Amdal dan Perlindungan Kemanusiaan
Senin, 2 Desember 2019 | 13:56 WIB

SM 30_11_2019 Amdal dan Perlindungan Kemanusiaan

Oleh Aloys Budi Purnomo

"Dalam mata gelap, mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya, pemerintah melupakan keseriusan masalah ekologis yang membuka kedalaman krisis moral manusia"

DALAM hiruk pikuk rencana pemerintah menghapus analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), saya teringat pada pribadi dan sosok pemimpin berjiwa ekologis. Namanya Fransiskus dari Asisi, Italia. Pada tanggal 29 November 1979 Paus Yohanes Paulus II menetapkan St Fransiskus Asisi sebagai pelindung lingkungan hidup. Penetapan itu disampaikan dalam Litterae Apostolicae Inter Sanctos S. Franciscus Assisiensis Caelestis Patronus Oecologiae Cultorum Eligitur (Paul II, 1979). Dalam surat itu, Paus Yohanes Paulus II menyebut dan menetapkan St Frasiskus Asisi sebagai pelindung surgawi bagi semua yang memajukan ekologi.

Ditegaskan dalam surat penetapan itu, bahwa demi peringatan abadi, di antara para kudus dan orang-orang terkemuka yang menghormati alam sebagai anugerah Allah yang mengagumkan kepada umat manusia, patutlah menyebut Santo Frasiskus Asisi sebagai pelindung surgawi bagi bumi dan seisinya. St Fransiskus Asisi adalah pelindung alam semesta lingkungan. Alasannya, karena St Fransiskus Asisi telah secara istimewa mencintai semua karya Pencipta dan dipenuhi oleh semangat ilahi, ia menyanyikan "Madah Ciptaan" yang amat indah. Bahwa St Fransiskus Asisi ditetapkan sebagai pelindung ekologi pertama dan terutama karena kita semua diajak untuk menempatkan perlindungan lingkungan dalam konteks hormat terhadap manusia serta kebutuhannya. Dalam rangka itu, perlu terus-menerus dicari cara baru dan kreatif untuk menjamin keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan perkembangan demografis serta kultural penduduk dengan penggunaan sumber daya alam secara cerdas namun bijaksana.

Maka dan karenanya, prinsip mengeruk sebanyak- banyak keuntungan sesaat dengan mengabaikan perlindungan alam merupakan cara pikir yang tak hanya keliru melainkan sesat! Seturut teladan dan kesaksian St Fransiskus Asisi, siapa saja diundang untuk tidak berlaku seperti penghisap alam, melainkan bertanggung jawab atasnya.

Karena itu, sikap dan paradigma yang dikembangkan adalah sebisa mungkin berusaha menjaga alam semesta tetap sehat dan utuh demi kesejahteraan generasi masa depan. Setiap upaya mengeruk keuntungan secepatnya dengan mengabaikan perlindungan lingkungan merupakan cara pikir yang salah dan sesat. Pemanfaatan kekayaan alam dan lingkungan harus terjadi menurut kriteria yang memperhitungkan bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan saat ini, melainkan juga kebutuhan generasi mendatang.

Kepicikan Egoisme
Dalam perspektif teologis spiritual seperti, meniadakan proses perizinan dengan menghapus amdal merupakan kepicikan egoisme. Wacana penghapusan amdal merupakan ironi sarkastik di tengah kemajuan di bidang ekologi dan kesadaran yang kian meningkat untuk melindungi dan merawat sumber daya alam tertentu yang tak terbarukan. Mahatma Gandhi pernah bilang: The Earth is sufficient for everyone’s needs but not for everyone’s greed.

Bumi ini mencukupi kebutuhan setiap orang, namun tidak mencukupi keserakahan setiap orang. Kebutuhan dan keserakahan saling berbenturan, ledakannya menghasilkan ancaman bagi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan. Akan menjadi seperti apakah pengendalian atas keserakahan manusia bila amdal dihapuskan? Harus disadari dengan cerdas dan bijaksana bahwa kegiatan ekonomi membawa serta tanggung jawab untuk menggunakan potensi alam secara masuk akal. Itu berarti, amdal amat diperlukan dan itu vital. Di balik amdal terdapat spiritualitas kewajiban untuk mencegah dan menghindari kerusakan lingkungan dan alam semesta dari setiap akibat negatif yang dapat timbul di kemudian hari. Jangan biarkan kerusakan terjadi baru kemudian izin berusaha dicabut, melainkan hindari dan cegah kerusakan sejak awal demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup yang muaranya adalah kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Dewasa ini kita sedang mengalami krisis ekologi yang tiada kunjung berhenti bahkan kian kompleks. Krisis ekologi yang kian kompleks itu mengancam masa depan kehidupan manusia sendiri. Maka, mengabaikan amdal sungguh berlawanan dengan aspek kemanusiaan dan lingkungan yang menjadi perhatian dalam human ecology. Dalam perspektif ekologi manusia, kita harus menyadari bahwa dewasa ini kita sedang berada dalam kondisi perang dagang yang menjurus kepada kerukunan ekologis yang bila tidak disadari sejak awal akan mendatangkan penyesalan di hari kemudian. Godaan terbesar di era ini adalah pemerintah tunduk kepada pemuasan instan mengejak keuntungan konsumeristik. Itulah yang membuat pemerintah abai bahkan seakan acuh tak acuh terhadap dampak kerugian yang diakibatkan oleh keserakahan kapitalistik. Dalam mata gelap, mengeruk keuntungan sebanyak- banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya, pemerintah melupakan keseriusan masalah ekologis yang membuka kedalaman krisis moral manusia. Adanya tatanan alam semesta harus dihormati. Manusia dibekali kemampuan untuk memilih mengemban tanggung jawab besar untuk memelihara tatanan ini demi kesejahteraan generasi mendatang. Karena itu, menghapus amdal merupakan langkah awal menambah dan memperparah krisis ekologi yang hingga hari ini justru hendak diatasi oleh banyak negara maju. Dan pemerintahan kita justru membentangkan tali bunuh diri ekologis!

–Aloys Budi Purnomo Pr, rohaniwan, Kepala Campus Ministry dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Liingkungan, Unika Soegijapranata Semarang.

Suara Merdeka 30 November 2019 hal. 6,

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/208697/amdal-dan-perlindungan-kemanusiaan

Kategori: , ,