Belajar dan Meneladan Sosok Soegijapranata
Senin, 6 April 2020 | 7:16 WIB

Drs Theodorus Sudimin MS dengan Romo Antonius Dadang Hermawan Pr

Mgr. Albertus Soegijapranata SJ sebagai Uskup (1940-1963) memiliki banyak predikat ‘pertama’, yaitu Uskup Vikariat Semarang; Uskup pribumi; Uskup militer (1950); Uskup Agung Semarang (1961); pahlawan nasional (1963). Orang pertama apalagi sebagai pemimpin selalu dipandang sebagai peletak dasar institusi. Wajah sebuah institusi pada umumnya sangat dipengaruhi oleh sang peletak dasar. Sang peletak dasar yang berhasil akan menjadi sumber inspirasi dan belajar untuk generasi-generasi berikutnya. Demikian juga dengan Mgr. Soegijapranata dan Gereja Keuskupan Agung Semarang.

Para iman diosesan sebagai imam keuskupan pasti akan belajar dan menimba inspirasi dari Uskup sebagai pimpinannya. Itulah yang dilakukan oleh para imam diosesan Keuskupan Agung Semarang dari yang sangat senior (tahbisan tahun 1970an) hingga yang belum lama ditahbiskan melaksanakan rekoleksi dengan tema “Belajar dan Meneladan Sosok Soegijapranata” pada tanggal 17-18 Maret 2020 di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan. Rekoleksi itu berjalan dengan nara sumber Theodorus Sudimin dari The Soegijapranata Institute dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata.

Dalam rekoleksi itu para imam diajak mengawali dengan belajar dari Mgr. Soegijapranata yang menghayati imamat dan apostoliknya dengan spiritualitas inkarnasi. Inkarnasi yang kita pahami sebagai kuasa Allah atau Firman Allah yang menjadi manusia yang diberi nama Yesus (Luk 1:26-38; Yoh 1:1-18; Flp 2:6-8).
Perwujudan spiritualitas inkarnasi Mgr. Soegijapranata tampak pada dua visi penggembalaan, yaitu (1) menjadikan umat katolik tangguh dan Gereja yang mengakar dan mandiri (2) menjadikan umat Katolik sebagai bagian dari bangsa dan negara yang peduli dan aktif. Kedua sub tema itulah yang direfleksikan oleh para imam pada sessi-sessi berikutnya

Sama seperti Yesus mewartakan datangnya Kerajaan Allah, Mgr. Soegijapranata melaksanakan penggembalaan dengan dua cara pula yaitu kata-kata pengajaran dan tindakan sejak masih sebagai pastor paroki Bintaran Yogyakarta (1934-1940). Proses umat Katolik menjadi beriman yang tangguh melalui rumah tangga dan pendidikan Katolisitas baik di rumah tangga, lingkungan maupun di sekolah. Sementara itu dalam mengantarkan menjadi Gereja yang mengakar dan mandiri, Romo Soegijapranata menempuh beberapa cara antara lain pembentukan kring atau lingkungan, mendukung dan meneruskan pembinaan pendidikan imam diosesan dan tarekat religius lokal, memperkenalkan penggunaan bahasa lokal untuk ibadah pada bagian-bagian tertentu dan penggunaan gamelan untuk iringan nyanyian liturgi serta pendalaman iman dengan seni tradisional selawatan dan wayang.

Dalam mengantarkan umat Katolik dan Gereja menjadi bagian dari bangsa dan negara yang peduli dan aktif, Mgr. Soegijapranata mendasarkan pada kutipan Kitab Suci “Persembahkanlah kepada Kaisar hak milik Kaisar dan kepada Allah hak milik Allah” (bdk.Mat 22:21; Mrk 12:17; Luk 20:25) dan juga kesadaran diri sebagai warga yang sudah tertanam sejak masih belajar di sekolah. Dari hal-hal itu muncul pernyataan Mgr. Soegijapranata “kita adalah sungguh-sungguh Katolik, dari pada itu kita adalah sebenar-benarnya patriot juga. Oleh karena kita merasa patriot seratus prosen, sebab itu kita pun merasa Katolik seratus prosen pula” (Soegijapranata, 1954). Pada prinsipnya Mgr. Soegijapranata mendorong tumbuhnya nasionalisme umat Katolik yang harus peduli dan aktif terlibat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagian akhir dari rekoleksi ini adalah sharing dengan panduan yang disediakan oleh narasumber dan hasil diplenokan. Sharing dilakukan berdasarkan rayon kevikepan. (ts)

Kategori: ,