Melawan Hoaks Corona
Selasa, 11 Februari 2020 | 8:24 WIB

TRB 11_2_2020 Melawan Hoak Corona

Oleh: Heny Hartono

NOVEL Coronavirus (2019-nCoV) tengah menjadi perbincangan hangat dunia. Semenjak untuk pertama kalinya dilaporkan menyebar di Wuhan, provinsi Hubei, China pada tanggal 31 Desember 2019, telah lebih dari 20 negara’ terjangkit virus corona. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan status darurat global virus corona.

Seiring menyebarnya virus tersebut, berita terkait virus corona juga terus menyebar ke seluruh antero dunia, tak terkecuali Indonesia. Berbagai berita tentang perkembangan virus corona terus merebak melalui berbagai media baik cetak maupun digital.

Merebaknya berita tentang. virus corona telah menimbulkan berbagai dampak mulai dari peningkatan kewaspadaan akan kesehatan, perasaan mencekam atas banyaknya korban yang ditimbulkan, sampai dengan perasaan miris atas berita bohong terkait penyebaran virus corona.

Mencermati berbagai berita tentang virus corona tersebut, terlihat betapa bahasa sangat berperan dalam menciptakan efek untuk pendengar maupun pembacanya. Melalui ujaran bermakna yang disampaikan lewat suatu bahasa tertentu, sebuah pesan atau informasi tersampaikan kepada pendengar atau "pembaca. Ujaran tersebut biasanya dimaksudkan untuk menimbulkan suatu efek tertentu yang dalam ilmu bahasa dikenal dengan istilah illocutionary (Yule, 1996).

Terlepas dan keakuratan sebuah informasi atau pesan yang disampaikan melalui ujaran-ujaran baik secara lisan maupun lewat tulisan, ujaran tersebut akan memberi efek untuk si penerima pesan atau informasi. Sebuah informasi yang tidak benar atau lebih popular sekarang disebut ‘hoaks’ (KBBI daring) juga dimaksudkan untuk memberi efekter tentu kepada pendengar atau pembaca informasi tersebut. Beberapa dari alasan penyebaran pesan hoaks adalah untuk mencari perhatian, mendapatkan keuntungan materiil maupun non-materil, mempermainkan orang, atau menipu orang.

Efek yang ditimbulkan dari penyebaran berita bohong atau hoaks tersebut antara lain adalah keraguan, kecemasan, ketidaknyamanan, kegaduhan, bahkan pada tataran yang lebih parah dapat menimbulkan kerusuhan. Dengan alasan-alasan tertentu, orang menyebar berita hoaks dengan tujuan mendapatkan efek seperti tersebut di atas.

Penyebaran hoaks sendiri dapat dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Secara tidak sadar, seseorang dapat meneruskan sebuah berita yang ternyata adalah sebuah berita bohong.

Terkait penyebaran virus corona yang telah merambah berbagai negara, telah menyebar pula berbagai hoaks tentang virus corona. Teknologi dan sosial media telah membantu mempercepat penyebaran hoaks tentang virus corona. Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) Republik Indonesia telah mendeteksi bertambahnya hoaks terkait penyebaran virus corona yang meresahkan masyarakat. Setidaknya dalam lima minggu pertama sejak dilaporkannya penyebaran virus corona dari Wuhan, Kemenkominfo telah mengidentifikasi sebanyak 54 berita berisi hoaks tentang virus corona. Hoaks tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat apabila berita tersebut terus dibagikan berulang-ulang melalui sosial media.

Kembali pada kekuatan bahasa dalam penyampaian suatu informasi atau pesan, masyarakat diharapkan dapat secara cerdas menyaring suatu pesan yang diterima baik secara lisan maupun lewat sosial media. Berita yang tidak teruji keakuratannya sebaiknya tidak diteruskan ke pihak lain. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah berita hoaks seringkali lebih cepat viral sebab pada dasarnya manusia kadang membutuhkan suatu jawaban atas pikiran liar yang ada di luar nalarnya. Kecerdasan intelektual terkadang harus tunduk pada efek yang ditimbulkan dari sebuah pesan atau berita bohong.

Menyikapi berita bohong atau hoaks dibutuhkan hikmat yaitu kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Sesuatu yang baik belum tentu benar sebab apa yang dipandang baik oleh pembawa pesan hoaks tersebut belum tentu ada kebenaran di dalamnya. Oleh karena itu, untuk melawan berita hoaks atau tepatnya meminimalkan efek negatif dan berita hoaks, dibutuhkan hikmat yang didapat melalui proses interaksi seseorang dengan Sang Pencipta, pemahaman nilai-nilai kearifan, serta pemaknaan pengalaman-pengalaman hidup.

Heny Hartono, Dosen FBS dan Kepala International Affairs & Cooperation Office Unika Soegijapranata

 

►Tribun Jateng 11 Februari 2020 hal. 2

Kategori: ,