Menanti “Kuda Troya” Nadiem
Senin, 16 Desember 2019 | 14:51 WIB

image

Oleh BUDI WIDIANARKO

Dalam rekaman wawancara dengan Kompas gagasan Nadiem tentang pendidikan tinggi masih terbatas pada link and match dan soft skills. Penulis yakin, Nadiem tidak punya maksud mengerdilkan pendidikan tinggi.

Semoga wawancara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim dengan harian Kompas (6/11/2019) belum menampilkan sosok utuh “Kuda Troya” pemikiran menteri milenial itu tentang pendidikan tinggi. Dalam rekaman wawancara yang dimuat keesokan harinya, lontaran Nadiem tentang pendidikan tinggi masih terbatas pada seputar dua hal, yaitu link and match dan soft skills. Lontaran Nadiem dalam wawancara itu seolah hanya menegaskan adagium “tiada yang baru di kolong langit” (“nothing is new under the sun”).

Bagi kalangan pendidikan tinggi negeri ini, gagasan link-and-match sudah diusung Wardiman Joyonegoro, Mendikbud periode 1993-1998. Begitu pula diskursus tentang  soft skills juga telah muncul sejak pertengahan awal 90an, salah satu pemantiknya adalah buku “Multiple Intelligences” karya Howard Gardner (1993). Sejak itu tabuhan genderang soft skills terus menghentak hingga saat ini. Belakangan, perbincangan tentang soft skills semakin lantang seiring dengan menguatnya dominasi teknologi digital – data analytics, the internet of things dan artificial intelligence. Laporan LinkedIn “2019 Global Talent Trends”, misalnya, bahkan menyebut soft skills sebagai tumpuan terakhir jika manusia tidak mau tergilas oleh kecerdasan buatan.

Dalam laporan LinkedIn itu disebutkan 92% profesional yang disurvei menyatakan bahwa soft skills setidaknya sama atau bahkan lebih penting daripada hard skills dalam penentuan dipekerjakan tidaknya seseorang. Setidaknya ada lima jenis soft skills yang menurut laporan itu menjadi kunci keberhasilan karir profesional saat ini, yaitu (1) kreativitas (creativity); (2) kemampuan mempengaruhi (persuasion); (3) kolaborasi (collaboration); (4) kemampuan beradaptasi (adaptability); dan (5) manajemen waktu (time management). Keyakinan yang tinggi pada kahandalan soft skills tercermin dari slogan “Soft skills, where machine can’t compete” di salah satu halaman laporan itu.

Dalam laporan LinkedIn itu disebutkan 92% profesional yang disurvei menyatakan bahwa soft skills setidaknya sama atau bahkan lebih penting daripada hard skills dalam penentuan dipekerjakan tidaknya seseorang.

Sebenarnya, kedua perkara itu –  link-and-match dan softskills – hanya berurusan dengan kemampuan lulusan pendidikan tinggi yang dituntut oleh pasar kerja. Mandat dan peran pendidikan tinggi jauh lebih luas dari sekedar dua perkara itu. Dengan kata lain, perhatian dan usaha yang terlalu besar pada kedua tuntutan itu – disadari atau tidak – bisa jadi hanya akan mengerdilkan perguruan tinggi menjadi sebuah usaha “catering” bagi dunia kerja.

Goyah dan Latah

Sejak awal menguatnya diskursus tentang softskills sebagai penentu keterpekerjakan (employability) lulusan, kalangan pendidikan tinggi seperti terhenyak, dan cenderung mengamini begitu saja. Tanpa membuang waktu, segenap perguruan tinggi di negeri ini di bawah “komando” otoritas pendidikan tinggi lantas mengembangkan dan menjalankan aneka program softskills mahasiswa. Nyaris tidak ada daya kritis menanggapi arus kuat softskills dari civitas academica. Semua seolah menyerah begitu saja dan serta merta “anut grubyuk” ber”softskills” ria.

Bergerak cepat dan gesit dalam mengadopsi apa yang tengah menjadi tren global memang bukan “barang” baru bagi pendidikan tinggi Indonesia. Sayangnya, kecepatan dan kegesitan itu lebih mewujud dalam kapasitas sebagai pengagum dan pengguna belaka – bukan pencipta. Dalam perkara soft skills, kalangan pendidikan tinggi terkesan begitu mudah goyah – segera dilanda kecemasan, langsung mengadopsi. Alih-alih menanggapi secara kritis, yang muncul malah sikap latah – mengembangbiakkan program-program pengembangan soft skills di kampus-kampus seantero nusantara.

Akan sangat mengkhawatirkan jika sikap mudah goyah dan latah itu digunakan untuk menanggapi rekomendasi LinkedIn tentang 25 hard skills (kompetensi teknis) yang paling dibutuhkan dunia kerja saat ini. Daftar LinkedIn itu hanya mencakup lima kelompok keahlian yaitu (1) komputasi, data science dan kecerdasan buatan; (2) desain dan produksi multi-media; (3) pemasaran (digital); (4) komunikasi dan layanan konsumen; (5) kepemimpinan, people management, analisis dan strategi bisnis.

Jika kalangan pendidikan tinggi – terutama para pemukanya – tidak kritis terhadap daftar itu dan segera mengadopsinya untuk program studi maka akan muncul risiko “mutilasi” program akademik di perguruan-perguruan tinggi. Padahal, sangat terpampang gamblang bahwa daftar itu mengidap bias industri 4.0. yang akut. Dominasi kompetensi teknologi (digital) dalam daftar itu seolah mengandaikan bahwa kehidupan manusia di dunia ini bisa terus berlanjut tanpa fisikawan, kimiawan, biologiwan, arsitek, perencana kota, insinyur sipil, ahli lingkungan, dokter hewan, sejarawan, antropolog, ahli seni musik atau bahkan filsuf – untuk menyebut beberapa.

Nyaris tidak ada daya kritis menanggapi arus kuat softskills dari civitas academica. Semua seolah menyerah begitu saja dan serta merta “anut grubyuk” ber”softskills” ria.

Tidak mengerdilkan

Bukanlah maksud tulisan ini untuk menolak atau menafikan nilai penting soft-skills, melainkan mengajak kalangan pendidikan tinggi untuk menanggapi tantangan soft skills ini dengan lebih dingin dan kritis. Meski penting, soft skills bukan segalanya bagi perguruan tinggi. Dalam konteks universitas kekinian – yang dikenal sebagai universitas transformatif – setidaknya ada delapan mandat penting yang harus diemban oleh setiap perguruan tinggi (Guzman-Valenzuela, 2016).

Kedelapan mandat itu adalah (1) memberi peluang kepada siapa saja untuk mendapatkan pendidikan tinggi tanpa pembedaan, pengecualian dan perseteruan; (2) memberi akses kepada siapa saja untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang terbaik; (3). menjamin semua mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang memungkinkan mereka mendapatkan pekerjaan yang laik setelah lulus; (4) mendorong penciptaan pengetahuan ilmiah sebagai milik masyarakat (public good) – bukan komoditi; (5) mendorong hubungan belajar mengajar (pedagogical relationship) antara dosen dan mahasiswa (magistrorum et scholarium) – dengan menempatkan mahasiswa sebagai co-producer pengetahuan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat; (6) Menciptakan discourse (wacana) dan ruang penalaran dan kekritisan (criticality) – universitas harus senantiasa mempertanyakan, menantang, mengkritisi wacana yang sedang dominan; (7) menjadi institusi yang terbuka bagi publik – universitas bukan sekedar “proyek” intelektual, melainkan terlibat pula secara sosial, ekonomi dan politik demi kemajuan masyarakat lokal dan yang lebih luas; (8) mengembangkan pengetahuan tentang misi publiknya sendiri melalui kajian yang sistematik untuk meningkatkan peran universitas di aras lokal, nasional dan global.

Penulis yakin, Nadiem tentu tidak punya maksud untuk mengerdilkan pendidikan tinggi – hanya dengan mengusung gagasan link-and-match dan soft skills. Justru Nadiem diharapkan mampu membantu perguruan-perguruan tinggi negeri ini untuk menjadi institusi berwatak transformatif. Ketika kalangan pendidikan tinggi masih terus berkutat dengan pemahaman kognitif dan wacana tentang pendidikan tinggi yang ideal maka tantangan untuk Nadiem adalah bagaimana mengubah apa yang diketahui secara kognitif menjadi suatu program nyata nan inovatif sehingga punya daya ungkit terhadap mutu dan daya saing pendidikan tinggi Indonesia. Ayo Menteri Nadiem segera bawa masuk Kuda Troya anda ke belantara pendidikan tinggi Indonesia. Lakukanlah apa yang dalam entri Kuda Troya di Encyclopedia Britannica sebagai “subversion introduced from the outside”. Kami menunggu.

Penulis yakin, Nadiem tentu tidak punya maksud untuk mengerdilkan pendidikan tinggi – hanya dengan mengusung gagasan link-and-match dan soft skills. Justru Nadiem diharapkan mampu membantu perguruan-perguruan tinggi negeri ini untuk menjadi institusi berwatak transformatif.

(Budi Widianarko, Guru Besar UNIKA Soegijapranata, Anggota Pusat Kajian Pendidikan Tinggi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia)

https://kompas.id/baca/opini/2019/12/16/menanti-kuda-troya-nadiem (Kompas.Id 16 Desember 2019)

Kategori: ,