Mewujudkan Pertumbuhan 7%
Selasa, 24 Desember 2019 | 8:56 WIB

image

Oleh Andreas Lako

"Pemprov perlu memperluas fokus dan area pembangunan berbasis kewilayahan (kabupaten/kota) yang memiliki potensi besar untuk memacu pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan."

DI tengah resesi ekonomi global yang menggerus pertumbuhan ekonomi Indonesia dan sejumlah provinsi di Pulau Jawa selama 2019, perekonomian Jateng justru menikmati pertumbuhan mengembirakan. Rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama 2019 ekonomi Jateng terus bertumbuh dari 5,14% (triwulan atau Tw-1) menjadi 5,62% (Tw- 2) dan 5,66% (Tw-3) atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Sementara pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 5,07% (Tw-1), 5,02 (Tw-2) dan 5,06 (Tw-3) atau lebih rendah dibanding periode yang sama pada 2018. Secara keseluruhan, hingga akhir September lalu, pertumbuhan ekonomi Jateng telah mencapai 5,46%.

Pencapaian itu jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2018 (5,38%). Pertumbuhan tersebut juga yang tertinggi sejak 2014. Jika tidak ada hal-hal negatif selama tiga bulan terakhir maka ekonomi Jateng pada 2019 diperkirakan akan bertumbuh 5,45%-5,55% atau lebih tinggi dibanding tahun 2018 sebesar 5,32%.

Masyarakat Jateng patut bersyukur atas berkah ekonomi ini. Tren pertumbuhan yang terus mengembirakan itu tentu saja menjadi berita gembira bagi Gubernur dan jajaran pimpinan pemerintahan Provinsi Jateng bahwa target pertumbuhan ekonomi 7% pada 2023 dapat dicapai.

Di tengah pesimisme sejumlah kalangan yang meragukan pencapaian target tersebut, tren pertumbuhan ekonomi Jateng selama 2019 memberikan sinyal positif dan meningkatkan kepercayaan diri Gubernur dan rakyat Jateng bahwa kinerja perekonomian Jateng pada 2020-2023 akan terus bertumbuh lebih baik dan bisa mencapai mencapai target 7% pada 2023.

Seperti diketahui, pada awal Juli 2019 Gubernur Ganjar Pranowo telah menerima permintaan khusus dari Presiden Joko Widodo yang menargetkan perekonomian Jateng bisa bertumbuh 7% pada 2019-2024. Meski dalam 20 tahun terakhir ekonomi Jateng belum pernah bertumbuh sebesar itu, Gubernur yakin target pertumbuhan tersebut dapat tercapai secara bertahap.

Karena itu, peningkatan kinerja ekonomi Jateng pada 2019 kian memperkuat keyakinan Gubernur dan jajarannya bahwa keputusan menerima target khusus dari Presiden Jokowi agar ekonomi Jateng bisa bertumbuh 7% sudah tepat. Demikian pula target pertumbuhan ekonomi secara bertahap dalam Roadmap Menuju Pertumbuhan Ekonomi 7% Jawa Tengah Selama 2019-2023 yang telah disusun Pemprov Jateng diyakini sudah tepat dan bisa tercapai.

Pusat Pertumbuhan

Meski kinerja ekonomi Jateng pada 2019 sangat mengembirakan, optimisme bahwa target pertumbuhan 7% dapat tercapai pada 2023 belum tentu terwujud. Mengapa?

Alasannnya, pertama, perekonomian Jateng sesungguhnya sangat rentan terhadap gejolak ekonomi nasional dan global. Struktur perekonomian dari sejumlah kabupeten/ kota di Jateng yang menjadi penopang utama perekonomian dan pertumbuhan ekonomi Jateng sangat sensitif terhadap gejolak tersebut.

Misalnya, pertumbuhan ekonomi Jateng sangat bergantung pada kinerja perekonomian Kabupaten Cilacap yang mengandalkan industri migas dan Kabupaten Kudus yang mengandalkan industri tembakau atau rokok. Dua kabupaten itu penyumbang terbesar kedua dan ketiga dari nilai PDRB Jateng.

Dari hasil studi yang saya lakukan (2019), ditemukan indikasi kuat bahwa naik-turunnya kinerja pertumbuhan ekonomi dari dua kabupaten tersebut selain memengaruhi kinerja ekonomi dari sejumlah kabupaten di sekitarnya, juga memengaruhi naik-turunnya kinerja pertumbuhan ekonomi Jateng. Pengaruhnya simetris. Padahal, ke depan, pasar migas dan tembakau secara global dan nasional sangat mungkin masih akan bergejolak.

Dalam Roadmap Menuju Pertumbuhan Ekonomi 7%, saya mencermati kajian mendalam berkaitan dengan struktur perekonomian dan kekuatan ekonomi dari tiap kabupaten/kota yang menjadi penopang utama perekonomian Jateng yang tampaknya belum dilakukan. Padahal, kekuatan ekonomi dan sumber pertumbuhan ekonomi Jateng ke depan sesungguhnya berada di wilayah kabupaten dan kota.

Kedua, dalam roadmap, Pemprov telah menetapkan tiga program prioritas andalan pembangunan daerah untuk meningkatkan daya ungkit pertumbuhan ekonomi provinsi. Ketiga program itu adalah pengembangan Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Brebes, dan pengelolaan pariwisata, khususnya Borobudur dan sekitarnya. Apakah penetapan ketiga program prioritas itu sudah tepat? Jawabnya, sangat mungkin belum tepat.

Alasannya, dari struktur nilai ekonomi daerah (nilai PDRB) pada 2018, kontributor terbesar nilai ekonomi Jateng Kota Semarang (13,77%), Cilacap (8,75%,) dan Kudus (8,24%). Sementara Kendal, Brebes, dan Kabupaten Magelang yang diharapkan menjadi pusat kawasan industri dan pariwisata serta pusat pertumbuhan ekonomi Jateng ke depan hanya berkontribusi masing-masing 3,11%, 3,39%, dan 2,38%.

Seandainya pembangunan ketiga prioritas tersebut berhasil dilakukan dan berhasil pula mengungkit kinerja ekonomi ketiga kabupaten tersebut dan beberapa kabupaten di sekitarnya, dampaknya terhadap peningkatan kinerja pertumbuhan ekonomi Jateng relatif kecil. Alasannya, sumber kekuatan ekonomi dan sumber pertumbuhan ekonomi Jateng sesungguhnya bukan berada di ketiga wilayah tersebut.

Selain Kota Semarang, Cilacap, dan Kudus yang menjadi kontributor terbesar, secara umum kekuatan ekonomi potensial dan sumber pertumbuhan ekonomi Jateng ke depan sesungguhnya berada di kabupaten-kabupaten yang dekat dengan Jawa Barat seperti Brebes, Tegal, Banyumas, Pemalang, dan Purbalingga, dan daerah yang dekat dengan Jawa Timur seperti Rembang, Blora, Pati, Grobogan, dan sekitarnya.

Kabupaten-kabupaten ”merah” tersebut memiliki potensi sumber daya ekonomi yang besar untuk mendorong petumbuhan ekonomi Jateng lebih tinggi lagi. Apabila dioptimalkan lagi pembangunan infrastruktur dan nilai sumber daya ekonominya maka sejumlah kabupaten tersebut akan memberikan kontribusi yang makin besar terhadap perekonomian dan pertumbuhan ekonomi Jateng ke depan.

Pertumbuhan 7%

Berdasarkan uraian di atas, untuk mewujudkan target pertumbuhan 7% maka sebaiknya Roadmap Menuju Pertumbuhan Ekonomi 7% yang Berkualitas Jawa Tengah Tahun 2019-2023 yang telah ditetapkan Pemprov perlu dikaji ulang.

Untuk mewujudkan target pertumbuhan 7%, prioritas pembangunan Jateng ke depan sebaiknya tidak hanya berfokus paada tiga prioritas yang telah ditetapkan. Menurut penulis, Pemprov perlu memperluas fokus dan area pembangunan berbasis kewilayahan (kabupaten/kota) yang memiliki potensi besar untuk memacu pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, kajian terhadap kekuatan ekonomi dan potensi pertumbuhan ekonomi berbasis kabupaten/ kota dan kewilayahan perlu segera dilakukan untuk memperoleh gambaran riil tentang kekuatan ekonomi dan peluang pertumbuhannya, serta hambatan- hambatan pertumbuhan dari masing-masing kabupaten/ kota dan wilayah tersebut.

Dalam mengkaji ulang Roadmap Pertumbuhan tersebut, Pemprov perlu melibatkan para pimpinan kab/kota dan berbagai kalangan stakeholder yang memiliki relasi langsung dan tidak langsung dengan target pertumbuhan 7%.

Pelibatan tersebut sangat penting karena merekalah yang sesungguhnya menjadi penggerak dan memahami seluk-beluk potensi pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah atau wilayah. Mereka jugalah yang akan merasakan implikasi positif- negatif dari tercapai atau tidaknya target pertumbuhan ekonomi 7%. (40)

Andreas Lako, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Ketua Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata.

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/211325/mewujudkan-pertumbuhan-7, Suara Merdeka 23 Desember 2019 hal.6

Kategori: , ,