8 Metode Menurut Pakar untuk Pengelolaan Sampah di Kota Semarang
Senin, 13 Januari 2020 | 13:22 WIB

image

Problematika sampah saat ini, khususnya di perkotaan adalah meningkatnya produksi sampah plastik.

Kota Semarang, kota metropolitan terbesar ke-4 di Indonesia, juga mengalami masalah serius dalam pengelolaan sampah.

Warganya 1,8 juta jiwa setiap hari menghasilkan rata-rata 0,6 kilogram sampah per orang, sehingga total rata-rata 1.200 ton sampah.

Produksi sampah plastik meningkat dari 11 persen menjadi 15 persen.

Ini membuat Indonesia menjadi tercemari, seperti ekosistem laut, sungai dan danau.

Menurut Prof Budi selaku Pakar lingkungan Unika Soegijapranata, Indonesia sebagai penyumbang sampah nomor dua di dunia, untuk polusi plastik di lautan.

“Adanya problematik sampah plastik dan tidak adanya penanganan. Sedangkan sampah yang bisa di daur ulang hanya empat puluh lima persen,” ujarnya pada saat diskusi publik, Minggu (12/1/2020).

Pemerintah Indonesia berinisiatif menyelesaikan permasalahan sampah plastik ini dengan menerbitkan Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Rumah Tangga

Ia menambahkan, untuk membantu pemerintah menerapkan konsep zero waste maka masyarakat harus berperan aktif dalam pengelolaan sampah yang dihasilkan dalam aktivitas mereka, terutama jenis rumah tangga.

“Keberhasilan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh partisipasi aktif masyarakat, terutama rumah tangga.

Hal ini di karenakan rumah tangga merupakan masyarakat yang berhubungan langsung dengan masalah sampah, baik didalam maupun luar rumah,” terangnya.

Untuk itu, solusi penanganan sampah yang tepat, mampu mengeliminasi menumpuknya sampah, sampai taraf zero waste.

Prof (Em.) Paul Connett selaku penulis buku Zero Waste mengatakan metode zero waste di dunia ada 8 metode yang dapat diterapkan di Kota Semarang yaitu:

1. Pemilahan dari sumber, ialah sampah dapat di pilah menjadi sumber sampah dengan 10 jari kita.

2. Pemilahan dari pintu ke pintu, ialah memisahkan sampah organik dan non organik, sehingga bisa memilih sampah mana yg dapat di daur ulang

3. Pengomposan, metode ini adalah mendaur ulang sampah organik menjadi pupuk, yang dapat di manfaatkan untuk tumbuhan.

4. Daur ulang di san Fransisco, dengan memanfaatkan sampah yg dapat di daur ulang untuk mendapatkan uang.

5. Daur ulang, dengan memanfaatkan kembali sampah untuk menjadi produk tertentu

6. Langkah mengurangi sampah dengan Reduce, Reuse, Recycle

7. Membayar sampah sesuai dengan banyaknya sampah yg kalian produksi, semakin banyak sampah yg di produksi maka semakin banyak juga biaya yg di keluarkan untuk samph tersebut.

8. Residual separation dan biological stabillization.

 

https://jateng.tribunnews.com/2020/01/13/8metode-menurut-pakar-untuk-pengelolaan-sampah-di-kota-semarang?page=all.

Kategori: