Spirit Ekoteologis Natal
Senin, 6 Januari 2020 | 10:51 WIB

image

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr,

Umat Kristiani sejagat dengan penuh sukacita merayakan Natal, yakni perayaan kelahiran Yesus Kristus, Sang Raja Damai. Yesus Kristus disebut Sang Raja Damai bukan hanya untuk manusia, melainkan juga bagi semesta alam. Bahkan, tradisi Gereja Katolik menempatkan Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam setiap tahun di akhir penanggalan liturginya.

Oleh karenanya, tidak berlebihanlah bila saat ini, sambil merayakan Natal, dengan penuh syukur dan sukacita, mari kita renungkan spirit ekoteologis Natal. Sebab, yang sedang kita rayakan kelahiran-Nya adalah Sang Raja Damai, Sang Raja Semesta Alam.

Makna spirit ekoteologis Natal bisa kita temukan mulai dari hal-hal sederhana ini. Tradisi Kristiani, terutama tradisi Gereja Katolik, kental dengan simbol-simbol Natal yang diambil dengan unsur-unsur alam semesta. Ada pohon pinus atau cemara. Ada gua Natal dengan segala asesorinya. Biasanya gua Natal juga menggunakan unsur-unsur alam, rumput, jerami, bunga-bunga, dan sejumlah binatang (yang biasa dipergunakan adalah kambing atau domba karena Natal perdana dikabarkan kepada para gembala; lalu ditambah dengan lembu, unta, tapi tidak ada cicak dan buaya, atau ular). Termasuk bagian dari semesta adalah bintang-bintang yang bercahaya.

Maka, lengkap sudah Natal diwarnai oleh unsur-unsur alam, mulai dari bersifat abiotik (gua, batu, dan tanah), yang bersifat biotik (flora dan fauna) dan tentu saja, manusia (para gembala tak pernah boleh dilupakan, lalu pada Hari Raya Epifani ditambah kehadiran tiga raja dari Timur). Kurang apa lagi data empirik Natal yang sangat dekat dengan lingkungan, alam semesta dan manusia. Di sinilah, saya melihat, mengalami dan merenungkan pentingnya spirit ekoteologis Natal.

Ekoteologi
Namun sejenak mari kita pahami terlebih dahulu, apa itu ekoteologi? Sebagai ilmu, ekoteologi Katolik baru muncul dan memberi warna teologi Barat pada pertengahan abad ke-20 (Conlee, 2019; Dalton, Anne M; Simmons, 2010). Dibandingkan denominasi Kristiani lainnya, Gereja Katolik bahkan boleh dibilang “terlambat” dalam mengembangkan ekoteologi demi merespon krisis ekologi (Rosales, 2002:6).

Ekoteologi lahir sebagai tanggapan atas gerakan Greenpeace pada tahun 1960-an yang mengecam pe(ng)rusakan lingkungan hidup. Pada era ini Rachel Louise Carson menerbitkan Silent Spring (Carson, 1962). Satu dekade kemudian Fritz Schumacher menerbitkan Small is Beautiful (Schumacher, 1973). Kedua pribadi dan buku yang diterbitkannya amat mempengaruhi para pemimpin dan ekoteolog seperti Thomas Berry dan John B. Cobb dalam rangka mengembangkan sikap ramah dan peduli pada lingkungan hidup (Berry, 2009; Cobb John B, 1995).

Secara historis, konsep awal ekoteologi baru mulai disadari dalam tradisi Gereja Katolik pada awal tahun 1960-an (Dorr, 2012:12-39). Hal serupa ditegaskan oleh Daniel Schwindt yang memberikan sintesa baru Ajaran Sosial Gereja Katolik dari Rerum Novarum hingga Laudato Si’ (Schwindt, 2015). Selama berabad-abad sebelumnya, hingga awal tahun 1960-an, sudah ada studi Teologi Ciptaan (The Theology of Creation) sebagai salah satu fokus dari Teologi Dogmatik (Dogmatic Theology). Para teolog sepakat bahwa dari sejarahnya, ekoteologi Kristiani khususnya Katolik hadir untuk menjawab tuduhan Lynn White yang membuat risetnya dengan judul The Historical Roots of Our Ecologic Crisis (1967). Lynn White mengatakan bahwa kerusakan lingkungan hidup itu disebabkan oleh anthroposentrisme Kristiani (Hodson, 2015).

Maka, muncullah para ekoteolog Kristiani yang mulai menanggapi tuduhan itu dan sejak itu berkembanglah konsep ekoteologi termasuk dari kalangan Gereja Katolik sehingga muncullah terminologi ekoteologi Katolik, yang antara lain dipelopori oleh Thomas Berry. Lalu, apa itu ekoteologi? Secara sederhana, Al. Purwa Hadiwardoyo, MSF (2015) menjelaskan bahwa ekoteologi adalah teologi yang ramah lingkungan. Gagasan dasar ekoteologi Katolik mendapatkan acuan alkitabiah, ajaran sosial Gereja Katolik dan pandangan para ekoteolog yang terus menyerukan pentingnya menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup (Hadiwardoyo, 2015:17).

Dalam tradisi Gereja Katolik, ekoteologi Katolik diawali oleh seruan Paus Paulus VI yang membahas masalah kerusakan lingkungan dalam dokumen Octogesima Adveniens (Paul VI, 1971). Setahun kemudian, Paus Paulus VI menyampaikan pesan ekologis dalam Pembukaan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Sockholm (Paul VI, 1972). Lalu, pada tahun 1977, Paus Paulus VI menyampaikan amanat dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang Kelima (Paul VI, 1977). Munculnya secara resmi dari sisi pemimpin Gereja Katolik dalam hal ekoteologi Katolik sejak Paus Paulus VI dilanjutkan oleh Para Paus berikutnya, yakni Paus Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI dan sekarang Paus Fransiskus.

Merawat Bumi
Paus Fransiskus menghebohkan dunia akademik, sosial politik, bahkan kalangan lintasagama, saat menerbitkan ensiklik Laudato Si’: On the Care for Our Common Home (LS, 24 Mei 2015). Secara terus terang tanpa basa-basi, Paus Fransiskus menulis bahwa Saudari Bumi sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padany, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya (LS 2).

Lebih lanjut Paus Fransiskus mengatakan, kita ini berpikir seakan-akan kita adalah tuan dan penguasa Bumi yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, di dalam air, di udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu, bumi terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling kita abaikan dan lecehkan! (LS 2).

Nah, inilah konteks dan alasan, mengapa di masa Natal kali ini, kita perlu sejenak merenungkan spirit ekoteologis Natal. Bukankah, kelahiran Yesus Kristus ke Bumi, antara lain dan bahkan terutama untuk menebus Bumi dan seisinya? Lalu, mengapa, kita para murid Yesus Kristus yang merayakan Natal, tak hendak bersikap peduli terhadap Bumi, yang sedang ditimpa krisis ekologi yang kian parah dan tiada kunjung henti ini?

Mari kita tengok, bagaimanakah kita memperlakukan Bumi dan seisinya? Apakah kita sudah mengembangkan spirit ekoteologis Natala, yakni dengan bersikap ramah dan peduli kepada Bumi dan seisinya? Bila ya, maka, kita sudah menghayati spirit dasar ekoteologis Natal, bahkan bisa dikembangkan lebih lanjut dengan sikap menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup!

Semoga Natal kali ini, dapat kita warnai dengan penghayatan spirit ekoteologis itu. Tak ada kata terlambat! Mari kita mulai sekarang juga dengan selalu bersikap peduli pada Bumi, bertekad menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup, mulai dari dalam diri kita, keluarga, dan bersama masyarakat di sekitar kita.

Selamat merayakan Natal dalam spirit ekoteologis!

Aloys Budi Purnomo Pr, Budayawan Interreligius, Pastor Kepala Campus Ministry dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.

https://investor.id/opinion/spirit-ekoteologis-natal

Kategori: ,