Pendidikan Seksual Pada Anak, Perlu atau Tidak Perlu?
Jumat, 29 November 2019 | 17:05 WIB

Pembicara seminar, Dr Christin Wibhowo Psikolog, saat memaparkan materinya

Menarik topik yang menjadi pokok bahasan dalam kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh UPT Promosi dan Rekrutmen Mahasiswa Unika Soegijapranata yang dipimpin oleh Vera Retnowati ST MM, yaitu terkait topik  “Sex Education” yang didesiminasi dan dihadiri oleh perwakilan guru BK atau Bimbingan Konseling dari sekitar 40 SMA atau SMK Swasta maupun Negeri se-Jawa Tengah.

Acara seminar yang diselenggarakan di ruang Teater gedung Thomas Aquinas Unika ini,  diselenggarakan pada hari Jumat (29/11) dengan menghadirkan seorang Psikolog kondang sekaligus Dosen Psikologi Unika Soegijapranata yaitu Dr Christin Wibhowo Psikolog.

Pada arahannya ketika diwawancara, Kepala UPT Promosi dan Rekrutmen Mahasiswa Unika  Vera Retnowati mengemukakan bahwa acara seminar yang mengangkat topik yang sedang hangat dibicarakan di kalangan remaja SMA ini, memang sengaja dibahas supaya para pendidik terutama guru BK di Sekolah SMA bisa memahami dan memberikan solusi terhadap masalah seks di kalangan remaja sekolah.

“Berkaitan dengan tema seminar yang sangat menarik, acara seminar yang pada awalnya hanya diperuntukkan bagi para guru, ternyata berdasarkan informasi yang masuk, banyak para orangtua yang juga berminat mengikuti seminar, maka kesempatan seminar hari ini kita buka juga buat orangtua walaupun mayoritas masih difokuskan kepada para guru sebagai pendidik di sekolah,” ungkap Vera.

Seminar seperti ini tidak hanya berhenti di sini saja, namun kita memberikan berkas ke sekolah-sekolah untuk membuka peluang lebih, pada kerjasama dalam bidang pendidikan, seperti memberi kesempatan siswa-siswi untuk magang di fakultas-fakultas di lingkungan Unika Soegijapranata, kemudian mereka juga bisa melakukan studi kampus, atau hal lain diluar edufair atau sosialisasi yang selama ini sudah rutin berjalan, imbuhnya.

Adapun pembicara seminar yang mengupas topik “Sex Education”, Dr Christin Wibhowo sempat menjelaskan pada awal seminar perihal munculnya perilaku sexual pada remaja yang tidak disangka-sangka, dan banyak yang mengatakan bahwa ini menjadi bagian dari tugas guru.

“Guru di sekolah mungkin memegang peran utama dalam sex education, karena kalau orangtua mungkin canggung dan tidak terstruktur, kalau guru itu punya kurikulum sehingga anak-anak mau tidak mau bisa mengikuti kurikulum tersebut dan punya aturan yang jelas, sedang jika diserahkan kepada orangtua tidak kuat, maka sekolah sangat diperlukan, oleh sebab itu Unika mengundang guru-guru BK dalam seminar ini,” jelas Christin.

Namun demikian jika masalah pendidikan seksual diberikan oleh guru BK saja juga tidak efektif karena pendidikan seksual membutuhkan kesinambungan, artinya jika dilakukan oleh pihak sekolah saja tidak cukup maka harus diteruskan ke rumah, tambahnya.

Hal lain perilaku seksual ini berkaitan dengan emosi, berkaitan dengan perilaku sehari-hari, jadi yang dicontoh ya orangtua. Jadi intinya, sekolah dan orangtua harus belajar dan bekerja sama untuk mendidik.

Pendidikan sexual itu juga mencakup semuanya, jadi bukan hanya membicarakan segala hal yang berkaitan dengan hubungan intim suami istri, jadi bukan berkaitan pelajaran berhubungan seks, tetapi berkaitan dengan pendidikan seks.

“Berdasarkan modul yang dibuat WHO (World Health Organization), anak-anak juga harus tahu tentang perilaku seksual itu mencakup semua hal, seperti perawatan diri, kesejahteraan gender, kesehatan reproduksi, itu semua harus diajarkan kepada generasi muda,” jelas Christin.

Pendidikan seksual juga menyangkut banyak hal, yaitu pengetahuan, emosi, dan ketrampilan. Jadi kalau melakukan sesuatu bukan hanya senang secara biologi saja, akan tetapi ada aspek lain yaitu spiritual dan kognisi. Semuanya mencakup itu.

Dan pesan Christin kepada para orangtua jika berkaitan dengan pendidikan seksual pada anak dalam keluarga, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu pertama, menjelaskannya harus stay cool atau jangan menganggap tabu, yang kedua letakkan penjelasan kita itu di otak kiri atau logika jangan berimajinasi, pungkasnya. (fas)

Kategori: ,