Pahlawan pada Era Ekologi
Kamis, 7 November 2019 | 8:48 WIB

SM 7_11_2019 Pahlawan pada Era EkologiOleh Aloys Budi Purnomo

"Sebagaimana dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total luas hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia pada tahun 2019 (dari Januari hingga Agustus) mencapai 328.724 hektare"

MARI kita tundukkan kepala untuk menghormati pahlawan bangsa dalam rangka peringatan Hari Pahlawan. Kita bersyukur atas jasa mereka. Sebagai ungkapan syukur, mari kita lanjutkan perjuangan mereka sekarang. Kita tak lagi hidup pada zaman perang melawan penjajahan asing (kolonialisme). Namun, jangan-jangan kita masih hidup dalam peperangan melawan kejahatan lain pada era ekologi ini. Meminjam gagasan Leonardo Boff, zaman kita saat ini memang disebut sebagai era ekologi.

Era ekologi adalah era yang menyadari bahwa kehidupan kita saling terhubung antara satu dan yang lain di atas bumi ini sebagai rumah kita bersama. Sayangnya, kata Leonardo Boff, bumi kita sedang sakit parah. Bahkan, bumi kita menjerit bersama rakyat miskin yang menjerit. Begitulah tokoh teologi dan ekologi pembebasan Amerika Latin itu menggambarkan keadaan bumi kita dalam bukunya yang berjudul Cry of the Earth, Cry of the Poor (Boff, 1997).

Dalam buku itu digambarkan bahwa sekarang ini, kita sedang hidup dalam era ekologi (ecological era), namun era itu dicekam oleh krisis ekologi (ecological crises) yang kian hari kian parah dan tak teratasi secara bijaksana. Dengan demikian, kita tak hanya hidup pada era ekologi, melainkan juga pada era krisis ekologi. Era krisis ekologi yang sudah diprihatinkan Leonardo Boff pada tahun 1990-an masih terus berlangsung hingga hari ini.

Empat tahun silam (tahun 2015) misalnya, era krisis ekologi itu dianggap kian mencekam terkait dengan perubahan cuaca yang berdampak pada perubahan permukaan air laut. Sebagaimana direnungkan Julius Kardinal Darmaatmadja SJ (dalam Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, edisi November 2019:10), pada tahun 2015, Profesor James Hansen dari Columbia University mengadakan penelitian bersama 16 ahli cuaca lainnya. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa kenaikan permukaan air laut meningkat sampai tiga meter akan menjadi kenyataan pada akhir abad ini.

Hal yang sama ditemukan dalam penelitian yang dilakukan Intitute Metereologi Kerajaan Belanda, dua tahun kemudian (2017). Hasil temuannya serupa, bahwa permukaan air laut kemungkinan akan naik sekitar tiga meter. Penelitian kedua masih mencatat bahwa memang kemungkinannya sangat kecil, namun tetap harus diwaspadai. Itu baru salah satu contoh krisis ekologi terkait dengan perubahan cuaca yang berdampak pada permukaan laut dan mengancam kehidupan.

Masih ada lagi dampak perubahan cuaca yang di negeri ini sudah kita rasakan akibatnya. Yaitu, pemanasan global yang menyebabkan gelombang panas yang kering dan menjadi pemicu terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Sebagaimana dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total luas hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia pada tahun 2019 (dari Januari hingga Agustus) mencapai 328.724 hektare.

Dalam konteks kebakaran hutan ini, kita bersyukur memiliki sosok pahlawan lingkungan hidup dalam diri Emil Salim, yang menjadi Menteri Lingkungan Hidup periode 1978- 1993 (Julius Kardinal Darmaatmadja, ibid.). Harian Kompas (13/12/2018) memberitakan, Emil Salim dengan tegas meminta Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas agar membongkar Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah 2020-2024 bidang kehutanan.

Beliau meminta semua pihak mengubah sikap: dari eksploitasi menjadi konservasi hutan, demi kehidupan manusia. Kita semua menyadari, hutan adalah paru-paru Bumi dan kehidupan semesta karena hutan merupakan penyimpan kandungan karbon dan penyerap emisi karbon yang kini menjadi satusatunya harapan untuk menyelamatkan bumi dari ancaman perubahan iklim. Selama ini, hutan selalu diekploitasi sebagai sumber ekonomi tanpa mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan.

Ekopastoral

Tiga tahun sebelum Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik Laudato Si’ (2015), satu ensiklik bercorak ajaran sosial Gereja Katolik dalam fokus ekologi, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah menyampaikan Pesan Pastoral Sidang KWI Tahun 2012 tentang Ekopastoral. Dengan pesan tersebut, Gereja ingin terlibat dalam usaha bersama melestarikan menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan. Inilah perspektif penting dalam rangka menciptakan ruang bagi pahlawan pada era ekologi.

Prinsipnya, siapa pun yang berkomitmen untuk menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup pantas disebut pahlawan pada era ekologi justru karena kita sedang berperang melawan krisis ekologi yang tak kunjungan berakhir, bahkan kian tragis. Agar layak menjadi pahlawan lingkungan pada era ekologi, kita harus melakukan pertobatan ekologis. Caranya? Tinggalkan dosa keserakahan, ketidakadilan, dan sikap egois demi kepentingan sendiri dan kelompok dengan mengembangkan keramahan dan kepedulian demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Seruan Julius Kardinal Darmaatmadja yang pada tanggal 26 November 2019 genap 25 tahun melayani sebagai kardinal itu layak kita perhatikan: Mari kita menjadi pahlawan lingkungan hidup, meski mungkin hanya dengan cara sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, memelihara tanaman di pot-pot, mengurangi penggunaan plastik dan hal-hal lainnya yang dapat kita usahakan dalam rangka menjaga bumi, rumah kita bersama.

Aloys Budi Purnomo Pr, Pastor Kepala Campus Ministry, mahasiswa program Doktor Ilmu Lingkungan, Unika Soegijapranata Semarang.

►Suara Merdeka 7 November 2019 hal. 6, https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/206122/pahlawan-pada-era-ekologi

Kategori: , ,