Diskusi Ruang Rabu Unika Soegijapranata, Semarang Punya Banyak Peninggalan Periode Hindu-Buddha
Senin, 20 Januari 2020 | 8:17 WIB

image

Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) dan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) Unika Soegijapranata menggelar diskusi bertema Semarang Periode Hindu-Buddha.

Diskusi yang dilabeli Ruang Rabu itu dimoderatori Dosen Donny Danardono dan mengundang narasumber Tri Subekso selaku Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Semarang dan Ufi Saraswati Dosen Sejarah Unnes.

Pada sesi pertama, Tri Subekso memberi memaparkan tentang sebaran peninggalan hindu-buddha yang ada di wilayah Semarang.“Berbicara suatu masa yang jarang disinggung karena kurangnya data dan belum diketahui publik itu sangat menarik.

Karena kalau berbicara Kota Semarang biasanya kita berbicara Ki Ageng Pandanaran yang mendirikan Kabupaten Semarang dan sebagainya.

Sejak itu saya berpikir narasi peradaban yang ada di Semarang pasti punya satu rentetan peristiwa masa lalu setidaknya bisa melihat peninggalan yang ada dan sayangnya tidak banyak,” ujar Tri Subekto.

Ia mengawali dengan menerangkan karakteristik pemukiman yang ada di pantai utara Jawa termasuk Semarang.

Menurutnya peran sungai dan mata air penting bagi pemukiman manusia yang akhirnya memunculkan kota-kota di tepian laut.

Pemilihan lokasi pemukiman didasari dari bebapa faktor baik alam maupun supra alam.

Tujuannya adalah memastikan hubungan yang harmonis antara manusia, alam dan roh serta memastikan keberadaan komunitas masyarakat dan mata pencahariannya.

Pemukiman yang ada di tepian laut tidak dapat dipisahkan dengan pelabuhan.

Ada beberapa kajian tentang pelabuhan kuno. Muara sungai yang ada di tepi laut biasanya lebih disukai menjadi tempat munculnya pelabuhan kuno.

Artinya ada literatur yang menerangkan Jawa Tengah pada abad-4 di literatur-literatur.

Menurut catatan Cina, Faxian seorang buddhist melakukan pendaratan di Pulau Jawa pada 414 M.

Di sana ia menemui banyak para heredik, brahman (penganut hindu) dan sedikit penganut buddha.

Fakta menarik adalah hanya sedikit penganut buddha di tempat itu diduga berada di pesisir pantai utara Jawa.

“Saya menduga itu berada di pantai utara Jawa. Bisa saja di Semarang, Kendal, Batang dan sebagainya,” lanjutnya.

Ia juga menceritakan kebiasaan unik masyarakat Jawa pada masa itu yakni pada bulan ke-5 menaiki perahu ke laut.

Sedangkan pada bulan ke-10 mereka berlibur ke pegunungan. Mereka mempunyai kuda poni pegunungan yang dapat ditunggani dengan baik.

Kemudian menurut data Belanda ditemukan arca dua orang penunggang kuda yang di pegunungan Ungaran, Kabupaten Semarang.

“Bisa saja ini merupakan kebiasaan yang terjadi di masa itu.

Ada kuda, ada masyarakat yang menggunakannya, dan rujukan berita Cina.

Kalau kita bicara peninggalan masa hindu-buddha di Semarang sangat banyak sekali,” imbuhnya.

Ada beberapa catatan belanda yang jadi rujukan peninggalan periode hindu buddha  di Semarang antara lain :

1. Temuan nekara di Randusari.

2. Temuan arca Siwa, Buddha dan dua ornamen di Jomblang.

3. Temuan fragmen candi hindu dengan ukiran berbentuk lonceng di Gereja Katedral Randusari.

4. Arca Manjusri yang ditemukan di Kelurahan Ngemplak, Simongan, Semarang Barat berasal dari abad 10 Masehi.

5. Situs Pleburan terletak di Pemakaman Sukolilo, Pleburan, Semarang Selatan. Terdapat arca ganesha dan tujuh lingga.

6. Situs Cangkiran di Kelurahan Cangkiran, Mijen dan masih banyak lainnya.

https://jateng.tribunnews.com/2020/01/17/diskusi-ruang-rabu-unika-soegijapranata-semarang-punya-banyak-peninggalan-periode-hindu-buddha?page=all.

Kategori: