Sudah Luncurkan 30 Karya Inovasi Digital
Selasa, 17 Desember 2019 | 11:24 WIB

SM 17_12_2019 Sudah Luncurkan 30 Karya Inovasi Digital

Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang terus melakukan inovasi dan adaptif menghadapi era perkembangan teknologi informasi. Hingga kini, Unika sudah meluncurkan 30 karya inovasi digital untuk mendukung kenyamanan belajar mahasiswa serta mempercepat proses administasi kampus. Hasil studi McKinsey Global Institute 2019, kemampuan dalam mengadopsi teknologi merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam menghadapi masa depan.

“Perubahan yang terjadi pada masa depan memang tidak dapat ditebak secara pasti, namun usaha mempersiapkan diri sungguh-sungguh diyakini memberikan hasil positif. Dengan kebiasaan mengadopsi teknologi informasi di kampus, lulusan Unika Soegijapranata diharapkan lebih adaptif, gesit, dan tidak resisten dalam menghadapi perubahan,” kata Rektor Unika Soegijapranata Semarang Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC; saat memberikan sambutan dalam Wisuda Periode m 2019, di aula Gedung Albertus, kampus Unika, baru-baru ini.

Adapun layanan inovasi digital Unika itu di antaranya Dashboard Informasi Mahasiswa (Dimas), Virtual Assistant Unika (Vanika), Dukungan Kita (Duta), Halo Alumni (Hani),
Dokumentasi Elektronik Tugas Akhir (Delta), dan Studio Pembelajaran Digital (Speda).

Dalam waktu dekat, segera diluncurkan Simulator Teknologi Pembelajaran (Stela) dan Hologram Library (Holy). Menurut Ridwan, mahasiswa Unika sejak awal masuk kuliah dipersiapkan dengan berbagai soft skils agar dapat mendukung kemampuan, teknis selama perkuliahan.

Terancam Punah
Dalam laporan publikasi McKinsey 2017, diprediksi terdapat 800 juta pekerjaan di seluruh dunia akan hilang akibat otomatisasi pada 2030. Bahkan pada 2019, McKinsey menuliskan kembali laporan yang memprediksi ada 23 juta pekerjaan di Indonesia yang terancam punah di tahun 2030. Kabar baiknya, ada 46 juta pekerjaan baru tercipta dalam rentang waktu tersebut. “Pekerjaan repetisi atau berulang-ulang akan tergantikan robot, sehingga penyiapan keterampilan teknis didukung keterampilan non-teknis dibutuhkan menghadapi perubahan, ” jelasnya.

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan, Indonesia kini sedang menghadapi era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, serta kelulusan tidak jaminan kesiapan berkarya. Ridwan menilai pernyataan Mendikbud itu sebagai lonceng yang mengingatkan dunia pendidikan untuk menyiapkan lulusannya tidak sekedar memperoleh ijazah. Namun, juga harus menyiapkan kompetensi yang sesuai jenjang dan program penawarannya.

►Suara Merdeka 17 Desember 2019 ha. 19

Kategori: