisula perilaku, praktek hygine di masyarakat berubah menjadi kebiasaan hingga pada akhirnya dapat menjadi sebuah budaya keamanan pangan. Dalam budaya keamanan pangan, perilaku dari para pelaku pangan menjadi penentu. Budaya kemananan pangan ini harus dibentuk dan dijalankan oleh semua pelaku usaha pangan.

“Persoalan keamanan pangan lebih banyak terjadi akibat perilaku manusia. Prinsip kehati-hatian atau pre-cautionary principle biasanya sulit diterapkan karena manusia cenderung terjebak dalam optimistic bias dan mengalami cognitive dissonance. Individu yang punya pengetahuan tentang risiko keamanan bisa saja tetap melakukan pengingkaran karena memiliki keyakinan bahwa risiko itu tidak akan terjadi. Akar permasalahan ini berasal dari konteks budaya yang mengatakan bahwa kotor sedikit tidak apa-apa. Maka, tantangan saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan antara risk awareness (kepedulian pada risiko) dengan risk taking behaviour (perilaku mengambil risiko),” ungkap Prof. Budi dalam sesi.

Industri pangan diuntungkan dalam budaya keamanan pangan dengan adanya pembiasaan cara hidup sehat yang terus diakselerasi selama masa pandemi ini. Fokus dalam perubahan perilaku akan menimbulkan perbaikan yang lebih cepat, dan perlahan juga akan mengubah perasaan, kepercayaan, dan pola pikir individu.

“Dengan adanya pembiasaan selama masa pandemi ini, mudah-mudahan prinsip kehati-hatian ini terbiasakan dan terinternalisasi. Perilaku dari semua pihak yang terlibat dalam proses pengolahan pangan menjadi prasyarat yang mendasari sistem manajemen keamanan pangan. Para pelaku usaha pangan, pekerja di bidang pangan, konsumen pangan, dan mereka yang bekerja dalam bidang food delivery mendapatkan pencerahan tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku dengan adanya pembiasaan cara hidup bersih dan sehat,” ungkap Prof Budi.

Pada masa pandemi ini, masyarakat juga menjadi lebih familiar dengan penggunaan sanitizer dan desinfektan. Dalam sesinya, Mellia Harumi menerangkan bahwa keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meminimalisir atau menonaktifkan mikroorganisme pada suatu permukaan. Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada aplikasi penggunaannya.

“Sanitizer biasanya digunakan untuk peralatan yang kontak langsung dengan makanan atau food handling equipment dan dapat juga digunakan pada manusia. Sedangkan desinfektan digunakan pada permukaan benda mati yang memiliki hard surface, dan tidak digunakan pada manusia. Kadar konsentrasi yang digunakan pada keduanya pun berbeda, walaupun bahan yang digunakan mungkin sama,” terang Mellia.

Pemilihan sanitizer juga sebaiknya memerhatikan rentang efektivitas dan sifat dari bahan yang digunakan. Bahan-bahan yang digunakan sebagai antimikroba bersifat oksidator kuat, iritant dan toksik. Namun sifat iritant dan toksik ini dapat diminimalkan dengan penggunaan konsentrasi yang sesuai. Pemilihan bahan sanitizer pun harus difokuskan pada tujuan yang spesifik untuk mereduksi jenis mikoorganisme tertentu.

Rekomendasi WHO untuk bahan sanitizer adalah etanol 80% atau ispropil alkohol 75% yang digunakan untuk menonaktifkan virus. Sedangkan bahan gliserol ditambahkan untuk melembabkan, dan hidrogen peroksida sebagai agen pengoksidasi digunakan dalam kadar rendah untuk meminimalkan iritasi. “Ketika membuat hand sanitizer sendiri, takaran dan pencampuran komposisi bahan yang digunakan juga harus sesuai dengan rekomendasi untuk menghindari bahaya iritasi dan luka bakar,” terang Mellia.

Dalam menangani bahan-bahan kimia, sebaiknya digunakan sarung tangan dan masker. Bahan-bahan kimia juga harus disimpan pada tempat yang aman dan dijauhkan dari jangkauan anak-anak.

Virus penyebab COVID-19 termasuk dalam kelompok envelope virus yang terselubung oleh lemak. Kemiripan dengan envelope virus yang lain seperti HIV, herpes, influenza, hepatitis menjadi dasar pemilihan bahan desinfektan, karena virus dalam kelompok yang sama memiliki karakteristik yang serupa.
Desinfectan chamber sebenarnya tidak disarankan untuk digunakan pada manusia karena dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk saluran pernapasan, mata, mulut. Terlebih bila terpapar secara terus-menerus akan dapat menimbulkan iritasi mata, kulit, dan pernapasan. Desinfektan bisa digunakan untuk gagang pintu, meja, atau permukaan benda yang tidak kontak langsung dengan makanan dan manusia.

“Untuk meminimalkan kontaminasi dan menjaga keamanan pangan, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah menyimpan bahan pangan dengan memisahkan bahan pangan mentah dan bahan pangan yang siap makan, mencuci tangan sebelum menangani bahan pangan, mencuci bahan pangan mentah sebelum diolah, serta membersihkan area memasak,” pungkas Mellia.

(B. Agatha)

Kategori: ,