Ketika Gelar Tidak Menjamin
Sabtu, 14 Desember 2019 | 12:36 WIB

image

Oleh Ridwan Sanjaya

Beberapa waktu yang lalu Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, dan masuk kelas tidak menjamin belajar. Meski banyak pihak memperdebatkan, pernyataan ini bukanlah hal baru karena pandangan ini pernah tersampaikan dalam Tajuk Rencana Suara Merdeka 4 Desember 2017 di mana perusahaan skala global seperti Google telah memutuskan tak lagi mensyaratkan ijazah untuk bergabung.

Tentu ada pengalaman yang melatarbelakanginya. Pada awal 2016, The New Zealand Herald juga pernah menulis tentang perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Johnson and Johnson, Ernst and Young, Pricewaterhouse Coopers, dan sejenisnya tak lagi mensyaratkan gelar untuk masuk ke perusahaannya. Meski mereka tetap menghargai kualifikasi pelamar, ijazah tak lagi menjadi prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan.

Sederhananya, mereka akan menerima kandidat untuk bergabung asal memiliki kemampuan atau potensi. Mereka menerima pelamar yang menunjukkan kemampuan, dorongan, dan komitmen untuk belajar. Perusahaan-perusahaan tersebut bahkan mendorong pelatihan bagi karyawannya untuk meningkatkan keterampilan atau mendapatkan gelar dalam keahlian yang sesuai dengan posisinya di perusahaan.

Meskipun pernyataan Mendikbud juga belum tentu mewakili semua kondisi di Tanah Air, hal ini menjadi lonceng yang mengingatkan dunia pendidikan untuk menyiapkan lulusannya tak sekadar memperoleh ijazah, tetapi juga harus dijamin untuk mempunyai kompetensi yang sesuai dengan jenjang dan program yang ditawarkan dan sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Bahkan bukan hanya itu, kompetensi yang disiapkan perguruan tinggi seyogianya sekaligus menjawab permasalahan masa depan untuk membekali mahasiswa dalam menghadapi tantangan masa mendatang.

Dalam laporan yang dipublikasikan oleh McKinsey Global Institute pada 2017, diprediksi 800 juta pekerjaan di seluruh dunia akan hilang akibat otomatisasi pada 2030. Bahkan pada 2019, McKinsey menuliskan kembali laporan yang memprediksi bahwa 23 juta pekerjaan di Indonesia terancam punah pada 2030. Namun kabar baiknya, 46 juta pekerjaan baru diprediksi tercipta dalam rentang waktu tersebut.

Pekerjaan yang bersifat repetisi atau berulang-ulang akan tergantikan oleh robot, sehingga penyiapan keterampilan teknis yang didukung keterampilan nonteknis dibutuhkan dalam menghadapi perubahan. Keterampilan nonteknis seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan etos kerja diyakini dapat mendorong lulusan semakin gesit dan lebih tangkas menyikapi perubahan.

Jangan Gelisah

Saat ini bukan waktunya untuk merasa gundah atau gelisah. Sejak awal kuliah, mahasiswa sudah harus dipersiapkan dengan berbagai pelatihan soft skills agar dapat mendukung hard skills yang diperoleh selama perkuliahan.

Bagaimanapun, hard skills merupakan ”bahan baku” dalam membentuk keahlian, sedangkan soft skills menjadi akselerator dalam berinteraksi secara sosial serta bertahan dan beradaptasi dengan masa depan. Bekal keterampilan keduanya akan membedakan hasil pembelajaran yang hanya fokus pada kompetensi teknisnya saja. Manfaat yang lebih besar akan diperoleh apabila lulusan dilengkapi dengan kemampuan adaptasi teknologi informasi.

Sebab, dalam studi yang dilakukan oleh McKinsey (2019), kemampuan dalam mengadopsi teknologi merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam menghadapi masa depan. Dengan kebiasaan mengadopsi teknologi informasi di kampus disertai hard skills dan soft skill yang memadai selama kuliah, lulusan diharapkan bisa adaptif, gesit, dan tidak resisten dalam menghadapi berbagai perubahan.

Perubahan masa depan memang tidak dapat ditebak secara pasti, namun usaha dunia pendidikan mempersiapkan proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh diyakini mempunyai hasil yang positif, bukan hanya terkait kompetensi lulusan tetapi juga keberhasilan dalam menjalani kehidupan dan menghadapi perubahan.

Prof Dr F Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata, Guru Besar Sistem Informasi.

image

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/210271/ketika-gelar-tidak-menjamin, Suara Merdeka 14 Desember 2019 hal. 6

Kategori: ,