Merefleksi Globalisasi Pendidikan
Senin, 20 Januari 2020 | 9:50 WIB

TRB 18_01_2019 Merefleksi Globalisasi Pendidikan

Oleh: Dr. Henny Hartono, SS., MPd

GLOBALISASI yang tidak mengenal batas wilayah telah menjadikan jarak antarnegara bukan lagi menjadi penghalang bagi bangsa-bangsa untuk saling berinteraksi dan berkompetisi dalam segala bidang. Peluang untuk go internasional terbuka lebar dari segala aspek kehidupan mulai dari jasa pelayanan pendidikan hingga lapangan pekerjaan.

Dalam dunia pendidikan, gema internasionalisasi sendiri sudah mulai terdengar sejak dua dekade terakhir. Menyoroti internasionalisasi pada lembaga pendidikan tinggi, institusi pendidikan tinggi didorong membuka diri untuk kerjasama secara internasional dengan prinsip mengutamakan kepentingan pembangunan nasional, menghargai kesetaraan mutu, saling menghargai, serta menghasilkan peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu sendiri merupakan prioritas pertama dalam rencana strategis Dikti 2015-2019.

Berangkat dari prinsip-prinsip kerjasama serta prioritas rencana strategis Dikti tersebut, patut digarisbawahi kembali beberapa kata kunci seperti kesetaraan mutu, peningkatan mutu, serta saling menghargai. Dalam tataran kerjasama internasional yang melibatkan dua atau lebih institusi pendidikan tinggi dalam dan luar negeri, isu kesetaraan mutu perlu selalu dijadikan landasan kerjasama. Pada prakteknya, geliat kerjasama sebagai buah globalisasi sering dilandasi semangat untuk meningkatkan ranking universitas atau perguruan tinggi. Bukan hal yang salah untuk melakukan hal tersebut namun semangat bekerjasama yang dilandasi kesetaraan mutu perlu terus diperjuangkan.

Rekognisi internasional menjadi salah satu indikator penilaian ranking suatu pendidikan tinggi. Beberapa lembaga internasional penentu ranking universitas mencatumkan elemen internasionalisasi sebagai elemen penentu skor akhir, seperti misalnya THE (Times Higher Education) yang membagi prosentase penilaiannya sebesar 30% untuk komponen pengajaran, 30% untuk penelitian, 30% untuk sitasi publikasi ilmiah, 7.5 % untuk internasionalisasi, serta 2.5 % untuk revenue generator (pendapatan). Lembaga-lembaga pengindeks lain juga sudah memberikan prosentase di atas 5% untuk komponen internasionalisasi. Di dalam negeri, pemeringkatan perguruan tinggi juga memasukkan komponen publikasi dan kerjasama internasional sebagai indikator penilaian.

Terkait dengan hal tersebut di atas, dua hal yang perlu diperjuangkan adalah international recognition dan win-win partnership dimana keduanya harus berangkat dari semangat nasionalisme untuk mengangkat nama Indonesia di kancah internasional. Dengan demikian, pro dan kontra internasionalisasi pendidikan yang menjadi polemik selama ini dapat diminimalisir. Semangat nasionalisme mendorong perguruan tinggi untuk berjuang meningkatkan mutu pendidikan sehingga pengakuan atau rekognisi internasional yang didasarkan atas kerja nyata akan menghasilkan pengakuan dari pihak eskternal.

Di samping itu, kerjasama yang didasarkan atas semangat memperjuangkan kesetaraan mutu sehingga menghasilkan win-win partnership perlu menjadi pertimbangan saat sebuah institusi pendidikan tinggi akan memulai sebuah kerjasama atau kolaborasi dengan institusi pendidikan tinggi dari luar negeri. Meningkatnya jumlah MoU atau perjanjian kerjasama seyogyanya beriringan dengan meningkatnya jumlah realisasi nyata program kerjasama tersebut. Salah satu bentuk kerjasama yang dapat dilakukan adalah melalui pertukaran mahasiswa, staf dosen, maupun staf tenaga kependidikan diantara kedua institusi yang bekerjasama.

Program pertukaran mahasiswa menjadi salah satu program yang menjadi daya tarik khususnya bagi calon mahasiswa baru. Mahasiswa Indonesia berlomba mendapat kesempatan untuk dapat mengikuti program pertukaran mahasiswa atau bahkan mendapatkan gelar ganda dari dua perguruan tinggi yang bekerjasama. Pertanyaan selanjutnya adalah kesiapan perguruan tinggi di Indonesia untuk juga menerima mahasiswa asing dalam kelas-kelas di kampus Indonesia. Apakah mahasiswa kita siap untuk duduk bersama, berdiskusi bersama, dan bekerja sama dalam perkuliahan di kampus-kampus kita? Andai mahasiswa kita siap untuk duduk sejajar bersama teman-teman internasional mereka, siap mengemukakan ide dan gagasan mereka dalam bahasa internasional, katakan bahasa Inggris, bagaimana dengan dosen-dosen mereka? Apakah dosen-dosen kita sudah siap mengajar sebuah kelas yang diproyeksikan untuk mewadahi mahasiswa global ? Bagaimana pula dengan tenaga kependidikan yang mendukung proses belajar mengajar? Apakah mereka juga siap untuk memberikan pelayanan prima kepada para mahasiswa global? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi refleksi bagi setiap institusi pendidikan tinggi di Indonesia.

Semangat nasionalisme yang kuat harus mendorong seluruh civitas akademika untuk memperjuangkan mutu pendidikan dan untuk berkompetisi dalam era globalisasi melalui bidang masing-masing. Martabat sebagai bangsa yang besar semestinya menjadi motivasi untuk memperjuangkan kesetaraan mutu dengan bangsa-bangsa lain. Dengan semangat nasionalisme tersebut, tidak perlu ada kekhawatiran akan hilangnya penghargaan atas nilai-nilai budaya lokal sebab justru melalui perjuangan untuk mencapai kesetaraan mutu tersebut masing-masing kita akan bangga sebagai bangsa Indonesia yang mampu bergandengan tangan dan bekerjasama dengan mitra dari berbagai belahan dunia.

*)Dr. Henny Hartono, SS., MPd., Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unika Soegijapranata

 

►Tribun Jateng 18 Januari 2020 hal. 2

Kategori: ,