Bincang Daring FTP Seri 3 “Mengulik Kehidupan Mahasiswa Di Masa Pandemi”
Rabu, 20 Mei 2020 | 19:44 WIB

Dari kiri ke kanan: Tania (ketua BEM FTP), Dr. Probo Y. Nugrahedi (moderator), Tarcisius Risang (Wakil Ketua BEM FTP), Yessivica Dinda (Ketua Senat FTP) dalam Bincang Daring FTP Unika

Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata kembali menghadirkan Bincang-Bincang Daring seri yang ke-3 pada Selasa (19/5). Masih dalam tema “Menyemai Harapan di Tengah Pandemi”, acara yang diadakan melalui platform webinar elearning.unika.ac.id ini diikuti oleh 92 peserta yang berasal dari mahasiswa, alumni, dosen, serta calon mahasiswa FTP Unika tahun 2020.
Kali ini dengan topik “Mengulik Kehidupan Mahasiswa FTP Selama Masa Pandemi COVID-19”, bincang daring FTP menghadirkan tiga narasumber yakni Frederica Anggita Mega Tania (Ketua BEM FTP periode 2019/2020), Tarcisius Risang (Wakil Ketua BEM FTP periode 2019/2020), dan Yessivica Dinda (Ketua Senat FTP periode 2019/2020).
Acara yang juga merupakan bagian dalam menyambut Dies Natalis FTP Unika yang ke-25 tahun ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk terus menyuarakan harapan dan sukacita meskipun dalam kondisi physical distancing dan bekerja dari rumah (BDR) sehingga harapan, cita-cita, dan impian yang sudah dibangun dan dihidupi tetap dapat tercapai. Dalam sesi bincang daring ini, ketiga narasumber berbagi cerita mengenai kehidupan sebagai mahasiswa dalam situasi pandemi COVID-19 saat ini.
Tantangan di Masa Pandemi
Rutinitas yang baru dirasakan ketika kegiatan bekerja atau belajar dari rumah (BDR) diterapkan. Tak terkecuali bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah dan keluarga. Beberapa tantangan dialami selama masa pandemi ini. Beberapa tempat makan yang tutup dan jam malam yang lebih terbatas menyebabkan kendala untuk menyiapkan makan, seperti diungkapkan Vica.
Ada pula masa stressful moment ketika tidak bisa bertemu secara langsung dengan teman untuk bersosialisasi. Situasi itu menimbulkan ketakutan, apabila tidak bisa bersosialisasi dengan baik seperti sebelumnya. “Perubahan yang dirasakan memang cukup drastis dan tidak sama dengan kondisi sebelumnya. Namun dari kondisi ini, saya belajar untuk menjadi lebih perhatian pada orang lain. Kita bisa menanyakan kabar atau sekedar menyapa teman dan keluarga melalui chat atau video call. Jangan sampai karantina ini mendekatkan kita dengan suasana rumah, tetapi menjauhkan kita dengan lingkungan sosial kita. Kita bisa mengusahakan untuk selalu online lewat chat atau media sosial lainnya supaya tetap terhubung,” ungkap Tania.
Ia juga mengungkapkan ada beberapa teman yang mengalami kecemasan karena merasa tidak produktif di rumah. “Mungkin ada yang merasakan hal itu. Namun menurut saya, pemikiran seperti itu justru bisa menjadi stresor bagi kita. Kita justru merasa stres di rumah hanya dengan pemikiran simple seperti itu,” ungkap Tania.

“Tidak perlu khawatir bila kita merasa demikian. Yang perlu dilakukan adalah menemukan sebuah coping mechanism yaitu respon ketika kita menghadapi situasi yang tidak biasa. Setiap orang memiliki caranya masing-masing. Ada yang menghadapi stres dengan lebih fokus belajar, atau mencoba hal baru seperti belajar memasak, atau menonton film. Beberapa cara itu dapat dilakukan. Jangan sampai ada ketakutan karena merasa kurang produktif, asalkan semua rutinitas tetap seimbang. Sehingga kita harus dapat membagi waktu, sambil melakukan kegiatan yang bisa mengurangi rasa stres dengan caranya masing-masing,” lanjut Tania.

Produktif dari Rumah

Karena memiliki waktu yang lebih luang, berbagai aktivitas baru pun dilakukan untuk mengisi waktu tersebut. Beberapa kegiatan dapat dilakukan untuk menjadi produktif dari rumah antara lain dengan mengikuti berbagai lomba esai atau lomba video, seperti yang dilakukan oleh Risang, yang sekaligus dilakukannya untuk belajar keterampilan baru. Senada dengan Vica yang mengisi waktunya dengan belajar memasak, mengikuti kelas online belajar bahasa, berolahraga di rumah, ataupun mencoba belajar tutorial baru lainnya. Mengeksplorasi keterampilan memasak bisa menjadi kegiatan kreatif dan menyehatkan bagi individu.

Adanya mata kuliah Kelompok Bisnis di Semeser 6 ini, menurut Risang, juga membantu banyak untuk menjadi produktif di rumah. “Di mata kuliah ini saya harus membuat suatu produk olahan dari bahan dasar tempe. Sehingga di rumah, saya jadi punya kesibukan untuk mengolah tempe yang saya beli dari tetangga untuk dibuat menjadi nugget tempe”.

Praktikum yang dilakukan secara daring juga bisa menjadi kegiatan untuk mengisi waktu selama di rumah. Salah satunya adalah mata kuliah bakery yang salah satu kegiatan praktikumnya adalah membuat bakpau. “Salah satu teman saya yang sebelumnya merasa tidak produktif dan merasa jarang bergerak tiba-tiba mengirimkan foto hasil karya bakpau yang dibuatnya. Ternyata itu bisa memunculkan perasaan bangga akan hasil karya yang berhasil dibuatnya,” ungkap Risang.

“Saya merasa praktikum ini membawa segi positif. Siapa tahu dengan kebiasaan seperti ini, kita dapat belajar sesuatu yang baru dari rumah secara mandiri. Ke depannya mungkin kita bisa membuka usaha dengan peralatan yang sudah kita punya sendiri. Kondisi pandemi ini memang berada di luar kendali kita, tetapi kita harus bisa terus beradaptasi dan belajar, dan menemukan sisi positif dari pengalaman ini,” tambah Vica.

Kuliah Online
Sementara itu, melakukan perkuliahan secara online juga menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Ada dinamika dan cara belajar yang berubah. “Jika biasanya kita terpaku dengan jadwal, dalam perkuliahan online ini beberapa dosen memberikan materi perkuliahan yang bisa dipelajari kapan saja sehingga waktu lebih fleksibel. Jadi, semuanya kembali pada diri kita dan kemauan kita untuk memahami suatu materi. Dari pengalaman ini, nilai penting yang saya dapatkan melalui sistem perkuliahan online ini adalah manajemen waktu dari diri kita sendiri,” ungkap Risang. Sementara itu, Tania menambahkan, untuk tetap berkegiatan seperti biasanya dan menjaga pola tidur sesuai rutinitas biasa, serta mengikuti kelas dengan serius meskipun santai.

“Menghadapi situasi saat ini, peran terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan tetap berada di rumah. Stay at home. Kita lakukan semua kegiatan kita dari rumah. Kami dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) juga belajar untuk keluar dari zona nyaman dengan membuat kegiatan kemahasiswaan yang berbeda dari template tahun-tahun sebelumnya dan terus mengupayakan agar segala kegiatan mahasiswa bisa diakses dari rumah. Dengan adanya kegiatan seperti lomba yang diselenggarakan secara daring atau melalui media sosial, kami berharap bisa membantu teman-teman dalam mengeksplorasi diri,” ungkap Tania.

Sementara itu, kegiatan sosial seperti donasi juga bisa dilakukan oleh mahasiswa. “Kita bisa menyalurkan bantuan yang tentunya akan sangat berarti. Serta secara spiritual, jangan lupa untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan dengan berdoa untuk bangsa dan kemanusiaan. COVID-19 ini tidak bisa kita anggap remeh. Apabila ada himbauan dan protokol paska social distancing, alangkah lebih baik kita mengindahkan hal itu. Ini bukan lagi mengenai diri kita atau orang-orang terdekat kita, tetapi juga masyarakat Indonesia dan kemanusiaan di dunia,” pungkas Risang.

(B. Agatha)

Kategori: ,