Mengedukasikan Perdamaian Melalui Diskusi Film
Sabtu, 29 Februari 2020 | 9:54 WIB

Dr Trihoni Nalesti Dewi saat paparkan materinya terkait konflik di Ambon tahun 1999 – 2002

Pusat Studi Urban (PSU) dan Pusat Studi Asia Tenggara Unika Soegijapranata, pada Jumat (28/2) telah mengadakan acara diskusi dan pemutaran film di ruang Teater Gedung Thomas Aquinas dengan tujuan untuk mengedukasi banyak orang, baik mahasiswa maupun masyarakat umum tentang bagaimana sebenarnya simpul-simpul perdamaian itu harus terus dibina  terutama di daerah-daerah pasca konflik, sehingga dapat membangun kembali kota yang inklusif dan toleran.

Acara diskusi seri kedua dengan film yang berjudul “Beta Mau Jumpa” ini menghadirkan tiga narasumber yang mengupas pokok diskusi tentang toleransi, baik toleransi beragama, toleransi etnis, atau toleransi dalam bentuk apa pun, yang terjadi pasca konflik di Ambon yang berlangsung sejak tahun 1999 sampai  dengan 2002.

Para narasumber yang menjadi pemantik diskusi adalah Dr Trihoni Nalesti Dewi selaku ketua PSU Unika Soegijapranata, Adrianus Bintang MA dari Pusat Studi Asia Tenggara Unika Soegijapranata dan Weslly Johannes yang merupakan Aktivis Paparisa Ambon Bergerak.

Dr Trihoni Nalesti Dewi dalam penjelasannya mengungkapkan bahwa Ambon sebagai daerah yang dulunya tenteram dan damai, karena konflik yang terjadi di sana telah memporak porandakan dan mencabik kerukunan beragama yang sudah berlangsung ratusan tahun.

“Pela gandong yang menggambarkan nilai-nilai hidup persaudaraan di antara orang Maluku, mengandung konsep hidup seperti antara lain: hidup orang basudara, potong di kuku rasa di daging, sagu salempeng di pata dua adalah sebagai contoh budaya tutur yang belum terdokumentasi dan penting untuk dijadikan simpul-simpul yang bisa mempersatukan dan membangun perdamaian di kota Ambon,” ucap Trihoni.

Jadi membangun perdamaian dan membangun toleransi itu harus diciptakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Tidak bisa sebuah upaya instan saja tetapi harus dibina terus menerus, karena masyarakat ini meskipun mempunyai nilai-nilai persaudaraan tetapi kerentanan-kerentanan masih tetap ada, imbuhnya.

Demikian pula Weslly Johannes yang karena konflik itu, dia harus meninggalkan tempat kelahirannya dan hijrah ke Ambon, mengungkapkan upaya-upaya yang dilakukannya sebagai generasi muda.

“Kita sebagai generasi muda harus punya imajinasi tentang masa depan Ambon yang damai. Karena dengan imajinasi itu maka akan muncul kekuatan untuk mewujudkan banyak hal, terutama secara pribadi dengan menjalin persahabatan dengan siapapun dalam kompetensi mereka,” terangnya.

Hal lain, dewasa ini di kalangan anak-anak muda sudah mulai tumbuh gejala komunitas berdasarkan minat. Hal tersebut berlawanan dengan saat sebelum pecah konflik, mereka masih berbasis lokasi, lanjutnya.

Oleh karena itu saya anjurkan kaum muda untuk lebih baik mengejar kedamaian daripada mengejar kemenangan, supaya terwujud impian Ambon kota yang damai, tuturnya.

Sementara Adrianus Bintang lebih banyak menyoroti faktor adat untuk membantu proses rekonsiliasi dalam tataran akar rumput.

“Anak-anak muda yang sekarang ini, mereka tidak mengalami konflik, mereka mengetahui tentang konflik dari generasi sebelumnya. Justru yang penting sekarang adalah bagaimana anak-anak muda itu memaknai kembali relasi antar kelompok dengan cara yang berbeda. Makanya banyak cara-cara yang dilakukan oleh kaum muda, salah satunya adalah dengan cara-cara yang popular yaitu dengan musik, makanya makin banyak komunitas hip hop yang lahir dan berkembang setelah periode konflik, karena ini cara menyalurkan perdamaiannya dengan cara-cara yang popular dan mengena di hati anak muda,” pungkasnya. (fas)

Kategori: ,