Rancang Ibukota Baru yang Ramah Lingkungan – Unika Soegijapranata Juara II Sayembara Design Ibukota Baru
Kamis, 2 Januari 2020 | 10:04 WIB

JWP 31_12_2019 Rencana Ibukota Baru yang Ramah Lingkungan

Tim Infinite City dari Unika Soegijapranata yang berkolaborasi dengan Antistatics Architecture Beijing terpilih sebagai juara II dalam Sayembara Desain Ibukota Negara (IKN). Pemenang telah diumumkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basoeki Hadi Moeljono pada Senin (23/12) lalu.

Ketua tim sayembara IKN dari Unika Soegijapranata Dr Antonius Ardiyanto menyampaikan secara sekilas proses pendaftaran hingga presentasi di hadapan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. “Kita mengikuti sayembara pada tanggal 18 Oktober 2019 dan 29 November 2019 harus sudah selesai. Dan dalam pendaftaran itu kita mendapat nomor IKN- 0831W,” tutur Ardiyanto.

Tim Unika Soegijapranata yang terdiri dari Dr Antonius Ardiyanto, Dr Joko Suwarno, Daniel Jansen (mahasiswa) dan Aristarkus Edi M, sedangkan tim dari Antistatics Architecture Beijing ada 6 orang yakni Mo Zheng dan Xuanzhou Liu (Beijing-Cina), Martin F Miller (New York-USA), Yasser Hafizs (Alumni ITB), Luke Theodorius Erick Dwi (alumni Unika representasi tim Beijing), Christopher Stephen Beckett (Inggris). Pada proses berikutnya bergabunglah tim konsultan profesional dari Beijing Tiongkok yang timnya juga ada di New York Amerika.

Tercatat total pendaftar ada 755 tim dan pada saat pengumpulan design hanya terkumpul 292 atau kurang dari 50 %. Selanjutnya diseleksi administrasi, hingga dari 292 tersebut lolos seleksi 257 peserta. Tahap berikutnya diseleksi kembali menjadi 30 nominator, dan selanjutnya dari 30 nominator dipilih lima besar. “Dan tim kami IKN-0831 W masuk dalam lima itu, sehingga dalam waktu singkat yaitu selama tiga hari harus segera menyiapkan materi untuk dipresentasikan di hadapan presiden, para menteri serta para juri.

Tim Unika Soegijapranata mengusung konsep yang berbeda dengan tim lain. Mereka menyusun ibukota dengan memperkecil risiko lingkungan, terutama menyangkut kenaikan permukaan air laut yang banyak mempengaruhi kota-kota besar di dunia. “Untuk mengantisipasi itu, design kami dari area yang ditetapkan pemerintah, kita tidak mengambil sebelah selatan yang dekat dengan teluk Balikpapan tetapi mengarah ke utara di kecamatan Semboja.

Kemudian di sisi yang kedua, konsepnya adalah bangunan itu nanti akan ramah terhadap lingkungan sehingga sebagian besar bangunan harus diangkat menjadi bangunan panggung. Artinya ruang bawah itu tetap tanah dan tumbuhan untuk peresapan air.

 

►Jawa Pos Radar Semarang, 31 Desember 2019 hal. 8

Kategori: