Pak Presiden, Jangan Panik!
Sabtu, 28 Maret 2020 | 10:00 WIB

Oleh Sugeng Ibrahim

” Kepada Presiden Joko Widodo, jangan panik! Segera penuhi apa yang menjadi kebutuhan para dokter dan seluruh paramedis dan pihak terkait yang telah berperang melawan Covid-19. Kami para dokter tidak takut mati karena risiko tugas kami, tetapi segera penuhi APD dan semua kebutuhan perang kami, melawan Covid-19. ”

PADA akhir Maret 2020, Indonesia telah menjadi bagian dari Pandemi Covid-19. Hanya perlu tiga minggu untuk mencapai 686 kasus, dengan 55 kematian dan baru 30 yang sembuh. Sementara di Iran, penambahan kasus masih konstan, dengan rerata 1.000 kasus baru sehari. Mengapa saya merujuk Iran dibanding Indonesia? Jawabannya, kali ini saya akan bersudut pandang radikal, ekstrem. Setelah Iran, saya akan merujuk kepada Kluster Kapal Pesiar ”Diamond Princess”. Kluster ini teramat penting, karena 3.711 penumpangnya berinteraksi secara intensif, terjadwal selama dua minggu, tepat sesuai dengan masa inkubasi Covid-19.

Angka terinfeksi kapal DP, 712 positif (19,2 %) dan 8 kematian (1,12 %). Kesimpulannya bahkan dalam kapal sepadat itu, dengan interaksi yang sangat ”close contact”, selama berhari-hari, demikianlah kenyataan epidemiologisnya, angka kematiannya kecil. Sejatinya, benar kita memang telah kehilangan ”jendela kesempatan” selama setidaknya dua bulan dalam pencegahan pandemi Covid-19. Namun statistik menunjukkan pada perjalanan epidemiologi di Wuhan Hubei Tiongkok, sejak diumumkan terbuka pada 31 Desember 2019 sampai 16 Maret 2020, tercatat 80.259 kasus dengan 3.245 kematian (4,04 %). Dengan catatan Tiongkok melakukan lockdown ketat.

Merujuk Italia, negeri dengan populasi usia lanjut mendekati 35% di antara populasi dan dengan catatan penanganan yang sangat terlambat, tercatat telah mencapai 743 kematian tertinggi perhari dengan total 6.820 kematian sampai 24 Maret 2020. Namun, sejak ”lockdown” 14 hari lalu, angka kematian dan kasus baru telah menurun dalam dua hari berturut-turut pada 22 dan 23 Maret 2020. Rujukan puncak penulis, adalah Amerika serikat. Dengan tercatat 41.113 kasus dengan 455 kematian (1,1 %). Dan secara global 342.778 kasus dengan 41,113 kematian (11,99).

Posisi Indonesia
Statistik epidemiologi menunjukkan angka kesakitan Covid-19 dan angka kematiannya bervariasi antarnegara, bergantung pada sistem kesehatan, penanganan wabah, kecepatan mengambil tindakan, serta kepemimpinan. Kemauan menyediakan infrastuktur penanganan secara masif dan terpenting kepatuhan serta kedisiplinan warga dalam mematuhi lockdown maupun physical distancing. Pelajaran yang dapat dipetik dari Tiongkok adalah kepemimpinan yang kuat, upaya penyediaan infrastruktur yang masif dan cepat, kolaborasi dengan WHO dan badan-badan internasional, kepatuhan warga negara, dan yang paling menyentuh adalah pengorbanan tenaga medis dalam melawan wabah Covid-19 di sana.

Indonesia terlambat mendeteksi dan menapis masuknya impor kasus Covid-19. Setidaknya selama dua bulan. Namun, lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali. Setelah diumumkan kasus positif Covid-19 pertama pada awal Maret 2020, hanya dalam tiga minggu telah menyentuh 686 kasus dengan 55 kematian (8%), masuk akal, terkait ditambahnya jumlah laboratorium pemeriksaan RT-PCR menjadi 10 Lab. Sebagaimana Tiongkok, Iran dan Italia, Indonesia pada gilirannya akan mencapai puncak pencatatan kasus dan kematian, disusul dengan periode stagnan dan ditutup dengan periode penurunan kasus baru dan kematian, hingga akhirnya mencapai pemulihan seperti di Wuhan. Periode waktunya saja yang akan berbeda.

Tentu saja prasyarat-prasyarat wajib dipenuhi pemerintah dan warga Indonesia bila ingin pemulihan mendekati Wuhan. Yang utama adalah: Pertama, cepat mendirikan dan mengoperasikan rumah sakit khusus, penanganan korona bukan saja di Jakarta, melainkan setidaknya 1 di setiap provinsi idealnya. Kedua, mendatangkan/ menyediakan APD tanpa batas bagi tenaga kesehatan yang bertarung melawan Covid-19 di rumah sakit. Ketiga, menambah ruang isolasi sebanyak mungkin di RS yang ditunjuk menangani Covid-19. Keempat, menambah tenaga dokter dan paramedis. Kelima, medatangkan obat antivirus terkini (Avigan) yang diklaim signifikan melawan Covid-19 oleh Pemerintah Tiongkok, atau setidaknya menyediakan Oseltamivir (Tamiflu) sebagai antiviral yang paling efektif untuk SARS ( sekeluarga Covid-19). Keenam, menegakkan disiplin warga dalam pembatasan aktivitas dengan bekerja dari rumah dan pembatasan fisik dengan sangat keras.

Bila kita meniru semaksimal mungkin yang dilakukan pemerintah Tiongkok, saya yakin pula dengan Iran dan Italia bahkan Amerika Serikat pun akan mengikuti, saya masih yakin wabah Covid-19 di Indonesia tidak akan berlangsung menahun (kronik). Mengambil nilai tengah antara Tiongkok dengan Iran atau Italia, maka bila Tiongkok mencapai angka puncak kasus dan kematian dalam 45 hari dan menutup RS darurat dalam 75 hari, dibanding Italia yang mulai mencatat puncak kasus hanya dalam sebulan, maka arah perjalanan puncak pencatatan kasus di Indonesia akan terjadi pada pertengahan April sampai akhir April 2020. Dengan prakiraan angka kasus sekitar 20.000 an di seluruh Indonesia. Angka kematian sekitar 7 sampai 8 %. Angka kasus dan kematian yang eksponensial, hanya akan terjadi bila pemerintah Indonesia gagal dengan cepat mendatangkan APD berapa pun yang dibutuhkan tenaga medis, gagal mengoperasikan RS-RS khusus penanganan Covid-19, gagal mendatangkan antivirus yang pula dipakai Pemerintah Tiongkok menanggulangi Covid-19, gagal menambah ruang isolasi, serta terutama gagal melakukan physical distancing dibantu ketidakpatuhan warga dengan membatasi diri, dengan bekerja di rumah saja.

Tentu saja insentif-insentif logistik dan ekonomi bagi warga negara yang hampir semuanya terdampak Covid-19, menjadi tugas wajib negara menyediakannya. Khususnya kepada Presiden Joko Widodo, jangan panik! Segera penuhi apa yang menjadi kebutuhan para dokter dan seluruh paramedis dan pihak terkait yang telah berperang melawan Covid-19. Kami para dokter tidak takut mati karena risiko tugas kami, tetapi segera penuhi APD dan semua kebutuhan perang kami, melawan Covid-19.

—dr Sugeng Ibrahim, dosen Unika Soegijapranata Semarang.

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/223586-pak-presiden-jangan-panik, Suara Merdeka 28 Maret 2019 hal. 6

 

Kategori: , ,