Jangan Panik, Jangan Pula Ndablek!
Jumat, 20 Maret 2020 | 12:07 WIB

TRB 20_03_2020 Jangan Panik dan Jangan Pula Ndablek

Oleh: Aloys Budi Purnomo

PANDEMI COVID-19 yang melan-da dunia di awal 2020 telah menyita perhatian, energi, dan perasaan kita. Di Indonesia, fenomena ini sedang dimulai dan hangat-hangatnya. Indonesia memang harus waspada.

Data resmi per 18/3/2020 menunjukkan, sudah sebanyak 227 warga kita positif terjangkit Covid-19, 11 orang dinyatakan sembuh, dan 19 lainnya meninggal dunia. Kita tidak boleh meremehkan data ini sebab di Asia Tenggara, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia berada di peringkat pertama dibandingkan Filipina (187 penderita, 14 meninggal dunia), Malaysia (678 kasus, meninggal 2), Thailand (177 kasus, 1 meninggal) dan Singapura (226 kasus, 0 meninggal). Memang, menurut laporan data Universitas Hamburg, Jerman, angka kematian akibat Covid-19 di dunia dalam dua bulan pertama tahun 2020 menduduki peringkat terendah (2.360) dibandingkan malaria (140.584), bunuh diri (153.696, atau HIV (240.950). Peringkat tertinggi kematian di dunia masih disebabkan penyakit kanker (1.177, 141) dan peringkat ‘kedua adalah karena merokok (7.16.498).

Lalu kita harus bagaimana? Seorang kawan pastor membagikan pesan dari Roma, Italia, melalui grup WhatsApp kami para pastor. Dipastikan, pesan itu bukan hoax melainkan satu harapan bijaksana. Maka, layak pula menjadi dasar refleksi tulisan ini. Namanya Fr. Petrik. Dari Roma, dia menulis pesan:
"Teman-teman di jumlah terbesar dalam sehari melebihi China yang maksimal 380-an orang. Kenapa? Orang Italia sudah nggak betah di rumah. Ndableg. So, kalau pemerintah di Indonesia bilang suruh di rumah, IKUTI PEMERINTAH. Jangan ngeyel!”

Informasinya akurat. Italia memang tercatat sebagai negara terdampak terparah dari sisi kematian akibat Covid-19. Angka kematian tertinggi di tingkat global. Ada dua alasan pokok mengapa hal itu bisa terjadi.

Pertama, sebagaimana ditulis Jonathan Ives di harian "The Guardian" (14/3), tingginya angka kematian menyimpan persoalan moral dan kemanusiaan yang pahit dan memerihatinkan (= prihatin, bikin hati perih dan pedih). Dikatakan, angka kematian tinggi di Italia disebabkan oleh pilihan yang secara moral kemanusiaan disputable, menjadi bahan perdebatan. Italia memberikan prioritas perawatan kepada korban Covid-19 yang masuk dalam kategori potensial years of life. Artinya, prioritas perawatan diberikan kepada mereka yang memiliki potensi bertahan hidup lebih panjang.

Akibatnya, pasien lansia dinomorduakan. Konsekuensinya jelas: kematian. Padahal, yang paling rawan terjangkit Covid-19 adalah para lansia. Di sinilah problem moral kemanusiaan muncul. Secara moral kemanusiaan, mestinya tidak boleh ada diskrirninasi usia untuk menyelamatkan kehidupan Siapa pun berhak untuk hidup, apa pun alasannya. Iniprinsip moral hidup universal. Karenanya, jangan sampai pilihan yang dibuat di Italia terjadi di Indonesia.

Kedua, inilah yang digarisbawahi dalam pesan Fr. Petrik. Orang Italia nggak betah tinggal di rumah. Padahal, salah satu cara paling sederhana menangkal Covid-19 adalah keikhlasan untuk sementara mengkarantina diri secara dini. Itu berarti, kita sedapat mungkin menarik diri dari kerumunan massal sebab potensi penyebaran Covid-19 terbesar terjadi dalam kerumunan itu.

Atas dasar pengalaman itu, maka, baiklah untuk sementara ini, kita semua menahan diri untuk tidak mengadakan aktivitas massal. Sebagai Pastor Katolik, saya sangat mengapresiasi Fatwa MUI yang menyatakan bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkannya terpapar penyakit. Ini menjadi bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams). Selanjutnya, diimbau, yang telah terpapar Covid-19, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Bahkan difatwakan, baginya salat Jumat dapat diganti dengan salat dzuhur di tempat kediaman, meski secara akidah salat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang. Namun, karena salat Jumat berpeluang terjadinya penularan virus secara massal, maka, salat Jumat dapat diganti dengan salat dzuhur di tempat kediaman masing-masing.

Sebagai antisipasi, hal ini patut diapresiasi. Hal serupa juga dengan surat edaran dari Uskup Agung Semarang yang mengajak umat Katolik menjaga diri dan mengantisipasi sebaik mungkin, jangan sampai umat kehilangan kewaspadaan menyikapi Covid-19.

Dalam konteks ini, kita patut bersyukur, para pemuka agama kita memiliki kepedulian untuk kemanusiaan dengan menjaga kesehatan maupun antisipasi agar pandemi Covid-19 bisa dihadapi dengan tetap menjunjung tinggi aspek moral kemanusiaan.

Maka, mari pesan Fr. Petrik penting. Belajar dari pengalaman di Italia, mari kita pilih cara paling murah, namun penuh berkah. Tetaplah tinggal di rumah di masa pandemi Covid-19 ini. Tentu, sikap yang harus dibangun pertama adalah bersikap positif. Tetap optimistis. Jangan panik atau takut. Namun, jangan juga ngeyel dan ndablek, demi kebaikan bersama! 

 

Aloys Budi Purnomo, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata

————–

►Tribun Jateng 20 Meret 2020 hal. 2

Kategori: ,