Serial Diskusi Online Magister Psikologi Unika – Tetap Tangguh Menghadapi Pandemi Covid-19
Selasa, 19 Mei 2020 | 13:37 WIB

Serial Diskusi Online Magister Psikologi Unika Soegijapranata Jumat (15/5)

Menyikapi Pandemi Covid 19 yang telah berlangsung tiga bulan belakangan, Magister Psikologi Unika menyelenggarakan Serial Diskusi Online dengan tema: Tetap Tangguh Menghadapi Covid 19. Serial diskusi diselenggarakan selama 2 (dua) sesi. Sesi pertama telah terselenggara pada tanggal 15 Mei 2020 lalu, adapun sesi kedua dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 29 Mei 2020.

Dalam penjelasannya Dr A Rahmad Djati Winarno, selaku Ketua Program Studi Magister Psikologi  mengatakan Pandemi Covid-19 berdampak serius pada penurunan derajat kehidupan serta memberi tekanan bagi semua.

“Beradaptasi terhadap tekanan merupakan kunci agar siapapun mampu melewati masa sulit dengan selamat. Manusia pada dasarnya memiliki daya psikologis yang dapat diandalkan menghadapi masa sulit. Selalu ada harapan ketika mampu merawat dan mengelola daya psikologis sebagai kekuatan menghadapi berbagai tekanan. Serial diskusi ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama menemukan kiat-kiat tetap tangguh menghadapi Pandemi Covid 19,” jelas  Rahmad Jati.

Diskusi sesi pertama, menghadirkan dua narasumber yaitu Dr Siswanto, dengan kepakaran Psikologi Klinis membahas tentang Kesehatan Mental serta Dr Ferdinand Hindirto dengan kepakaran Psikologi Industri dan Organisasi membahas Psychological Capital. Kedua narasumber tersebut merupakan pengajar di Magister Psikologi. Pada sesi ini dihadiri peserta dari kalangan dosen, mahasiswa maupun peserta dari kalangan umum.

Siswanto memaparkan tentang Kesehatan Mental di Masa Pandemi. Menurutnya, respon ketakutan ataupun kecemasan terhadap covid 19 sebagai hal yang wajar. Hal tersebut karena covid 19 merupakan virus berbahaya bahkan mematikan dan sejauh ini belum ditemukan vaksin penangkalnya. Namun hal tersebut dapat dicegah dengan berperilaku sesuai protokol kesehatan. Namun disayangkan kemudian terjadi banjir informasi ataupun pemberitaan yang tidak proporsional, yaitu dengan mendramatisis informasi negatif covid 19. Hal ini memicu terjadinya bias kognisi yaitu timbulnya keyakinan pada masyarakat berpusat pada informasi negatif yang kemudian meningkatkan kecemasan yang berlebihan. Atau justru memicu terjadi tanggapan berlawanan, yaitu dengan maraknya perilaku denial ataupun mengabaikan bahaya covid 19.

Menurut Siswanto, menghadapi  pandemi covid 19 dapat melalui tiga tahap yaitu: terganggu – adaptasi – resiliensi. Pada bulan ketiga ini seharusnya masyarakat sudah mulai beradaptasi dengan mengembangkan perilaku ataupun kebiasaan baru, yaitu berdamai dengan covid 19. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan psikologi positif. Meskipun sedang menghadapi musibah tetap menjalani hidup dengan senang, bersemangat, tetap bahagia dan saling perduli. Siswanto menyarankan untuk lebih rileks, melakukan relaksasi, perbanyak aktivitas fisik seperti olahraga, menyalurkan hobi dan lebih fokus pada informasi positif tentang covid 19.

Narasumber lain yaitu Ferdinand Hindiarto mengupas peran Psychological Capital (Psycap) sebagai modal utama untuk pulih dan bangkit. Menurutnya pandemi covid 19 ini sangat menghantam aspek psikologis manusia. Pertama, karena  kita belum pernah mengalaminya yang kemudian menimbulkan berbagai macam efek psikologis: kekecewaan, kekhawatiran, kecemasan, ketakutan dan bahkan depresi, Kedua, karena kita tidak tahu kapan wabah ini akan berakhir.

“Dampak psikologis ini justru lebih berbahaya dibandingkan dampak riilnya secara medis.  Dalam perspektif psikologi positif, manusia memiliki beberapa capital (modal) dan modal yang paling berharga pada situasi seperti ini adalah psychological capital (psycap),” papar Ferdinand.

Pengelolaan psycap yang tepat akan membuahkan hasil yang optimal pula. Psycap terdiri atas empat komponen, yaitu: hope (kemampuan untuk melihat bahwa ada situasi yang lebih baik di masa depan); optimism (kemampuan untuk melihat kekuatan diri sebagai penentu sebuah keberhasilan); efficacy (kepercayaan diri untuk melakukan sesuatu dalam menghadapi tugas dan situasi yang sulit) dan resiliency (kemampuan bertahan dari situasi sulit hingga mampu mencapai keadaan yang lebih baik. Keempat komponen tersebut memiliki sifat saling melengkapi dan saling memperkuat untuk menghasilkan perilaku yang kuat dalam kerangka pemulihan menuju situasi yang lebih baik.

Secara keseluruhan diskusi sesi pertama berlangsung lancar dan menarik. Meskipun dilakukan secara online, namun peserta mampu menyampaikan pendapat dan pertanyaan melalui fasilitas chatting, sehingga jawaban narasumber pada umumnya mampu memuaskan peserta. Seperti testimoni seorang peserta usai mengikuti diskusi yang menuliskan kesannya:”Terima kasih untuk kedua narasumber, saya cukup puas mendengar jawaban dan penjelasan tadi”.

 

Kontributor:

DP Budi Susetyo

Kategori: ,