Korban Kekerasan Anak jika Tidak Ditolong, Bepotensi Besar Menjadi Pelaku Kejahatan
Selasa, 19 Mei 2020 | 12:21 WIB

image

Analisaku korban mengalami kekerasan emosi dan kekerasan seksual, kekerasan emosi dalam bentuk pengabaian dari orangtuanya atau bahkan penolakan, perlakuan tidak menyenangkan dari ibu angkatnya ataupun pengabaian dari bapaknya

Kasus pembunuhan anak umur lima tahun yang dilakukan oleh seorang remaja perempuan berumur 14 tahun, di Sawah Besar , Jakarta Pusat, di awal Maret lalu kembali mendapat perhatian khalayak ramai.

Hal ini ramai setelah remaja beinisial NF tersebut mengakui mengalami tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya yakni oleh dua pamannya serta pacarnya yang harusnya mereka menjadi orang-orang yang melindungi gadis tersebut.

Akibat dari perbuatan orang-orang terdekatnya itu, saat ini NF mengandung usia 14 minggu.

Adanya temuan baru ini membuat benang merah kasus pembunuhan sadis ini mulai terkuak, kenapa NF yang masih belia bisa menjadi pembunuh berdarah dingin.

Seorang psikolog, Kuriake Kharismawan SPsi MSi Psikolog, saat dimintai tanggapan kasus tersebut oleh KUASAKATACOM mengatakan pelaku NF ini mengalami kesakitan emosi yang luar biasa.

"Analisaku korban mengalami kekerasan emosi dan kekerasan seksual, kekerasan emosi dalam bentuk pengabaian dari orangtuanya atau bahkan penolakan, perlakuan tidak menyenangkan dari ibu angkatnya ataupun pengabaian dari bapaknya, dan ia mengalami kekerasan seksual. Kekerasan seksual dari orang dekat (paman-pacar) sangatlah menyakitkan, karena orang yang harusnya melindungi atau memberi rasa aman, malah melakukan kekerasan," kata dosen fakultas psikologi, Unika Soegijaparanata Semarang tersebut.

Kekerasan tersebut, lanjutnya menghasilkan energi emosi negatif. Semakin seseorang merasa sakit hati, maka energi emosi negatif semakin besar. Jika energi emosi negatif ini tidak ditransformasikan maka ia akan ditransferkan atau disalurkan.

"Ada dua model menyalurkan, model pertama ke diri sendiri dengan menjadi sakit kepala, naiknya asam lambung, gatal eksim, rambut rontok, hingga menjadi pemurung, selalu negatif, maupun menjadi pecandu narkoba," ungkapnya.

"Model kedua menyalurkan ke orang lain, dengan menjadi pelaku kekerasan. Dan menurutku yang kedua ini yang terjadi pada si pelaku, ia melampiaskan dan menyalurkan energi negatifnya dengan menonton film horror dan mengembangkan fantasi kekerasan atau kekejaman. Namun itupun tidak cukup, ia membunuh anak kecil tetangganya itu," lanjutnya.

Kuriake atau akrab dipanggil Ake menambahkan, apa yang dialami pelaku pernah dikupas dalam bukunya yang berjudul "Pendampingan Psikologis Pada Anak yang Mengalami Kekerasan". 

Dibuku tersebut disebutkan seorang yang tumbuh dengan pelecehan seksual di beberapa tahun pertama paska kejadian akan mengalami penderitaan besar yang akhirnya mengubah kepribadian dan karakter mereka. Mereka akan tumbuh dengan kewaspadaan tinggi, dan kehidupan mereka didominasi oleh intinsct fight atau flight.

Kekerasan yang dialami oleh anak-anak, membuat mereka kehilangan kesempatan untuk menjalani hidup mereka dengan ceria dan bahagia. Pengalaman kekerasan, entah kekerasan fisik, emosional ataupun seksual dan penelantaran akan meninggalkan jejak seumur hidup bagi yang mengalaminya.

Dampak dari pengalaman kekerasan pada anak dapat dikategorikan dalam berbagai bidang psikologis, interpersonal, dan perilaku. Beberapa gangguan hanya muncul untuk jangka waktu pendek dan menghilang tanpa intervensi, namun sebagian besar akan bertahan hingga mereka menjadi dewasa.

Sebagian besar penyintas menyembunyikan pengalamannya dan tidak mencari pertolongan. American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menemukan bahwa anak-anak yang mengalami pelecehan seksual pada masa prasekolah namun gagal teridentifikasi akan muncul menjadi anak yang sangat nakal dan bertindak kriminal pada saat usia 7-10 tahun (NAPSAC, 2008). Laporan ini menyoroti  pentingnya dan kebutuhan untuk  melatih guru Paud dan TK, orang tua dan pengasuh untuk mengenali gejala-gejala anak yang mengalami kekerasan dan untuk memberikan intervensi sedini mungkin.

"Jika seseorang mengalami kekerasan entah kekerasan fisik, seksual ataupun emosi (dimaki-maki, diabaikan, diolok, dibully, diusir) maka orang itu akan memiliki luka batin," ucap Ake.

Jika anak tidak dipulihkan atau disembuhkan maka luka batinnya akan merusak ke dalam dan keluar. "Kedalam yaitu ke dirinya sendiri, dengan menjadi pribadi yang tertutup, menjadi pecandu, melukai diri sendiri dan lain-lain. Untuk merusak keluar dengan cara melukai orang lain, menyerang orang lain, kasar dengan orang lain, hingga melakukan kekerasan pada orang lain," bebernya lagi.

Dari tindakan pelaku NF yang melakukan tindak kejahatannya dengan tenang itu sudah menunjukkan pelaku mengalami gangguan kejiwaan. "Perilaku membunuh dengan menyiksa sudah indikasi ia mengalami gangguan, ia tidak merasa bersalah, melakukan dengan tenang, bahkan sebelum melapor dan menyerahkan diri ke polisi sempat untuk ganti baju terlebih dulu," kata Ake.

Ini indikasi pikirannya tidak utuh. "Sebagian mengetahui bahwa ia melakukan hal yang salah, namun sebagian lain tidak mampu memikirkan implikasi panjangnya, bahwa ia akan dipenjara. Sehingga ia tidak merasa takut. Sebagian lain lagi ia tidak merasa kashian dan sedih, emosinya seakan tumpul," ucap  Ake.

"Anak ini terluka dengan perpisahan orang tuanya, marah namun tidak diekspresikan lukanya dipendam sendiri, Ia tidak ada teman, Ia simpan sendiri," pungkas Ake.

https://kuasakata.com/read/berita/13379-korban-kekerasan-anak-jika-tidak-ditolong-bepotensi-besar-menjadi-pelaku-kejahatan

Kategori: