Peneliti Unika Bahas Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Kuno Di Kota Semarang
Rabu, 6 November 2019 | 15:50 WIB

Dr Ir Antonius Ardiyanto MT sebagai pemateri FGD saat memaparkan materinya

Sebuah seminar focus group discussion (FGD) dengan tema “Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Kolonial Belanda Untuk Usaha Mandiri Di Kota Semarang” telah dilaksanakan pada hari Rabu (6/11) bertempat di Cafe Rosti Semarang.

Seminar yang banyak mengupas tentang pelestarian dan pemanfaatan bangunan kolonial Belanda di kota Semarang ini memang didasari oleh hasil penelitian terapan unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) Kemenristekdikti 2019 yang diketuai oleh Dr Ir Antonius Ardiyanto MT

Hadir dalam acara seminar  focus group discussion ini adalah Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata YB Dwi Setianto ST MCs, pejabat dinas pemerintah terkait dalam hal ini departemen perdagangan, para dosen, praktisi dan pengelola cafe atau resto yang menggunakan bangunan lama atau cagar budaya.

Dalam penjelasannya  YB Dwi Setianto ST MCs selaku Sekretaris LPPM Unika Soegijapranata, menyampaikan penjelasannya terkait FGD di Cafe Rosti.

“Bahwa materi yang akan dibahas dalam kegiatan FGD siang hari ini adalah hibah dari DRPM ke timnya pak Ardiyanto, dan Ini salah satu desiminasinya. Jadi penelitian yang dihasilkan di Unika itu sedapat mungkin produknya bisa dipakai di masyarakat,” jelas Dwi Setianto.

Jadi harapannya hasil penelitian Pak Ardiyanto jadi masukan bagi pemerintah kota dalam rangka memanfaatkan bangunan-bangunan yang bersejarah atau cagar budaya di kota Semarang, sehingga perawatannya bisa menghasilkan income juga bagi yang punya, lanjutnya.

Dan yang diteliti oleh Pak Ardiyanto adalah membuat model ekonomi kreatif yang memanfaatkan bangunan-bangunan cagar budaya. Adapun hasil akhirnya akan menjadi naskah akademik untuk penyusunan kebijakan Pemerintah Kotamadya Semarang, ulasnya.

Sedang Dr Antonius Ardiyanto dalam paparan materinya menuturkan bahwa tim peneliti dari Unika terdiri dari empat orang yaitu Dr Antonius Ardiyanto, Drs Hudi Prawoto MM Akt, Dr Ir Rudyanto Soesilo MSA , Valentinus Suroto SH MHum dan dibantu oleh Drs Pius Heru Priyanto MSi dalam analisis dan sebagian teori.

“Penelitian kami ini sudah berlangsung selama tiga tahun dan didanai oleh Kemenristek Dikti, dalam skema Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (TPUPT),” tandasnya.

Harapannya, hasil penelitian ini dapat membuat model pelestarian pada bangunan kolonial yang melibatkan masyarakat terkait dengan pengalihfungsian bangunan kolonial yang tadi tidak berfungi, tidak terawat, dan mangkrak hingga akhirnya menjadi bangunan yang bernilai ekonomi dan menjadi cafe, restoran, art galery dan sebagainya, yang sebenarnya saat ini digemari oleh masyarakat sekarang, sambungnya.

Apabila ditanya perihal tantangan yang dihadapi maka tantangannya lebih pada bagaimana bangunan kuno yang sudah lama tidak berfungsi, bisa difungsikan kembali dan memiliki nilai ekonomi, ada pelibatan tenaga kerja dan memberikan citra kota baru, artinya kawasan yang tadinya kota mati dengan kegiatan usaha menjadi hidup kembali, contohnya seperti di Jonas Photo, Giggle Box cafe dan resto, yang memiliki parkir yang luas sehingga memberi citra baru di kawasan candi, tutupnya. (fas)

Kategori: ,