ICCIS ke-6 Diselenggarakan di Unika Soegijapranata
Senin, 25 November 2019 | 14:40 WIB

Salah satu acara konferensi ICCIS ke-6 di Unika Soegijapranata

International Conference on Chinese Indonesian Studies (ICCIS) yang ke-6 telah diselenggarakan di Unika Soegijapranata, dan momen ini menjadi sangat penting karena membicarakan tema yang menarik yaitu “Visual Culture of Chinese Diasporas in Asia”.

Dalam kegiatan yang dilangsungkan di gedung Mikael Unika Soegijapranata ini, Dr Kudo Yuko, the Toyo-Bunko Research Fellow, Japan (tbc) yang menjadi salah satu keynote speaker, mengungkapkan visual culture dari sisi sosial ekonomi.

“Selama ini dokumen mengenai pengaruh visual culture dari Chinese Diasporas sangat sedikit, maka dalam paparan saya akan banyak menampilkan sisi visual culture masyarakat Tionghoa dan hasil-hasilnya, berikut sejarahnya,” ungkap Yuko.

Dan melalui konferensi ini, kita akan tahu keunikan Tionghoa di Indonesia dibandingkan dengan Tionghoa dari negara lain dalam lingkup Asia. Dan melalui konferensi ini kita bisa mengetahui bahwa budaya Tionghoa itu bukan dari budaya Tionghoa sendiri, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia, tambahnya.

Menanggapi kesempatan Unika Soegijapranata, sebagai penyelenggara konferensi ke-6 ini, Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Pengembangan Benny Danang Setianto SH LLM MIL menjelaskan,” Sebelumnya pada konferensi ICCIS ke-1 yang diselenggarakan di Universitas Kristen Petra, kita sudah terlibat dan bekerja sama untuk membahas salah satunya adalah budaya Cina Lasem, dan sekarang kita mendapat kesempatan untuk menyelenggarakan konferensi yang ke-6 setelah tahun sebelumnya diadakan di Xiamen University.”

Dan Unika sendiri terkait penelitian yang telah dilakukan mengenai budaya Tionghoa, juga sudah cukup banyak, diantaranya seperti yang sudah disebutkan yaitu budaya Cina Lasem, juga pengaruh batik  di pesisir, karena ternyata batik kita di pesisir juga termasuk kebaya di dalamnya dipengaruhi pula oleh budaya Tionghoa, lanjutnya.

Sedang dalam penelusuran saya sendiri tentang arsip-arsip hukum, yaitu tentang bagaimana kebijakan zaman Belanda, kemudian kebijakan zaman Sukarno, selanjutnya zaman Suharto, dan sesudahnya, apa yang memberatkan  dan mendiskriminasikan mereka itu juga saya teliti.

Selain itu dengan konferensi ini kita juga bisa mengetahui ada kekayaan Indonesia yang lebih, artinya kekayaan di Indonesia itu ‘tidak dibangun’ hanya oleh yang asli saja tetapi secara DNA ternyata sudah bercampur, tegasnya.

Dalam kegiatan rutin yang bersifat tahunan ini, diselenggarakan secara bergantian oleh delapan universitas yang mengembangkan Studi Cina yakni   Univesitas Kristen Petra,   Universitas Kristen Maranatha, Universitas Tarumanagara, Xiamen University (RRT), Rikkyo University (Jepang), University of Malaya (Malaysia), Universitas Indonesia dan Unika Soegijapranata. (fas)

Kategori: ,