Nikah Muda Berpotensi Perceraian
Selasa, 14 Januari 2020 | 15:22 WIB

image

Pemerintah telah memberlakukan UU No 16 Tahun 2019 tentang perkawinan per Oktober 2019 lalu.

UU tersebut merupakan perubahan atas UU No 1 Tahun 1974 yang salah satu pasalnya mengubah usia minimal calon pasangan dari 19 tahun (pria) dan 16 tahun (wanita) menjadi usia minimal 19 tahun baik pria dan wanita.

Psikolog yang juga dosen psikologi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang Christa Vidia Rana Abimanyu SpSi MPsi kepada pers di kampus setempat, Kamis (9/1) menyatakan sejak diberlakukan UU No 16 tahun 2019, jumlah permohonan dispensasi nikah melonjak tajam. ”Jika biasanya Pengadilan Agama Kota Semarang rata-rata hanya menerima pengajuan dispensasi terkait usia pernikahan 5 sampai 8 permintaan perbulan, pada November lalu menjadi 30 perbulannya. Padahal fenomena pernikahan usia muda berpotensi besar mengakibatkan perceraian,” ujar Abimanyu.

Menurut data yang dikutip Abimanyu dari Pengadilan Agama Kota Semarang, alasan paling banyak pasangan muda bercerai adalah pertengkaran terus-menerus dalam rumah tangga.

Selain itu, faktor salah satu pasangan meninggalkan pasangan lainnya serta faktor ekonomi yang belum stabil di usia muda menyumbang besar penyebab perceraian.

”Secara emosi, orang di bawah 20 tahun belum matang. Biasanya mulai matang usia 25 tahun ke atas. Emosi labil menyebabkan kesulitan menjalani kehidupan bersama. Emosi labil membuat mudah marah mengakibatkan komunikasi rumah tangga tidak ideal dan berujung perceraian,” tandas Abimanyu.

Untuk menekan tingginya angka perceraian pasangan muda karena masalah emosi yang belum stabil, Abimanyu menyarankan pasangan perlu saling mengerti dan menerima karena kondisi emosi mereka memang dalam masa pengembangan menuju stabil.

►Kedaulatan Rakyat 11 Januari 2020, hal. 6

Kategori: