Kebangkitan Niurani Berbangsa
Rabu, 20 Mei 2020 | 8:07 WIB

SM 20_05_2020 Kebangkitan Niurani Berbangsa

Oleh Aloys Budi Purnomo

PERISTIWA sejarah 20 Mei 1908 tidak boleh ikut senyap tersapu pandemi Covid-l9. Kita men genalnya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini merupakan salah satu dari tonggak-tonggak sejarah bangsa kita saat ini. Bahkan sebagai yang per tama.

Kita semua tahu dan hafal, sesudah peristiwa sejarah 20 Mei 1908, dua dekade kemudian, lahir tonggak sejarah berikutnya. Tepatnya, 28 Oktober 1928, kebangkitan nasional itu diteguhkan dan ditandai heroisme orang muda yang menyatakan diri sebagai satu tanah air, satu bangsa dan satu Bahasa Indonesia!

Dalam lembara historical memory of nationalism, kesadaran sebagai satu tanah air, satu bangsa, dan satu Bahasa Indonesia tidak bisa dicerabut dari momentum Kebangkitan Nasional dua puluh tahun sebelumnya, 20 Mei 1908. Itu pasti! Baru di kemudian hari nanti kala itu, pada 17 Agustus 1945, Kebangkitan Nasional yang mewujud dalam Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928, mendapatkan afirmasi institusional Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Akar Sejarah
Maka, 20 Mei 1908 adalah akar sejarah bukan sembarang akar bahar, melainkan akar yang penuh barokah. Secara moral nasional, peristiwa 20 Mei 1908 bisa ditafsir sebagai kebangkitan nurani berbangsa.

Sebagai bangsa, barangkali dianggap belum ada. Masih berjuang melawan kolonialisme yang menindas rakyat nusantara. Maka, menjadi proses menuju bangsa yang tidak mau terpuruk oleh penindasan, melainkan bangkit menyatakan semangat kebangsaan. Sekali desah nafas dalam satu goresan berbangsa! Proses menjadi menuju bangsa Indonesia.

Itulah yang melandasi cita-cita para pendiri bangsa ini (founding fathers) dalam membangun Indonesia sebagai bangsa.

Historisitas melekat pada diri para tokoh hebat yang telah menancapkan akar sejarah bangsa ke Timah Air Indonesia sebagai tanah subur untuk merajut kebangsaan itu. Salah satunya yang tidak bisa diingkari adalah Ir Soekarno yang di kemudian hari ini pada tonggak sejarah ketiga, 17 Agustus 1945 membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik lndonesia.

Tidak mengherankan, sebab pada 20 Mei 1908, Ir Soekarno lah yang telah membangkitkan sense of nationalism dalam diri warga yang sedang dijajah Belanda. Suaranya laksana getaran nurani yang menggelegar dalam pidato bertajuk Indonesia Menggugat!. Dan di dalam pidato itulah, Ir Soekarno menegaskan nasionalisme Indonesia dengan segala keindahannya di masa silam, namun kini menjadi kelam oleh kelakuan para kolonialis yang memecah belah rakyat dengan politik devide et impera dan menjadikan rakyat sebagai jongos-jongos yang diperbudak.

Ir Soekarno pun memberontak dalam gelegak Indonesia Menggugat. Kebangkitan Nasional dimulai dan tidak bisa dibelenggu oleh kekuasaan dan kekuatan asing manapun; meski Soekarno menyadari bahwa melawan kekuatan asing lebih mudah dari pada melawan kekuatan musuh dalam selimut yakni di antara kita sendiri sebagai warga bangsa.

Nurani Kebangsaan
Kunci dari semua itu adalah nurani kebangsaan yang tidak pernah luntur namun terus siap untuk bertempur! Pertempuran bukan lagi melawan penjajah asing, melainkan melawan nurani sendiri. Jangan pernah meragukan ke-Indonesia-an kita yang telah dibangun pala founding father dengan segala jerih payah bahkan pengorbanan jiwa raga mereka.

Menurut hemat saya, itulah pesan yang bisa digemakan, ketika saat ini kita menyambut Hari Kebangkitan Nasional meski masih dan sedang berjuang melawan kolonialisme pandemi Covid- 19 yang membuat kita sebagai bangsa harus tetap tegak dan tegar!

Pada hari Kebangkitan Nasional ini, baiklah kita resapkan kata- kata Ir Soekarno itu: Indonesia mempunyai masa lalu yang indah, kini sedang mengalami masa gelap, namun masa depan yang terang segera datang. Ini bukan, sekadar kalimat nasionalistis romantis, melainkan kuat dalam realitas.

Kita syukuri, bahwa di tengah pandemi yang melanda dunia, solidaritas di antara warga masyarakat kian tumbuh dan menguat. Hebatnya mayoritas masyarakat warga kita adalah bahwa mereka lebih mudah tergerak saling membantu sesama warga yang terdampak virus korona.

Tak heran bahwa hal ini membuat Indonesia menempati peringkat kelima di dunia untuk modal sosial solidaritas.

Bahkan, partisipasi masyarakat sipil berada di peringkat pertama. Mayoritas masyarakat warga Indonesia adalah mereka yang dengan sukarela terlibat dalam membangun solidaritas di tengah wabah yang melanda dunia ini (legatum Prosperity Index 2019).

Ini fakta yang luar biasa istimewa! Ini bagian dari peradaban wajah bangsa yang layak disyukur pada Hari Kebangkitan Nasional ini. Ingat, Indonesia mempunyai masa lalu yang indah. Keindahan pejuang melawan penjajah. Kini keindahan itu masih tetap bertahan dalam solidaritas bangsa. Maka, ini menjadi modal sosial menuju masa depan yang terang yang segera datang.

Mari kita tingkatkan solidaritas sebagai warga bangsa Indonesia dengan semangat nasionalisme yang mencintai Indonesia sebagai bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, dan roh Bhinneka Tunggal Ika. Selamat merayakan Hari Kebangkitan Nasional, meski pandemi masih mengunci kita, namun semangat kebangsaan dan solidaritas tak pernah bisa dikurung oleh apa pun !

Aloys Budi Purnomo Pr. pastor rohaniwan Katolik, tinggal di Semarang.

Kategori: ,