Transportasi Higienis, Kebutuhan Penting Saat "New Normal"
Jumat, 29 Mei 2020 | 9:25 WIB

image

Pandemi Covid-19 mengubah tatanan dan cara beraktivitas masyarakat. Selain itu, beragam kebiasaan juga diprediksi akan disesuaikan guna mencegah penularan virus semakin meluas.

Meski pandemi disebut belum berakhir, namun di Indonesia, banyak pihak mulai memperbincangkan protokol new normal atau tatanan kehidupan normal baru.

Bahkan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengeluarkan panduan mitigasi Covid-19 di tempat kerja.

Menurut Terawan, dalam situasi pandemi Covid-19 roda perekonomian harus tetap berjalan dengan mengedepankan langkah-langkah pencegahan.

Dengan demikian, diharapkan panduan yang dikeluarkan dapat meminimalisasi risiko dan dampak pandemi di tempat kerja.

Akan tetapi, potensi penularan Covid-19 tak hanya terjadi di tempat kerja. Para pekerja bisa saja tertular selama perjalanan.

Lalu pertanyannya, bagaimana dengan transportasi publik harus dijalankan selama fase ini?

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan, transportasi saat ini perlu menekankan pada aspek keamanan, kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan.

"Goal-nya adalah transportasi higienis," tutur Djoko menjawab pertanyaan Kompas.com, Kamis (28/5/2020).

Untuk menuju ke tujuan itu, maka Kementerian Perhubungan perlu membuat regulasi pendukung bersama dengan para operator transportasi.

Tak hanya itu, Djoko menuturkan, jika dulu transportasi berfokus pada mengatur kapasitas, maka saat ini transportasi publik perlu memerhatikan besaran kapasitas.

Ini artinya, armada transportasi publik tidak lagi berfokus pada bagaimana mengangkut penumpang sebanyak-banyaknya, namun pada kapasitas armada.

Sebelumnya, transportasi umum di kota-kota besar berfokus pada bagaimana mengangkut warga secara massal dalam satu armada.

Sementara di kota kecil biasanya hanya menyediakan transportasi dengan kapasitas yang berbeda.

"Kalau dulu kan kota besar busnya besar, kalau kota kecil ngapain? Cukup angkot aja. Sekarang kita enggak bicara itu lagi, sekarang kita bicara besaran kapasitasnya," kata Djoko.

Nah, jika memang ingin diterapkan demikian, maka sarana lainnya termasuk lebar jalan juga perlu dipersiapkan.

"Berarti nanti ujungnya jalan-jalan kita juga harus standar. Masuk perumahan jalan-jalannya kecil-kecil, sempit-sempit, gimana angkutan mau masuk," ujar Djoko.

Bicara mengenai transportasi publik selama masa new normal ini pun bukan hanya memastikan keamanan dan kesehatan penumpang selama memanfaatkan moda tersebut, namun juga mengurangi potensi paparan virus saat harus berpindah angkutan.

Djoko menilai jalan-jalan menuju ke permukiman pun perlu diperlebar. Dengan demikian, angkutan umum lain dapat menjangkau wilayah-wilayah permukiman.

Selain itu, masyarakat biasanya memanfaatkan ojek daring guna menjangkau area-area terpencil.

Untuk hal ini, Pemerintah mengimbau para pekerja untuk memakai helm sendiri. Namun, masyarakat bisa memanfaatkan transportasi lain seperti bajaj.

"Itu roda tiga umpamanya, ada pembatasnya dan tidak tergantung aplikator juga. Di Srilanka itu ada pake meter segala," ucap dia.

Peneliti Laboratorium Transportasi Unika Soegijapranata ini mengatakan, Pemerintah dan operator transportasi bisa meniru cara operasionalisasi angkutan umum di Kota Shanghai.

Kasus Covid-19 di kota ini sekarang sudah mengalami penurunan. Hal itu membuat transportasi umum kembali dibuka dan membuat penggunanya meningkat.

Akan tetapi perusahaan transportasi kota tidak mau mengambil risiko. Djoko mengatakan, Shanghai Sunwin Bus Corporation (Sunwin) atau penyedia angkutan umum terkemuka di kota tersebut telah meluncurkan Healthcare Bus.

Armada ini secara khusus dirancang guna mengurangi risiko penularan Covid-19 yang berfokus pada penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligen (AI).

"Saat penumpang masuk bus, sistem AI yang dipasang di sebelah mesin tiket akan melakukan pengecekan wajah penumpang dan mengecek suhu thermal badan menggunakan infrared," kata dia.

Sistem ini secara otomatis dapat mengidentifikasi penggunaan masker dan memberitahu kondisi setiap penumpang.

Proses pengecekan secara otomatis ini mengurangi adanya kontak fisik antara penumpang dengan petugas dan tidak menimbulkan antrean panjang pada jam-jam sibuk.

Bukan itu saja, di dalam bus terdapat pencahayaan ultra violet (UV) di dalam saluran udara yang berguna untuk mensterilkan dan membunuh virus.

Dengan demikian, virus-virus tersebut tidak dapat mereplikasi dan menghilangkan sumber infeksi.

Sistem penyaringan udara dalam setiap bus juga ditingkatkan yang memungkinkan seluruh ruangan di dalam bus disterilkan dalam 20 menit.

https://properti.kompas.com/read/2020/05/28/205525121/transportasi-higienis-kebutuhan-penting-saat-new-normal?page=all

Kategori: