Dirikan Rumah Pemulihan Efata Sembari Berkuliah
Kamis, 12 Desember 2019 | 12:22 WIB

Shirley Angelin Kusuma adalah wisudawan terbaik dari Magister Sains Psikologi Unika Soegijapranata pada wisuda periode III tahun 2019, yang juga pendiri Rumah Pemulihan Efata bersama sang suami di tahun 2005.

Usahanya di bidang sosial difokuskan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi penderita gangguan jiwa. Sembari berusaha di bidang sociopreneur, ia juga bekerja di Rumah Sakit Umum Salatiga sebagai Psikolog Klinis sejak tahun 2010.

Sejak 2018, Shirley mengajukan pengunduran dirinya sebagai psikolog klinis di Rumah Sakit Umum Salatiga agar lebih terfokus di usaha rumah pemulihan yang didirikannya. Usaha Rumah Pemulihan Efata yang didirikan berada dalam satu kompleks dengan rumah pribadinya memudahkan Shirley untuk mengawasi 91 pasiennya yang tinggal di rumah rehabilitasi yang didominasi oleh kaum remaja dan dewasa. Adapun Rumah Pemulihan Efata menangani berbagai macam gangguan jiwa dari depresi hingga yang disebabkan kecanduan psikotik berat.

“Sebenarnya kasus terberat yang pernah saya tangani bukan datang dari kliennya melainkan dari keluarga kliennya seperti manipulasi atau halusinasi yang dihasilkan dari pikiran klien namun dipercaya oleh pihak keluarga misalnya saja halusinasi suara yang didengar klien dianggap kenyataan oleh keluarga meskipun bisa dikarenakan neurotransmitter di otak yang berlebihan. Selain itu, adapula klien yang mengalami halusinasi perabaan dimana klien merasa diraba-raba dan hal tersebut dipercayai oleh keluarga. Jadi, intinya kesulitan yang sering saya alami adalah ketika tidak ada kerjasama yang baik antara kami dan pihak keluarga,” jelas Shirley

Shirley juga menyediakan usaha toko dan tempat pengisian galon bagi para pasien gangguan jiwa yang telah menjalani proses pemulihan dan berada di tingkat yang cukup baik. Fasilitas ini didirikan semata untuk memfasilitasi pasien yang telah sembuh, terutama yang dititipkan oleh keluarga pasien kepada Rumah Pemulihan Efata karena kurangnya tempat untuk pengawasan pasien dan mencegah kambuhnya pasien kembali. Di samping itu, pasien Rumah Pemulihan Efata juga dilibatkan dalam berbagai macam penampilan pentas musik dengan memainkan berbagai macam alat musik

Sembari berkuliah, Shirley pun lihai membagi waktu, peninjauan Rumah Efata dilakukannya di pagi hari yang dilanjutkan dengan kuliah di sore hingga malam hari.

Selama menjalani kegiatan kuliah hingga dinyatakan lulus, Shirley mengakui bagian tersulit berada saat proses pengerjaan tesis yang memerlukan konsentrasi lebih intens. Beruntungnya, usaha Rumah Pemulihan Efata dikerjakan bersama dalam tim dan tim yang dibangunnya bekerja secara kompak

“Dalam mengerjakan itu semua dan mengatasi segala kesulitan, intinya hanya membesarkan tekad  dan menyelesaikan segala sesuatu yang telah dimulai dari diri kita sendiri serta tidak lupa kita harus melihat kembali ke tekad awal kita apa, misalnya dalam mengambil pendidikan magister ini, saya merasa pendidikan sarjana saja belum cukup dikarenakan tuntutan dan ilmu yang terus berkembang menghadapi orang-orang yang selalu berubah,” tegas Shirley. (Cal)

Kategori: ,