Kenaikan Isa Al-Masih dan Hari Kebangkitan Nasional
Selasa, 26 Mei 2020 | 10:16 WIB

TRB 20_05_2020 Kenaikan Isa Almasih dan Hari Kebangkitan Nasional

Oleh: Aloys Budi Purnomo, Ronaniwan Katolik, Budayawan Interreligius

TANGGAL 20 Mei 2020 adalah Hari Kebangkitan Nasional, konteksnya kebangsaan. Sejak runtuhnya Orde Baru, 21 Mei menjadi kenangan syukur bagi para pejuang kemanusiaan dan keadilan. Tanggal 21 Mei 2020 adalah juga Hari Kenaikan Isa AI-Masih (Yesus Kristus) ke surga (dalam Bahasa Jawa bersumber dari Bahasa Arab digunakan kata mekrad).

Menggabungkan di antara ketiganya, membuat saya merenung tentang kenaikan Isa Al-Masih di Hari Kebangkitan Nasional. Di Indonesia, hari raya yang dikenang seluruh umat Kristiani sedunia itu akan selalu berdekatan dengan peristiwa kebangsaan itu. Dalam konteks Era Reformasi di Negeri ini, sejak Mei 1998, tiga momen bisa menyatu dalam satu desah nafas. Pertama, tonggak sejarah kebangsaan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1908. Kedua, tonggak sejarah kebangsaan pula, yakni lahirnya Era Reformasi sesudah Orde Baru tumbang, 21 Mei 1998. Maka, momen Hari Kenaikan Isa AI-Masih 2020 sebenarnya dekat dengan peristiwa tumbangnya rezim Soeharto dan Orde Barunya, tepat 21 Mei, 28 tahun silam.

Melayani rakyat
Dua puluh delapan tahun silam, beberapa minggu menjelang Soeharto tumbang, saya yang masih seorang imam baru (baru dua tahun sesudah tahbisan 8 Juli 1996) hanyalah salah satu dari puluhan jutaan warga masyarakat Indonesia, khususnya yang di Yogyakarta yang dipenuhi heroism melawan rezim Orde Baru. Sehari menjelang Soeharto tumbang, saya hanyalah salah seorang dari belasan juta warga Yogyakarta — terutama mahasiswa — yang mengular dari berbagai arah menuju satu titik yakni alun-alun Yogyakarta dengan satu tuntutan: Soeharto turunlah!

Berbagai aksi teatrikal sepanjang jalan dari empat arah utara, selatan, barat dan timur bergerak dalam longmarch menuju alun-alun. Spirit heroik massa rakyat bergelora dalam kemerdekaan sebagai anak bangsa sesudah lebih dari tiga decade mengalami rezim yang "itu-itu saja" dan mulai bersikap otoriter terhadap rakyatnya sendiri.

Tiada sama sekali visi kepemimpinan yang melayani rakyat selain bertahan dalam status quo politik bersama keluarga dan kroninya. itu sudah sangat terasa sejak Pemiiu 1997, dan ketika, kala itu secara moral agama pun diserukan bahwa bersikap golput dalam Pemilu 1997 tidaklah dosa! Lalu berbondong-bondong massa rakyat memilih golput dari pada terjebak dalam lingkaran dusta Orde Baru. Spirit perlawanan bersumber dari harapan agar para pemimpin melayani rakyat, bukan memeras apalagi menjerat bikin rakyat sekarat! People power ala Nusantara kala itu berbuah manis, meski pada awalnya, seperti mimpi saat mendengar berita: Soeharto lengser. Soeharto turun! Lalu lahirlah euphoria Era Reformasi.

Kenaikan Isa Al Masih
Apa hubungannya, kebangkitan nasional, turunnya Soeharto dan kenaikan Isa Al-Masih ke surga? Tentu tidak ada korelasi langsung di antara keduanya. Hanya gegara berdekatan hari dan momennya saja, maka, di antara ke-duanya seakan berhubungan. Namun, kalau mau dihubung-hubungkanya, bisa saja. Hubungannya ada pada spirit pelayana rakyat tadi.

Dalam tradisi Kristiani —juga diimani dalam Kitab Suci Alquran, bahwa selama hidup-Nya, Isa Al-Masih atau Yesus Kristus dipenuhi dengan semangat melayani umat dan rakyat. Jangan lupa, ketika Yesus hidup, bangsa dan wilayah politiknya pun sedang dibelenggu oleh penindasan dan penjajahan Romawi kala itu. Rakyat tertindas oleh rezim yang tidak adil.

Kehadiran Isa Al-Masih pun menjadi ancaman politik kekuasaan sebab jalan hidup yang dipilih Isa Al-Masih adalah jalan pelayanan, bukan jaIan pintas kekuasaan. Yang diutamakana dalah membela kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). Itulah pilihan-Nya yang secara teologis sering disebut preferential option for and with the poor. Persis itulah yang diabaikan di masa Orde Baru (semoga di masa sekarang tidak terjadi!)

Kebangkitan Nasional
Melayani dan membela rakyat yang tertindas, itulah visi pelayanan Isa AI-Masih yang dikenang kenaikan-Nya ke surga. Hal yang sama menjadi inti tonggak sejarah Kebangkitan Nasional yang dipelopori Ir. Soekarno dan kawan-kawannya. Soekarno mewariskan kalimat indah yang erat terkait dengan ke-bangkitan Nasional.

Saat belum menjadi Presiden sebab Negara Kesatuan Republik Indonesia juga belurn lahir, Soekarno menyampaikan semacam pledoi di hadapan kolonialisme Belanda. Soekarno bersama tujuh pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI) kala itu ditahan dan diadili pemerintahan Belanda. Di saat itulah Soekarno menggetarkan ruang sidang pengadilan sat berkata: Bangsa Indonesia memiliki masa lalu yang indah, namun kini sedang berada di masa gelap. Tetapi, masa gelap ini akan berlalu dan masa depan yang terang segera datang (bdk. Herbert Feith& Lance Castles, ed., LP3ES, 1988:3-7). Pidato ini menghadirkan visi membela rakyat yang terbelenggu penindasan.

Jadi, kenaikan Isa Al-Masih, Kebangkitan Nasional, dan tumbangnya Orde Baru memuat satu pesan yang sama: utamakan pembelaan terhadap rakyat dan bukan melanggengkan kekuasaan. Maka, kemuliaan akan dihadirkan bagimu dan bagi rakyatmu. Bila, tidak, bukan kenaikan yang terjadi, melainkan ketumbangan!

►Tribun Jateng 20 Mei 2020 hal 1, 7

Kategori: ,