Bangunan Kuno Bisa Memberi Citra Kota yang Baru
Senin, 11 November 2019 | 16:20 WIB

image

Bangunan kuno peninggalan masa kolonial di Kota Semarang dinilai bisa menjadi citra kota yang baru. Tentu saja, bangunan itu harus terlebih dulu dilestarikan dan dimanfaatkan sehingga bernilai ekonomi.

Hal itu diungkapkan peneliti Unika Soegijapranata yang diketuai Dr Ir Antonius Ardiyanto MT pada focus group discussion (FGD) dengan tema Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Kolonial Belanda Untuk Usaha Mandiri Di Kota Semarang, baru-baru ini.

“Kami berharap hasil penelitian ini dapat membuat model pelestarian pada bangunan kolonial yang melibatkan masyarakat terkait dengan pengalihfungsian bangunan kolonial yang tadi tidak berfungi, tidak terawat, dan mangkrak hingga akhirnya menjadi bangunan yang bernilai ekonomi dan menjadi cafe, restoran, art galery dan sebagainya, yang sebenarnya saat ini digemari oleh masyarakat sekarang,” ujarnya.

Meski begitu, dia mengakui bila realisasi hal tersebut memiliki tantangan.“Tantangannya lebih pada bagaimana bangunan kuno yang sudah lama tidak berfungsi, bisa difungsikan kembali dan memiliki nilai ekonomi, ada pelibatan tenaga kerja dan memberikan citra kota baru, artinya kawasan yang tadinya kota mati dengan kegiatan usaha menjadi hidup kembali. Contohnya seperti di Jonas Photo dan Giggle Box cafe dan resto, yang memiliki parkir yang luas sehingga memberi citra baru di kawasan Candi, tambahnya.

Ardiyanto mengungkapkan, penelitiannya sudah berlangsung selama tiga tahun dan didanai oleh Kemenristek Dikti, dalam skema Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (TPUPT). Acara tersebut banyak mengupas tentang pelestarian dan pemanfaatan bangunan kolonial Belanda di kota Semarang.

Hadir dalam kegiatan itu Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata YB Dwi Setianto ST MCs, perwakilan Dinas Perdagangan, para dosen, praktisi dan pengelola cafe atau resto yang menggunakan bangunan lama atau cagar budaya.Dwi Setianto berharap penelitian yang dihasilkan di Unika itu sedapat mungkin produknya bisa dipakai di masyarakat. Termasuk penelitian oleh Ardiyanto dan tim. Pihaknya berharap hasil penelitian tersebut jadi masukan bagi Pemerintah Kota dalam memanfaatkan bangunan-bangunan yang bersejarah atau cagar budaya di kota Semarang, sehingga perawatannya bisa menghasilkan income juga bagi yang punya.

Ardiyanto pada acara di Restoran Rosti, Rabu (6/11) juga mengungkapkan, tim peneliti Unika terdiri dari empat orang. Selain dia, peneliti yang lain yakni Drs Hudi Prawoto MM Akt, Dr Ir Rudyanto Soesilo MSA , serta Valentinus Suroto SH MHum dan dibantu oleh Drs Pius Heru Priyanto MSi dalam analisis dan sebagian teori.

https://semaranginside.com/bangunan-kuno-bisa-memberi-citra-kota-yang-baru/

Kategori: