Perlu Laboratorium Pembanding – Antisipasi Wabah Virus Korona
Jumat, 28 Februari 2020 | 7:58 WIB

SM 28_02_2020 Antispasi Wabah Virus Korona

Dosen Biokimia dan Biomolekuler, Unika Soegijapranata, dr Sugeng Ibrahim M Biomed menilai pentingnya laboratorium pembanding terkait merebaknya virus korona. Jadi, sempel pemeriksaan pasien tidak hanya diperiksa di Balitbangkes. ”Ini untuk antisipasi saja. Alangkah baiknya, ada laboratorim pembanding untuk pemeriksaan sampel pasien yang sempat diduga terkena virus korona. Kalau hasilnya berbeda, misal ada yang negatif dan positif, maka bisa diuji lagi,” kata Sugeng, Kamis (27/2). Atau, lanjutnya, sampel pemeriksaan pasien juga diuji di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang juga milik pemerintah. Adapun sampel virus korona yang diberikan World Health Organization (WHO) kepada Indonesia bisa direplikasi ke Lembaga Eijkman.

Tak hanya itu, imbuhnya, sampel virus korona juga bisa direplikasi ke Balitbangkes yang ada di masing- masing provinsi di Indonesia. Ini, untuk mempersingkat jarak, karena kawatir sampel yang dikirim ke Jakarta rusak. Kalau rusak, hasilnya negatif. ”Itu kan sampel virus dari pasien dibandingkan dengan sampel virus korona dari WHO. Kesamaannya sejauh mana. Karena itu data akan lebih akurat bila ada laboratorium- laboratorium pembanding,” tambahnya.

Hal tersebut disampaikan Sugeng terkait seorang pasien meninggal di RSUPdr Kariadi Semarang yang semula ditengarai disebebkan virus korona atau Covid-19. Dari hasil pemeriksanaan sempel di Balitbangkes, pasien dinyatakan meninggal karena terinfeksi virus H1N1 atau biasa disebut flu babi. ”Itu kan sampel virus dari pasien dibandingkan dengan sampel virus korona dari WHO. Kesamaannya sejauh mana. Karena itu data akan lebih akurat bila ada laboratorium-laboratorium pembanding,” ucapnya. Tak hanya itu, reagenyang digunakan untuk menguji sampel virus dari pasien juga butuh perbandingan. Saat ini yang digunakan adalah CDC dari Amerika Serikat.

Satu hal yang menjadi pertanyaan, imbuhnya, kenapa tidak menggunakan CDC dari Jerman, seperti halnya di Thailand. Jangan-jangan, lanjutnya, pola reagen-nya berbeda. ”Ini sebagai langkah antisipasi saja. Apalagi ini sudah menjadi kesiapsiagaan nasional,” tegasnya. Terpisah, dokter penanggung jawab pelayanan RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Fathur Nur Kholis SpPD memberikan penjelasan penyebab meninggalnya seorang pasien suspect korona pada Minggu (23/2). Dikatakannya, pasien laki-laki berusia 37 tahun itu dipastikan terjangkit virus H1N1 (flu babi). Sebelumnya tim medis menyatakan, meninggalnya pasien karena bronkopneumonia. Secara sederhana terjadi peradangan berat pada saluran pernapasan atau paru-paru.

Fathur kembali menegaskan, diagnosa penyakit atau penyebab meninggalnya pasien memang peradangan paru-paru. Hanya saja pemicunya bukan dari virus Covid-19 (korona), melainkan H1N1. ”Penyebab infeksi paru-paru sebetulnya banyak, tidak hanya dari suatu virus, bisa juga karena jamur atau bakteri. Kasus kemarin sebenarnya bisa terjadi oleh sebab apapun,” jelasnya. Dirinya meminta masyarakat tidak perlu khawatir, sebab wabah dari virus H1N1 sudah lewat. Virus ini sempat menjangkit sejumlah negara di dunia pada kurun waktu 2009-2010. Dijelaskan pula, seseorang yang mengalami peradangan di saluran napas, tidak bisa menghirup oksigen atau dalam kondisi gagal napas. Pasien juga bisa mengalami yang namanya komplikasi multiorgan.

Adapun alasan jenazah dibungkus dengan penutup lebih karena unsur kehati-hatian. Ketika pasien meninggal, hasil pengecekan sampel virus oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementrian Kesehatan baru diketahui sehari setelahnya. ”Saat meninggal kami belum mengetahui apakah positif atau negatif dari Covid-19. Karenanya, dalam dunia kedokteran ada kewaspadaan isolasi dan itu kami jalankan. Harapannya keselamatan yang lebih besar, baik tenaga kesehatan, masyarakat, maupun keluarga korban,” imbuhnya. Penyebab kematian pasien suspect korona di Semarang juga dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan. ”Ini bukan Covid-19, ini ketemunya adalah H1N1 yang seperti biasa itu, flu. Itu sudah dipastikan lho, hasilnya PCR (polymerase chain reaction). Dua kali. Karena korona negatif dilakukan PCR berikutnya,” ujar Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, prosedur pemakaman pasien yang meninggal di Semarang memang mirip dengan prosedur suspectyang terinfeksi virus korona. Sebab, pasien tersebut telah terjangkit virus yang bisa menginfeksi. Karena itu, pemakaman dilakukan sesuai standar yang berlaku agar virus H1N1 yang biasanya menyebabkan penyakit flu babi tidak menular ke masyarakat sekitar. Lebih lanjut dia menjelaskan, hingga saat ini tercatat ada 134 spesimen dari suspectvirus korona di Indonesia. Dari jumlah itu, semuanya dinyatakan negatif. ”134 kalau enggak salah. Updatejam 18.00 WIB kemarin, tanggal 26 Februari, ada 134 spesimen yang sudah kita periksa sampai detik ini hasilnya semuanya negatif,” tuturnya

Biomed menilai pentingnya laboratorium pembanding terkait merebaknya virus korona. Jadi, sempel pemeriksaan pasien tidak hanya diperiksa di Balitbangkes. ”Ini untuk antisipasi saja. Alangkah baiknya, ada laboratorim pembanding untuk pemeriksaan sampel pasien yang sempat diduga terkena virus korona. Kalau hasilnya berbeda, misal ada yang negatif dan positif, maka bisa diuji lagi,” kata Sugeng, Kamis (27/2). Atau, lanjutnya, sampel pemeriksaan pasien juga diuji di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang juga milik pemerintah. Adapun sampel virus korona yang diberikan World Health Organization (WHO) kepada Indonesia bisa direplikasi ke Lembaga Eijkman.

Tak hanya itu, imbuhnya, sampel virus korona juga bisa direplikasi ke Balitbangkes yang ada di masing- masing provinsi di Indonesia. Ini, untuk mempersingkat jarak, karena kawatir sampel yang dikirim ke Jakarta rusak. Kalau rusak, hasilnya negatif. ”Itu kan sampel virus dari pasien dibandingkan dengan sampel virus korona dari WHO. Kesamaannya sejauh mana. Karena itu data akan lebih akurat bila ada laboratorium- laboratorium pembanding,” tambahnya.

Hal tersebut disampaikan Sugeng terkait seorang pasien meninggal di RSUPdr Kariadi Semarang yang semula ditengarai disebebkan virus korona atau Covid-19. Dari hasil pemeriksanaan sempel di Balitbangkes, pasien dinyatakan meninggal karena terinfeksi virus H1N1 atau biasa disebut flu babi. ”Itu kan sampel virus dari pasien dibandingkan dengan sampel virus korona dari WHO. Kesamaannya sejauh mana. Karena itu data akan lebih akurat bila ada laboratorium-laboratorium pembanding,” ucapnya. Tak hanya itu, reagenyang digunakan untuk menguji sampel virus dari pasien juga butuh perbandingan. Saat ini yang digunakan adalah CDC dari Amerika Serikat.

Satu hal yang menjadi pertanyaan, imbuhnya, kenapa tidak menggunakan CDC dari Jerman, seperti halnya di Thailand. Jangan-jangan, lanjutnya, pola reagen-nya berbeda. ”Ini sebagai langkah antisipasi saja. Apalagi ini sudah menjadi kesiapsiagaan nasional,” tegasnya. Terpisah, dokter penanggung jawab pelayanan RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Fathur Nur Kholis SpPD memberikan penjelasan penyebab meninggalnya seorang pasien suspect korona pada Minggu (23/2). Dikatakannya, pasien laki-laki berusia 37 tahun itu dipastikan terjangkit virus H1N1 (flu babi). Sebelumnya tim medis menyatakan, meninggalnya pasien karena bronkopneumonia. Secara sederhana terjadi peradangan berat pada saluran pernapasan atau paru-paru.

Fathur kembali menegaskan, diagnosa penyakit atau penyebab meninggalnya pasien memang peradangan paru-paru. Hanya saja pemicunya bukan dari virus Covid-19 (korona), melainkan H1N1. ”Penyebab infeksi paru-paru sebetulnya banyak, tidak hanya dari suatu virus, bisa juga karena jamur atau bakteri. Kasus kemarin sebenarnya bisa terjadi oleh sebab apapun,” jelasnya. Dirinya meminta masyarakat tidak perlu khawatir, sebab wabah dari virus H1N1 sudah lewat. Virus ini sempat menjangkit sejumlah negara di dunia pada kurun waktu 2009-2010. Dijelaskan pula, seseorang yang mengalami peradangan di saluran napas, tidak bisa menghirup oksigen atau dalam kondisi gagal napas. Pasien juga bisa mengalami yang namanya komplikasi multiorgan.

Adapun alasan jenazah dibungkus dengan penutup lebih karena unsur kehati-hatian. Ketika pasien meninggal, hasil pengecekan sampel virus oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementrian Kesehatan baru diketahui sehari setelahnya. ”Saat meninggal kami belum mengetahui apakah positif atau negatif dari Covid-19. Karenanya, dalam dunia kedokteran ada kewaspadaan isolasi dan itu kami jalankan. Harapannya keselamatan yang lebih besar, baik tenaga kesehatan, masyarakat, maupun keluarga korban,” imbuhnya. Penyebab kematian pasien suspect korona di Semarang juga dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan. ”Ini bukan Covid-19, ini ketemunya adalah H1N1 yang seperti biasa itu, flu. Itu sudah dipastikan lho, hasilnya PCR (polymerase chain reaction). Dua kali. Karena korona negatif dilakukan PCR berikutnya,” ujar Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, prosedur pemakaman pasien yang meninggal di Semarang memang mirip dengan prosedur suspectyang terinfeksi virus korona. Sebab, pasien tersebut telah terjangkit virus yang bisa menginfeksi. Karena itu, pemakaman dilakukan sesuai standar yang berlaku agar virus H1N1 yang biasanya menyebabkan penyakit flu babi tidak menular ke masyarakat sekitar. Lebih lanjut dia menjelaskan, hingga saat ini tercatat ada 134 spesimen dari suspectvirus korona di Indonesia. Dari jumlah itu, semuanya dinyatakan negatif. ”134 kalau enggak salah. Updatejam 18.00 WIB kemarin, tanggal 26 Februari, ada 134 spesimen yang sudah kita periksa sampai detik ini hasilnya semuanya negatif,” tuturnya

►Suara Merdeka 28 Februari 2020 hal. 7, https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/219608/perlu-laboratorium-pembanding

Kategori: ,