MERINDING, Kisah Persahabatan Mahasiswa Beda Suku dan Agama hingga Meninggal
Jumat, 31 Januari 2020 | 10:44 WIB

image

Postingan seorang Dosen bernama Lita Widyo Hastuti dari Universitas Katolik Soegijapranata viral di media sosial.

Postingannya tersebut menjadi perbincangan warganet, ketika Lita Widyo menceritakan soal persahabatan mahasiswanya.

Dalam postingannya di akun Twitter @WidyoLita, Lita Widyo menuliskan bahwa para mahasiswanya tersebut berasal dari berbagai latar belakang.

image

"Saya pernah punya bbrp mahasiswa yg berkawan dekat. Si A berjilbab & tipe halus.

B aktivis yg suka pake liontin salib & sesekali telat kuliah.

C Tionghoa tomboy rambut dicat, sy lupa dia Buddhis atau KongHuCu.

D cowok baik hati yg suka dikerjain. Masih ada 1-2 lagi sy gak inget," tulisnya.

Widyo Lita menceritakan bahwa suatu ketika sosok A yang bergama muslim mengalami kecelakaan.

Si A tersebut mengalami luka parah di bagian kaki.

Mendengar si A kecelakaan, teman-temannya yang berbeda agama itu langsung bergegas memberikan bantuan untuk merawat si A di rumah sakit hingga orangtua si A datang.

"Satu saat terkabar A si cantik berjilbab kecelakaan berat.

Apalah daya seorang pengendara motor melawan laju truk. Salah 1 kakinya terluka parah.

Teman-temannya bergegas mengurus ini itu sembari menunggu ortu A yg tinggal di luar kota, sampai A bisa dirawat di rumah sakit," tulisnya.

Lalu, sosok si A tidak ada kemajuan.

Akhirnya si A harus dirujuk di rumah sakit di Solo, Jawa Tengah.

Ketika di Solo, kaki si A harus diamputasi.

"Beberapa hari berlalu & tak ada kemajuan berarti.

Dokter merujuk ke 1 rumah sakit yg lebih lengkap dgn dokter yg lebih ahli di bidangnya.

Jadilah A dipindahkan dari Semarang ke Solo.

Tak lama berselang kabar lain datang, tak ada pilihan lain, kaki A harus direlakan untuk diamputasi," tulisnya.

Setelah itu, Lita Widyo menyempatkan besuk.

Ternyata ada beberapa mahasiswanya yang bolos kuliah demi merawat si A.

Tampak mahasiswanya kelelahan tapi tetap berusaha menyembunyikan kelelahannya.

Tribun Forum peringati Hari Ibu dengan topik Ibu Digital Masa Kini di Noormans Hotel Semarang, Selasa 20 Desember 2016. Menghadirkan Kresseptiana Hendrar Prihadi, Sri Safitri (Telkom), Lita Widyo Hastuti wakil Rektor III Unika Soegijapranata.Tribun Forum peringati Hari Ibu dengan topik Ibu Digital Masa Kini di Noormans Hotel Semarang, Selasa 20 Desember 2016. Menghadirkan Kresseptiana Hendrar Prihadi, Sri Safitri (Telkom), Lita Widyo Hastuti wakil Rektor III Unika Soegijapranata. (Tribun Jateng)

"Saat sy sempatkan bezuk, teman-teman A tengah berada di rumah sakit.

Rupanya mereka bergiliran meninggalkan kuliah di Semarang utk menguatkan ortu A mendampingi putrinya.

Saya saksikan mereka ngelesot di lantai dgn wajah kelelahan tapi berusaha hepi sambil makan nasi bungkus," tulisnya.

Namun, ternyata sosok si A menghembuskan nafas terakhirnya.

Teman-teman si A yang bergantian menjaga si A tampak sangat terpukul.

"Upaya medis terus berjalan, namun akhirnya Tuhan memanggil.

Pecah tangis keluarga & para sahabat.

Jenasah dibawa ke rumah duka, sebuah kota kecil.

Sy tak mampu gambarkan wajah-wajah duka, tak juga perlu berkata-kata, cuma menepuk-nepuk pundak anak-anak muda itu satu demi satu," tulisnya.

Selang setahun kemudian, teman-teman si A lulus dan menyiapkan acara khusus untuk mendoakan si A.

"Waktu berlalu, mungkin setahun kemudian, saya dengar bbrp dari mereka dinyatakan lulus.

Saat yudisium menjelang wisuda ada sesuatu yg tak biasa.

Kawanan ini menyiapkan sesuatu di luar acara resmi, 1 seremoni kecil berisi kenangan dan doa bersama utk teman kesayangan mereka, A," tulisnya.

Rupanya, teman-teman si A merasa bahwa sosok A itu sangat memberikan semangat kepada mereka.

"Mereka bilang kami lulus atas semangat A, bagi kami dia ada di sini lulus bareng kami.
Hadir di situ ortu A yg relasinya makin kuat dgn para sahabat putrinya.

Salut & cinta saya utk anak-anak muda hebat itu dimanapun mereka kini berada.

Saya rindu Indonesia yg toleran," tulisnya.

Melihat indahnya toleransi yang dilakukan mahasiswanya tersebut, Lita Widyo mengaku sangat bahagia.

Lita Widyo mengaku rindu dengan anak muda yang bisa menghargai perbedaan tanpa sekat agama, ras dan suku.

"Saya rindu makin banyak anak muda seperti mereka, yang matanya bening tak terkotori perbedaan, yang punya hati jauh lebih luas dibanding sekedar sekat agama dan ras yang seringkali membutakan," tulisnya.

Ditengah viralnya postingan tersebut orang tua mahasiswa yang kehilangan anaknya akibat kecelakaan tersebut memuji sang dosen yang telah berhasil mendidik mahasiswanya.

"Bu Lita….! Saya hapal sahabat A. Bahkan, sebagian besar dari mereka, anak2ku itu, saya juga tahu keberadaannya sekarang karena saya adalah ortu si A ! Sungguh, mereka adalah anak2 hebat, cerminan dari hasil proses pendidikan yg pasti luar biasa hebat, dosen2 yg hebat," tulis akun @wahyu2202.

Kemudian Lita pun membalas cuitan tersebut dan memuji ketulusan Wahyu yang masih terus menjalin silaturahmi dengan para sahabat anaknya tersebut.

"Pak Wahyu. Luar biasa, kita dipertemukan di twitter. Ananda lahir dari orangtua hebat yg berani melepas putrinya ke lingkungan yg sarat perbedaan.

Bahkan dlm ketiadaannya, ananda masih memfasilitasi kuatnya persaudaraan di antara kami. Salam hormat utk Bapak dan Ibu," balas Lita.

https://medan.tribunnews.com/2020/01/30/merinding-kisah-persahabatan-mahasiswa-beragam-suku-dan-agama-hingga-meninggal?page=all.

Kategori: