Tim Unika Soegijapranata Raih Juara II Sayembara Design Ibukota Baru Republik Indonesia
Minggu, 29 Desember 2019 | 21:20 WIB

Tim Infinite City dari Unika Soegijapranata yang berkolaborasi dengan Antistatics Architecture Beijing telah terpilih sebagai juara II dalam Sayembara Desain Ibukota Negara (IKN) yang diumumkan pada Senin lalu (23/12) oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basoeki Hadi Moeljono.

Ketua tim sayembara IKN dari Unika Soegijapranata Dr Antonius Ardiyanto menyampaikan secara sekilas proses pendaftaran hingga presentasi di hadapan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

“Kita mengikuti sayembara pada tanggal 18 Oktober 2019 dan 29 November 2019 harus sudah selesai. Dan dalam pendaftaran itu kita mendapat nomor IKN- 0831W,” tutur Dr.Ir. Antonius Ardiyanto, MT

Dalam proses selanjutnya, kami dari Unika Soegijapranata sejumlah empat orang yaitu Dr Antonius Ardiyanto, Dr Joko Suwarno, Daniel Jansen (mahasiswa) dan Aristarkus Edi M, sedangkan tim dari Antistatics Architecture Beijing ada 6 orang antara lain: Mo Zheng dan Xuanzhou Liu (Beijing-Cina), Martin F Miller (New York-USA), Yasser Hafizs (Alumni ITB) dan Luke Theodorius Erick Dwi (alumni Unika representasi tim Beijing), Christopher Stephen Beckett (Inggris).

Maka proses berikutnya bergabunglah tim konsultan profesional dari Beijing China yang timnya juga ada di New York Amerika, ujar Dr Ardi.

Adapun kriteria sayembara design IKN ini memang tergolong agak sulit, karena dari jumlah total pendaftar sebanyak 755, pada saat pengumpulan design terkumpul 292 atau kurang dari 50 %. Selanjutnya diseleksi administrasi, hingga dari 292 tersebut lolos seleksi 257 peserta.

Tahap berikutnya diseleksi kembali menjadi 30 nominator, dan selanjutnya dari 30 nominator dipilih lima besar dan tim kami IKN-0831 W masuk dalam lima itu, sehingga dalam waktu singkat yaitu selama tiga hari harus segera menyiapkan materi untuk dipresentasikan di hadapan presiden, para menteri serta para juri.

“Memang tim kami kebetulan mengusung konsep yang berbeda dengan tim lain, dimana concern kami yaitu Ibukota itu harus memperkecil resiko lingkungan, terutama menyangkut kenaikan permukaan air laut yang banyak mempengaruhi kota-kota besar di dunia yaitu adanya penurunan tanah kemudian mulai banjir, sebagai akibat es di kutub yang mencair dan akibat gempa tsunami,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi itu, design kami dari area yang ditetapkan pemerintah, kita tidak mengambil sebelah selatan yang dekat dengan teluk Balikpapan tetapi mengarah ke utara di kecamatan Semboja.

Kemudian di sisi yang kedua, konsepnya adalah bangunan itu nanti akan ramah terhadap lingkungan sehingga bangunannya sebagian besar harus diangkat menjadi bangunan panggung, artinya ruang bawah itu tetap tanah dan tumbuhan untuk peresapan air.

Kita juga mengkonsepkan di tengah area ada bendungan sebagai sumber air, konturnya menententukan untuk pembentukan jalur jalan, dengan konsep pola jalannya adalah bunga anggrek.

Hal lain kita juga mengarah pada teknologi advance untuk bangunan yang hemat energi, perhatian terhadap air hujan dengan adanya rain harvesting, kincir angin, kemudian ada panel surya.

Pembagian zonanya juga sudah jelas seperti pemerintahan, riset dan teknologi, zona kebudayaan atau kehidupan sosial budaya dan seterusnya.

“Selain itu, untuk transportasinya kita menggunakan transportasi modern, dan termasuk transportasi massalnya. Kemudian untuk mobilnya adalah mobil listrik seperti Tesla atau Toyota i-Road yang hemat listrik dan resiko polusi lebih kecil, pemakaian sepeda dan tremnya keliling terus, jadi ada kereta-kereta seperti di bandara Cengkareng 1,2 dan 3 itu ada skytrains seperti itu. Dan sistemnya nanti di Ibukota itu ada park and ride, jadi mobil-mobil diparkirkan di tepian kota kemudian kedalamnya masuk melalui transportasi massal dan pengembangan area pedistrian yang humanis, diharapkan seperti itu,” pungkasnya. (fas)

Kategori: ,