Merayakan Natal di Era Krisis Ekologi
Jumat, 3 Januari 2020 | 16:07 WIB

SM20191224_hal_06 Merayakan Natal di Era Krisis Ekologi

Oleh Aloys Budi Purnomo

"Segalanya terhubung dalam sikap hormat dan menghargai. Termasuk terhadap bumi, sehingga buahnya adalah sikap merawat bukan merusak, menjaga bukan mengeruk sumber alam, melindungi bukan mengangkangi seakan kita berhak mengeksploitasi bumi dan sumber alam demi keuntungan pribadi."

BAGAIMANA menyambut dan merayakan Natal sebagai kenangan akan kelahiran Yesus Kristus pada era krisis ekologi? Melalui ensiklik Laudato Si’: On Care for Our Common Home (24/5/2015), Paus Fransiskus menyadarkan umat Kristiani, bahkan semua orang di seluruh dunia, akan fakta krisis ekologi yang menimpa bumi, rumah kita bersama. Lalu, bagaimana menghubungkan keprihatinan yang diserukan Paus Fransiskus tersebut dengan Natal, yang tiap tahun dirayakan umat Kristiani? Fakta historis iman kelahiran Yesus Kristus erat terhubung dengan keprihatinan ekologi manusia yang dicekam dosa. Itulah yang saya sebut sinful human ecology dalam konteks Natal perdana. Ada lingkaran dosa asal yang saling terkait dan membelenggu manusia dalam relasinya dengan Allah, bumi, sesama, dan ciptaan lainnya. Dalam konteks itu, Natal direnungkan sebagai cara Allah mengasihi bumi dan seisinya, termasuk manusia. Itulah yang saya rangkum dalam rangka teologi kontekstual dari teks Yohanes 3:16, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Belas Kasih Allah

Teks indah itu merangkum inti inkarnatif (penjelmaan) perayaan Natal. Kelahiran Yesus Kristus di bumi ini merupakan narasi personal atas teks biblikal itu. Narasinya bukan fiktif, melainkan faktual personal (maka narasi personal) bahwa sosok pribadi bernama Yesus Kristus lahir dari rahim Santa Perawan Maria untuk menyatakan belas kasih Allah yang begitu besar kepada dunia! Dunia adalah bumi dan seisinya, termasuk manusia. Maka, berdasarkan teks Yohanes 3:16, perayaan Natal itu memuat aspek “green” ekologi integral, yakni keterhubungan semua dengan semua siapa saja dan apa saja. Penghubungnya adalah kasih Allah yang begitu besar akan dunia ini, berkenan mengutus Yesus Kristus demi memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang dirusak oleh dosa dan berdampak kepada bumi dan seluruh isinya, termasuk manusia. Itulah hubungan ekologis antara kasih Allah dan manusia serta bumi seisinya dalam rangka Natal. Hanya, ketika hubungan ini dihayati dalam tindakan ekologis, maka hal itu dipandang tidak hanya sebagai tanggung jawab secara etis tetapi juga sebagai ekspresi secara radikal (radix = seakar-akarnya), sebagai praksis setia kemuridan Kristiani.

Melalui perayaan Natal pun, bahkan lebih lagi, umat Kristiani ditantang dari kedalaman jiwa untuk bertobat secara ekologis. Dalam segi welas asih, bersama Kristus yang dikenang kelahiran- Nya, umat Kristiani diundang untuk juga menghadirkan kasih Allah kepada bumi dan seisinya, kepada sesama dan semesta. Karena alasan kelahiran Yesus adalah kasih Allah, maka kehidupan Yesus pun menggemakan kasih Allah dalam pengampunan bagi orang berdosa. Yesus mengajarkan bahwa cinta adalah makna dari segala sesuatu, cinta kepada Allah dengan segenap akal budi dan tenaga serta cinta untuk sesama seperti diri sendiri. Yesus menegaskan bahwa cinta ini tidak memiliki batas hingga bahkan harus terekspresikan dalam cara radikal mengasihi musuh!

Mengasihi Semesta

Dalam hidup-Nya di bumi, Yesus pun mengasihi dan menghargai bumi dan seluruh isinya. Itulah sebabnya, Ia berdoa di atas gunung, mengajar di lembahlembah dan tepi pantai. Yesus pun mengajar dengan menggunakan alam semesta: burung di udara, bunga di ladang, ikan di lautan, pepohonan di taman, termasuk ular dan serigala, merpati dan burung pipit, gandum dan ilalang, dan pokok anggur beserta ranting- rantingnya. Dalam Yesus, everything is connected to everything else in all respect. Segalanya terhubung dalam sikap hormat dan menghargai. Termasuk terhadap bumi, sehingga buahnya adalah sikap merawat bukan merusak, menjaga bukan mengeruk sumber alam, melindungi bukan mengangkangi seakan kita berhak mengeksploitasi bumi dan sumber alam demi keuntungan pribadi. Dalam semua ini, Natal menjadi momentum bagi umat Kristiani dan siapa saja yang merayakannya untuk yakin bahwa tahap baru dalam sejarah keselamatan Allah telah tercapai. Maka, mari kita jaga kelangsungannya juga pada era krisis ekologi sekarang ini. Apalagi, sejarah iman Kristiani menbuktikan, para kudus dan mistikus Kristen telah mengakui bahwa belas kasihan Allah ini tidak berhenti pada manusia. Santo Paulus mengatakan kepada umat di Roma bahwa seluruh ciptaan menanti penebusan dalam Kristus (Roma 8:19-24). Pada ujung abad kedua, Santo Irenaeus melihat seluruh ciptaan sebagai rekapitulasi (=diringkas dan diubah) Kristus dan ditakdirkan untuk berbagi dalam kemenangan-Nya atas kematian. Pada abad ketiga belas, Fransiskus dari Assisi menunjukkan bagaimana belas kasihan Allah yang terkandung dalam Yesus mengulurkan tangan untuk merangkul setiap makhluk sebagai saudari dan saudara kita di hadapan Allah. Karena itu, pada Natal kali ini, mari kita hadirkan belas kasih Allah kepada sesama dan semesta dengan menjaga keutuhan dan kelestarian lingkungan hidup. Jangan merusak dan menghancurkannya. Selamat Natal bagi yang merayakannya! (40)

—Aloys Budi Purnomo Pr, rohaniwan, Pastor Kepala Campus Ministry, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata (Unika) Semarang.

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/211475/merayakan-natal-di-era-krisis-ekologi, Suara Merdeka 24 Desember 2019 hal. 6

Kategori: , ,